KHM 81 - Bruder Lustig (Saudara Jenaka)

 

Saudara Jenaka

Pada suatu masa, pecahlah sebuah perang besar. Dan ketika perang itu usai, banyak prajurit dipulangkan. Demikian pula Saudara Jenaka menerima pemecatannya; selain itu, ia tak mendapat apa pun kecuali kecuali sepotong kecil roti jatah militer, serta empat kreuzer uang logam.. Dengan bekal itulah ia berangkat.

Namun Santo Petrus telah lebih dahulu menempatkan dirinya di jalan, menyamar sebagai seorang pengemis miskin. Ketika Saudara Jenaka lewat, ia memohon sedekah kepadanya. Maka Saudara Jenaka menjawab, "Wahai pengemis malang, apa yang dapat kuberikan kepadamu? Aku baru saja dipulangkan sebagai serdadu, dan hanya menerima roti militer ini serta empat kreuzer uang. Jika itu habis, aku pun harus mengemis seperti dirimu. Namun tetap akan kuberikan sesuatu."

Maka ia membagi roti itu menjadi empat bagian, dan memberinya satu potong, bersama satu kreuzer.

Santo Petrus mengucapkan terima kasih, melanjutkan langkahnya, lalu sekali lagi menghadang si prajurit di jalan dengan rupa yang berbeda. Ketika Saudara Jenaka lewat, ia kembali meminta sedekah darinya. Saudara Jenaka mengulang jawaban yang sama, dan sekali lagi memberinya seperempat roti dan satu kreuzer.

Santo Petrus berterima kasih, berjalan lagi, dan untuk ketiga kalinya menghadang di jalan, dengan wujud seorang pengemis lain, dan berkata kepada Saudara Jenaka. Maka Saudara Jenaka memberinya pula seperempat roti yang ketiga dan satu kreuzer lagi.

Santo Petrus mengucapkan terima kasih, dan Saudara Jenaka berjalan terus, dengan sisa hanya seperempat roti dan satu kreuzer. Dengan itu ia masuk ke sebuah penginapan, memakan rotinya, dan memesan segelas bir seharga satu kreuzer. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, Santo Petrus, yang kini menyamar sebagai seorang prajurit yang juga baru dipulangkan, menemuinya dan berkata, "Selamat siang, kawan seperjuangan. Tak bisakah engkau memberiku sedikit roti dan satu kreuzer untuk membeli minuman?"

"Dari mana harus kuperoleh?" jawab Saudara Jenaka. "Aku juga baru dipulangkan. Aku hanya diberi sepotong roti militer dan empat kreuzer. Dalam perjalanan aku bertemu tiga pengemis, dan kuberikan masing-masing seperempat rotiku dan satu kreuzer. Sisa terakhirnya kumakan di penginapan, bersama segelas bir seharga satu kreuzer. Kini sakuku kosong. Jika engkau pun tak punya apa-apa, kita hanya bisa mengemis bersama."

"Tidak," jawab Santo Petrus, "kita tak perlu sampai begitu. Aku tahu sedikit tentang ilmu pengobatan, dan dengan itu aku akan segera memperoleh penghasilan yang cukup."

"Benarkah?" kata Saudara Jenaka. "Aku sama sekali tak mengerti soal itu. Jadi aku hanya bisa mengemis sendirian."

"Ikutlah bersamaku," kata Santo Petrus, "dan jika aku mendapatkan sesuatu, engkau akan menerima separuhnya."

"Baiklah," kata Saudara Jenaka. Maka mereka pun berjalan bersama.

Dengan itu, ia masuk ke sebuah penginapan, memakan roti, dan memesan segelas bir seharga satu kreuzer. Setelah menikmatinya, ia melanjutkan perjalanan.

Kemudian tibalah mereka di sebuah rumah petani, dan dari dalam terdengar ratapan serta tangis yang keras. Mereka pun masuk, dan di sana sang suami terbaring sakit parah, hampir meregang nyawa, sementara istrinya menangis dan meratap dengan suara lantang.

"Sudahlah hentikan jeritan dan tangisan itu," kata Santo Petrus. "Aku akan menyembuhkan lelaki ini." Maka ia mengeluarkan sebuah salep dari sakunya, dan dalam sekejap ia menyembuhkan si sakit, hingga lelaki itu dapat bangkit berdiri dan tubuhnya kembali sehat sempurna.

Dengan sukacita besar, suami istri itu berkata, "Bagaimana kami dapat membalas jasamu? Apa yang harus kami berikan kepadamu?"

