KHM 96 - De drei Vügelkens (Tiga Burung Kecil)

 

Tiga Burung Kecil

Sekitar seribu tahun yang lalu atau lebih, negeri ini dipenuhi oleh raja-raja kecil. Salah satu dari mereka tinggal di Keuterberg, dan ia sangat gemar berburu.

Pada suatu hari, ketika ia sedang keluar dari kastilnya dengan para pemburu, tiga gadis sedang menjaga sapi-sapi mereka di atas gunung. Ketika mereka melihat sang Raja dengan seluruh pengiringnya, gadis tertua menunjuk kepadanya dan berseru kepada kedua adiknya, “Jika aku tidak mendapatkan yang itu, aku tidak akan mau siapa pun juga.”

Lalu gadis kedua menjawab dari sisi bukit yang lain, sambil menunjuk ke salah satu pengiring di sisi kanan Raja, “Hilloa! Hilloa! Jika aku tidak mendapatkan dia, aku tidak akan mau siapa pun juga.”

Namun yang ditunjuk itu adalah dua menteri.

Raja mendengar semua itu, dan ketika ia pulang dari perburuannya, ia memerintahkan agar ketiga gadis itu dibawa ke hadapannya, dan menanyai mereka tentang apa yang telah mereka ucapkan kemarin di atas gunung.

Mereka tidak mau memberitahunya, maka Raja bertanya kepada gadis tertua apakah ia sungguh-sungguh mau menjadikannya suami.

Maka ia menjawab, “Ya.”

Dan kedua menteri pun menikahi dua saudari yang lain, sebab mereka bertiga sama-sama cantik jelita, terutama Sang Ratu, yang rambutnya seindah rami emas.

Namun kedua saudari itu tidak mempunyai anak, dan suatu ketika Raja harus pergi jauh dari rumah. Ia pun mengundang mereka untuk datang menemani Sang Ratu agar menghiburnya, sebab ia sedang menantikan kelahiran seorang anak.

Sang Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki, yang membawa serta sebuah bintang merah terang ke dunia.

Maka kedua saudari itu berkata satu sama lain bahwa mereka akan membuang bayi tampan itu ke dalam air. Dan setelah mereka melemparkannya ke sana (aku percaya itu ke dalam sungai Weser), seekor burung kecil terbang ke udara dan bernyanyi,
“Menuju ajalmu kau melayang,
Hingga firman Tuhan datang.
Dalam kelopak bunga lili putih,
Anak gagah, di situlah rumahmu.”

Ketika keduanya mendengar itu, mereka sangat ketakutan dan lari terbirit-birit.

Ketika Raja pulang, mereka mengatakan kepadanya bahwa Sang Ratu telah melahirkan seekor anjing. Maka Raja berkata, “Apa yang Tuhan lakukan, baiklah adanya!”

Tetapi seorang nelayan yang tinggal di dekat sungai itu memancing bayi kecil itu kembali ketika ia masih hidup, dan karena istrinya tidak mempunyai anak, mereka pun membesarkannya.

Setelah setahun berlalu, Raja kembali pergi, dan Sang Ratu melahirkan seorang bayi laki-laki lagi, yang juga diambil oleh saudari-saudarinya yang palsu itu dan dilemparkan ke dalam air.

Lalu seekor burung kecil kembali terbang ke udara dan bernyanyi,
“Menuju ajalmu kau melayang,
Hingga firman Tuhan datang.
Dalam kelopak bunga lili putih,
Anak gagah, di situlah rumahmu.”

Dan ketika Raja kembali, mereka berkata kepadanya bahwa Sang Ratu sekali lagi telah melahirkan seekor anjing. Maka ia pun berkata, “Apa yang Tuhan lakukan, baiklah adanya.”

Namun nelayan itu kembali memancing bayi itu keluar dari air, dan membesarkannya.

Kemudian Raja kembali bepergian, dan Sang Ratu melahirkan seorang bayi perempuan, yang juga diambil oleh saudari-saudarinya yang palsu lalu dilemparkan ke dalam air.

Maka sekali lagi seekor burung kecil terbang tinggi ke angkasa dan bernyanyi,
“Menuju ajalmu kau melayang,
Hingga firman Tuhan datang.
Dalam kelopak bunga lili putih,
Gadis jelita, di situlah rumahmu.”

Dan ketika Raja pulang, mereka memberitahunya bahwa Sang Ratu telah melahirkan seekor kucing.

Maka Raja menjadi murka, dan memerintahkan agar istrinya dijebloskan ke dalam penjara, dan di sanalah ia dikurung selama bertahun-tahun lamanya.

Sementara itu, anak-anak itu telah tumbuh besar. Suatu hari, si sulung pergi bersama beberapa anak laki-laki lain untuk memancing, tetapi mereka menolaknya dan berkata, “Pergilah, anak buangan.”

Maka hatinya pun sangat sedih, dan ia bertanya kepada nelayan tua apakah itu benar adanya.
Nelayan itu pun menceritakan kepadanya bahwa dahulu, ketika ia sedang memancing, ia menemukan dirinya diangkat dari dalam air.

Maka anak laki-laki itu berkata bahwa ia akan pergi mencari ayahnya. Nelayan berusaha membujuknya agar tetap tinggal, tetapi ia tidak mau dicegah, hingga akhirnya nelayan itu pun mengalah.

Maka anak itu pun berangkat, berjalan selama berhari-hari, hingga akhirnya ia sampai di sebuah perairan luas, di tepinya ada seorang perempuan tua yang sedang memancing.

“Selamat siang, Nyonya,” sapa si anak.

“Terima kasih banyak,” jawabnya.

“Engkau akan memancing lama sekali sebelum menangkap sesuatu.”

“Dan engkau akan mencari lama sekali sebelum menemukan ayahmu. Bagaimana engkau akan menyeberangi air ini?” tanya perempuan tua itu.

“Hanya Tuhan yang tahu,” jawab si anak.

Maka perempuan tua itu mengangkatnya ke punggungnya dan membawanya menyeberangi air tersebut, lalu ia pun terus mencari, namun tak juga berhasil menemukan ayahnya.

Setelah setahun berlalu, anak laki-laki yang kedua pun berangkat mencari kakaknya. Ia sampai di tepi air, dan nasibnya terjadi persis sama seperti yang dialami kakaknya.

Kini, tinggal sang putri seorang diri di rumah, dan ia begitu merindukan saudara-saudaranya hingga akhirnya ia pun memohon kepada nelayan agar diizinkan pergi, sebab ia ingin mencari mereka.

Maka ia pun sampai di perairan luas yang sama, dan berkata kepada perempuan tua itu, “Selamat siang, Nyonya.”

“Terima kasih banyak,” jawab perempuan tua itu.

“Semoga Tuhan menolong Nyonya dengan pancinganmu,” kata si gadis.

Mendengar itu, hati perempuan tua menjadi begitu ramah, lalu ia menggendong si gadis menyeberangi air, memberinya sebuah tongkat, dan berkata kepadanya:
“Pergilah, anakku, teruslah menapaki jalan ini. Dan ketika engkau tiba di hadapan seekor anjing hitam besar, engkau harus melewatinya dengan diam dan berani, tanpa tertawa ataupun menoleh kepadanya. Lalu engkau akan sampai di sebuah istana tinggi yang megah, dan di ambang pintunya engkau harus menjatuhkan tongkat itu, lalu berjalanlah lurus melewati istana dan keluar lagi di sisi lain.

Di sanalah engkau akan melihat sebuah mata air tua, dari mana tumbuh sebuah pohon besar, dan pada pohon itu tergantung seekor burung di dalam sangkar, yang harus engkau turunkan. Ambillah juga segelas air dari mata air itu, dan dengan kedua benda itu kembalilah menyusuri jalan yang sama.

Ambil kembali tongkatmu dari ambang pintu, dan bawalah bersamamu. Dan ketika engkau lewat lagi di hadapan anjing itu, pukullah wajahnya dengan tongkat itu. Tapi berhati-hatilah agar pukulanmu tepat mengenainya. Setelah itu, kembalilah kepadaku.”

Sang gadis menemukan segala sesuatu persis seperti yang dikatakan perempuan tua itu, dan dalam perjalanan pulangnya ia menjumpai kedua kakaknya yang telah saling mencari hingga setengah dunia lamanya.

Mereka pun berjalan bersama menuju tempat anjing hitam besar itu berbaring di jalan. Si gadis memukul wajahnya dengan tongkat, dan anjing itu berubah menjadi seorang pangeran tampan, yang lalu ikut berjalan bersama mereka menuju sungai.

Di sana, perempuan tua itu masih berdiri menunggu. Ia sangat bersukacita melihat mereka kembali, dan menggendong mereka semua menyeberangi air. Setelah itu ia pun pergi, sebab kini ia telah terbebas.

Sementara itu, ketiganya kembali ke rumah nelayan tua, dan semua orang berbahagia karena akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Namun mereka menggantungkan burung itu di dinding.

Namun putra kedua tidak betah tinggal di rumah. Ia mengambil busur panahnya dan pergi berburu. Ketika ia lelah, ia meniup serulingnya dan memainkan musik.

Raja pun sedang berburu, dan ketika mendengar alunan itu, ia datang menghampiri, dan saat bertemu dengan pemuda itu, ia berkata, “Siapa yang memberimu izin untuk berburu di sini?”

“Oh, tidak ada,” jawabnya.

“Kalau begitu, kau milik siapa?”

“Aku anak nelayan.”

“Tapi nelayan itu tidak punya anak.”

“Jika paduka tidak percaya, ikutlah bersamaku.”

Raja pun menuruti, dan menanyai si nelayan, yang menceritakan segalanya kepadanya.
Dan burung kecil di dinding mulai bernyanyi,
“Ibunda duduk seorang diri
Dalam penjara nan sempit sunyi.
Wahai Raja berdarah murni,
Inilah putra-putrimu sejati.
Dua saudari yang palsu durjana,
Merekalah yang membawa nestapa,
Melemparkan anak-anak ke dalam samudra,
Di mana para nelayan datang dan pergi..”

Mereka semua pun diliputi ketakutan, dan Raja membawa burung itu, nelayan, serta ketiga anaknya kembali bersamanya ke istana.

Ia memerintahkan agar pintu penjara dibuka dan mengeluarkan istrinya kembali. Namun, Sang Ratu telah menjadi amat lemah dan sakit. Maka putrinya memberinya minum sedikit air dari mata air itu, dan seketika ia kembali kuat dan sehat.

Tetapi kedua saudari yang palsu itu dibakar, dan sang putri menikah dengan pangeran.

Komentar