Namun Santo Petrus tidak mau menerima apa pun. Semakin keras keluarga petani itu memohon, semakin ia menolak. Saudara Jenaka, yang berdiri di sampingnya, lalu menyikut Santo Petrus sambil berbisik, "Ambillah sesuatu; sungguh kita sangat membutuhkannya."

Akhirnya sang istri membawa seekor anak domba, dan memohon agar Santo Petrus mau menerimanya. Tetapi ia tetap menolak. Maka Saudara Jenaka menyodok pinggangnya dengan kasar dan berkata, "Terimalah, kau bodoh sekali; kita ini sedang sangat membutuhkan!"

Akhirnya Santo Petrus pun berkata, "Baiklah, akan kuambil anak domba ini, tapi aku tidak akan membawanya. Jika engkau memang bersikeras ingin memilikinya, engkaulah yang harus membawanya."

"Itu bukan masalah," jawab Saudara Jenaka. "Aku bisa membawanya dengan mudah." Lalu ia pun memikul anak domba itu di pundaknya.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah hutan. Saudara Jenaka mulai merasa anak domba itu berat, dan perutnya juga terasa lapar. Maka ia berkata kepada Santo Petrus, "Lihat, itu tempat yang bagus. Kita bisa memasak anak domba ini di sana, lalu memakannya."

"Sesukamu," jawab Santo Petrus. "Tetapi aku tak mau ikut campur dalam urusan memasak. Jika engkau ingin memasak, ini ada panci untukmu. Sementara itu aku akan berjalan-jalan sebentar hingga masakan siap. Namun, kau tak boleh mulai makan sebelum aku kembali. Aku akan datang tepat pada waktunya."

"Baiklah, pergilah," kata Saudara Jenaka. "Aku tahu cara memasak, serahkan saja padaku."

Maka Santo Petrus pun pergi. Saudara Jenaka menyembelih anak domba itu, menyalakan api, memasukkan daging ke dalam panci, lalu merebusnya.

Daging anak domba pun matang, namun Santo Petrus belum juga kembali. Saudara Jenaka lalu mengangkat daging itu dari panci, memotongnya, dan menemukan bagian jantung.
"Katanya, ini bagian yang paling lezat," ujarnya. Ia mencicipinya, dan akhirnya memakan semuanya sampai habis.

Tak lama kemudian Santo Petrus kembali dan berkata, "Kau boleh makan seluruh anak domba itu sendiri. Aku hanya menginginkan jantungnya, berikan padaku."

Saudara Jenaka pun mengambil pisau dan garpu, lalu berpura-pura mencari-cari dengan cemas di antara potongan daging domba, seakan-akan ia tidak bisa menemukan jantungnya. Hingga akhirnya ia berkata dengan tiba-tiba, "Tidak ada di sini."

"Namun di manakah bisa hilang?" tanya Santo Petrus.

"Aku tidak tahu," jawab Saudara Jenaka. "Tapi pikirkanlah, betapa bodohnya kita berdua, mencari-cari jantung anak domba, padahal tak seorang pun dari kita teringat bahwa anak domba itu memang tak punya jantung!"

"Oh," kata Santo Petrus, "itu hal baru bagiku! Semua hewan pasti punya jantung, mengapa anak domba tidak?"

"Tidak, yakinlah, saudaraku," kata Saudara Jenaka. "Anak domba memang tidak punya jantung; renungkanlah dengan sungguh-sungguh, maka kau akan sadar bahwa memang demikian adanya."

"Baiklah, kalau begitu," kata Santo Petrus, "jika tidak ada jantung, aku pun tak ingin bagian apa pun dari anak domba itu. Engkau boleh memakannya seorang diri."

"Apa yang tak sanggup kumakan sekarang, akan kubawa dalam ranselku," kata Saudara Jenaka. Ia pun memakan separuh daging anak domba itu, dan memasukkan sisanya ke dalam ranselnya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga Santo Petrus membuat sebuah arus sungai yang deras melintang di hadapan mereka, sehingga keduanya terpaksa harus menyeberanginya.

Kata Santo Petrus, "Pergilah engkau lebih dahulu."

"Tidak," jawab Saudara Jenaka, "kau yang harus berjalan duluan." Dalam hatinya ia berpikir, "Kalau air ini terlalu dalam, lebih baik aku tetap di belakang."

Maka Santo Petrus melangkah ke dalam air, dan sungai itu hanya mencapai lututnya. Saudara Jenaka pun ikut masuk, tetapi air itu makin lama makin tinggi, hingga mencapai tenggorokannya.

Lalu ia berteriak, "Saudaraku, tolong aku!"

Santo Petrus menjawab, "Kalau begitu, maukah engkau mengaku bahwa kaulah yang telah memakan jantung domba itu?"

"Tidak," seru Saudara Jenaka, "aku tidak memakannya."

Air itu pun naik lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi mulutnya. Maka ia berteriak, "Tolong aku, saudaraku!"

Santo Petrus berkata, "Maukah engkau mengaku bahwa kaulah yang memakan jantung domba itu?"

Tetapi ia tetap membantah, "Tidak, aku tidak memakannya."

Namun Santo Petrus tidak sampai hati membiarkannya tenggelam. Ia pun membuat air itu surut, dan menolongnya hingga keduanya selamat sampai di seberang.

Mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga tibalah di sebuah kerajaan, di mana mereka mendengar kabar bahwa putri raja sedang sakit keras, hampir meninggal dunia.

"Hai, saudaraku!" seru si prajurit kepada Santo Petrus, "ini kesempatan baik untuk kita. Kalau kita dapat menyembuhkannya, hidup kita akan terjamin selamanya!"

Tetapi Santo Petrus tak secepat dirinya. "Ayo, percepat langkahmu, saudaraku," desak Saudara Jenaka, "supaya kita tiba tepat pada waktunya."

Namun Santo Petrus berjalan semakin lambat, meski Saudara Jenaka sudah mendorong-dorongnya. Akhirnya terdengarlah kabar bahwa sang putri sudah wafat.

"Sekarang tamatlah kita!" gerutu Saudara Jenaka. "Semua ini gara-gara langkahmu yang lamban itu!"

"Tenanglah saja," jawab Santo Petrus. "Aku mampu melakukan lebih dari sekadar menyembuhkan orang sakit; aku bisa membangkitkan orang mati."

"Kalau begitu, baiklah," kata Saudara Jenaka. "Tapi kau harus pastikan kita mendapat setidaknya separuh kerajaan sebagai imbalan."

Maka pergilah mereka ke istana. Di sana semua orang sedang berduka, tetapi Santo Petrus berkata kepada sang raja bahwa ia akan membangkitkan putrinya. Raja pun membawanya masuk, dan Santo Petrus berkata, "Bawakan aku sebuah kuali dan air."

Setelah itu disiapkan, ia memerintahkan semua orang keluar, hanya Saudara Jenaka yang boleh tinggal bersamanya. Maka ia memotong-motong anggota tubuh sang putri, memasukkannya ke dalam air, menyalakan api di bawah periuk, dan merebusnya.

Ketika daging telah terlepas dari tulang-tulangnya, Santo Petrus mengangkat tulang-tulang putih nan indah itu, meletakkannya di atas meja, dan menyusunnya kembali sesuai bentuk aslinya.

Setelah selesai, ia melangkah maju dan berkata tiga kali, "Demi nama Tritunggal Mahakudus, bangkitlah, wahai yang mati."

Dan pada ucapannya yang ketiga, sang putri pun bangkit, hidup kembali, sehat, dan cantik jelita.

Sang raja pun dipenuhi sukacita yang besar, dan berkata kepada Santo Petrus, "Mintalah upahmu; sekalipun engkau minta setengah kerajaanku, akan kuberikan kepadamu."

Namun Santo Petrus berkata, "Aku tidak menginginkan apa pun."

"Oh, dasar bodoh!" pikir Saudara Jenaka dalam hati. Ia menyikut rekannya dan berbisik, "Jangan tolol begitu! Kalau kau tak butuh apa-apa, aku butuh!"

Tetapi Santo Petrus tetap menolak. Melihat bahwa Saudara Jenaka tampak sangat menginginkan sesuatu, sang raja lalu memerintahkan bendaharanya untuk memenuhi ransel Saudara Jenaka dengan emas.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, dan ketika tiba di sebuah hutan, Santo Petrus berkata kepada Saudara Jenaka, "Sekarang kita akan membagi emas ini."

"Ya, tentu," jawab Saudara Jenaka, "ayo kita bagi."

Maka Santo Petrus pun membagi emas itu menjadi tiga tumpukan. Saudara Jenaka berpikir dalam hati, "Aneh sekali, apa maksudnya? Hanya ada dua orang di sini, tapi ia membuat tiga bagian?"

Namun Santo Petrus berkata, "Aku telah membaginya dengan adil: satu untukku, satu untukmu, dan satu lagi untuk orang yang memakan jantung anak domba itu."

"Aku yang memakannya!" seru Saudara Jenaka cepat-cepat, lalu ia pun menyapu bersih tumpukan emas itu. "Kau bisa percaya padaku."

"Tapi bagaimana mungkin itu benar," kata Santo Petrus tenang, "sedangkan anak domba sama sekali tidak punya jantung?"

"Hei, saudara! Apa yang kau pikirkan? Anak domba juga punya jantung, sama seperti semua hewan lainnya. Mengapa hanya mereka yang tidak punya?"

"Kalau begitu, biarlah," kata Santo Petrus, "emas itu boleh kau bawa sendiri. Namun aku tidak mau lagi menyertaimu; mulai sekarang aku akan berjalan seorang diri."

"Sesukamu, saudaraku," jawab Saudara Jenaka. "Selamat tinggal."

Maka Santo Petrus pun mengambil jalan lain, sementara Saudara Jenaka berpikir, "Bagus juga dia pergi, orang suci itu memang aneh sekali."

Kini ia memiliki uang berlimpah, tetapi tak tahu cara mengelolanya. Ia hambur-hamburkan, ia berikan begitu saja, hingga setelah beberapa waktu berlalu, ia kembali tidak punya apa-apa.

Kemudian tibalah ia di sebuah negeri, di mana terdengar kabar bahwa putri raja telah meninggal

.

"Oh-ho!" pikirnya, "ini bisa jadi keberuntungan bagiku; aku akan membangkitkannya kembali, dan pastilah aku akan menerima upah yang pantas."

Maka pergilah ia menghadap sang raja, dan menawarkan diri untuk membangkitkan sang putri. Kini raja telah mendengar bahwa ada seorang prajurit yang telah diberhentikan, berkelana ke mana-mana, dan mampu menghidupkan orang mati kembali; ia pun mengira bahwa Saudara Jenaka adalah orang itu. Namun karena tidak begitu percaya kepadanya, ia terlebih dahulu meminta nasihat para penasihat kerajaan, yang berkata bahwa tak ada salahnya mencoba, sebab sang putri toh sudah wafat.

Maka Saudara Jenaka meminta air dalam sebuah kuali, lalu menyuruh semua orang keluar. Ia memotong-motong tubuh putri itu, melemparkannya ke dalam air, lalu menyalakan api di bawah kuali, persis seperti yang dahulu ia lihat dilakukan Santo Petrus.

Air pun mendidih, daging terlepas dari tulang, dan ia pun mengangkat tulang-tulang itu, meletakkannya di atas meja. Namun ia tidak tahu bagaimana menata urutannya, dan menyusunnya secara kacau.

Kemudian ia berdiri di hadapan tumpukan itu dan berseru, "Demi nama Tritunggal Mahakudus, bangkitlah, hai gadis yang mati!" Ucapannya diulanginya tiga kali, namun tulang-tulang itu tak juga bergerak. Ia pun mengucapkannya tiga kali lagi, tetap sia-sia.

"Dasar gadis keras kepala, bangkitlah! Atau akan lebih buruk bagimu!" serunya marah.

Baru saja kata-kata itu terucap, mendadak Santo Petrus muncul kembali dalam rupa seorang prajurit yang telah diberhentikan. Ia masuk melalui jendela, dan berkata, "Manusia durhaka! Apa yang sedang kau perbuat? Bagaimana mungkin gadis itu bangkit, bila tulang-tulangnya kau susun serampangan seperti itu?"

"Saudaraku yang baik, aku sudah berusaha sekuat kemampuanku," jawab Saudara Jenaka.

"Baiklah, untuk kali ini aku akan menolongmu keluar dari kesulitanmu," kata Santo Petrus, "tetapi aku beritahu engkau satu hal: bila sekali lagi kau mencoba perbuatan semacam ini, kau akan celaka. Dan ingat juga, bahwa kau tidak boleh meminta ataupun menerima hadiah sekecil apa pun dari sang raja untuk hal ini!"

Maka Santo Petrus menyusun tulang-tulang itu dengan benar, lalu berseru tiga kali, "Demi nama Tritunggal Mahakudus, bangkitlah, hai gadis yang mati!"

Dan pada seruan yang ketiga, putri itu pun hidup kembali, sehat dan secantik sediakala.

Kemudian Santo Petrus pergi lagi melalui jendela, dan Saudara Jenaka merasa lega karena semua berjalan baik. Namun ia sangat jengkel karena ternyata tidak boleh menerima apa pun sebagai imbalan.

"Aku ingin tahu," pikirnya, "apa yang ada di kepala orang itu. Dengan satu tangan ia memberi, tapi dengan tangan lain ia merampas kembali. Sama sekali tak masuk akal!"

Lalu sang raja menawarkan kepada Saudara Jenaka apa pun yang ia kehendaki, namun ia tak berani menerimanya secara langsung. Dengan siasat dan kelicikan, akhirnya ia membuat sang raja memerintahkan agar ranselnya diisi penuh dengan emas. Maka berangkatlah ia dengan harta itu.

Saat ia keluar dari istana, Santo Petrus sudah berdiri menantinya di pintu, dan berkata,

"Lihatlah dirimu itu! Bukankah sudah kuperingatkan agar tidak menerima apa pun? Dan kini, ranselmu penuh dengan emas!"

"Apa boleh buat," jawab Saudara Jenaka, "jika orang-orang sendiri yang memasukkannya ke dalam ranselku?"

"Baiklah," kata Santo Petrus, "tetapi kuperingatkan engkau sekali lagi: bila engkau mencoba perbuatan semacam ini lagi, celakalah engkau nantinya!"

"Ah, saudaraku," jawab Saudara Jenaka, "jangan khawatir. Kini aku sudah punya uang; untuk apa aku harus repot-repot lagi mengurus tulang-belulang?"

"Imanmu itu kecil sekali," kata Santo Petrus. "Kau kira emasmu akan bertahan lama? Dengarlah: supaya setelah ini engkau tak lagi menempuh jalan terlarang, aku akan menganugerahkan pada ranselmu kekuatan ajaib ini: apa pun yang kau inginkan berada di dalamnya, maka seketika itu juga akan ada di sana. Selamat tinggal, sebab setelah ini engkau takkan pernah melihatku lagi."

"Selamat jalan," jawab Saudara Jenaka, sambil berkata dalam hati, "Syukurlah ia sudah pergi; sungguh orang aneh! Aku tentu tak akan mengikutinya lagi."

Namun, tentang kuasa ajaib yang baru saja dianugerahkan pada ranselnya, ia sama sekali tak memikirkannya lagi.

Saudara Jenaka berkelana ke berbagai tempat dengan membawa uangnya, dan memboroskan serta menghambur-hamburkannya seperti sebelumnya. Hingga akhirnya, ketika ia hanya menyisakan empat kreuzer, ia melewati sebuah penginapan dan berpikir, "Uang ini harus habis." Maka ia memesan anggur seharga tiga kreuzer dan sepotong roti seharga satu kreuzer untuk dirinya sendiri.

Ketika ia duduk minum, semerbak harum angsa panggang tercium oleh hidungnya. Saudara Jenaka menoleh ke sekeliling dan mengintip, lalu melihat bahwa sang tuan rumah memiliki dua ekor angsa yang sedang dipanggang di dalam tungku. Seketika ia teringat pada perkataan sahabatnya dahulu, bahwa apa pun yang ia inginkan berada di dalam ranselnya, pasti akan ada di sana. Maka ia berkata, "Oh, ho! Aku harus mencobanya dengan angsa-angsa itu."

Ia pun keluar, dan begitu berada di luar pintu, ia berkata, "Aku berharap kedua angsa panggang itu keluar dari tungku dan masuk ke dalam ranselku." Dan setelah ia mengucapkannya, ia membuka ikatan ranselnya dan mengintip ke dalamnya, sungguh, di sanalah kedua angsa itu berada. "Ah, benar sekali!" katanya gembira. "Sekarang aku menjadi orang yang beruntung!"

Ia lalu pergi ke sebuah padang rumput dan mengeluarkan daging panggang itu. Ketika ia sedang asyik makan, datanglah dua orang pengembara muda yang menatap angsa kedua, yang belum tersentuh, dengan mata kelaparan. Saudara Jenaka berpikir dalam hati, "Satu ekor cukup bagiku," lalu ia memanggil kedua orang itu dan berkata, "Ambillah angsa ini, dan makanlah demi kesehatanku."

Mereka berterima kasih kepadanya, lalu membawa angsa itu ke penginapan, memesan setengah botol anggur dan sepotong roti, mengeluarkan angsa yang telah diberikan kepada mereka, dan mulai makan. Istri tuan rumah melihat mereka, lalu berkata kepada suaminya, "Kedua orang itu sedang makan angsa; coba lihat apakah itu bukan salah satu dari angsa kita di dalam tungku."

Pemilik penginapan pun bergegas, dan ternyata benar, tungku itu telah kosong! "Apa!" serunya, "dasar pencuri hina, kalian ingin makan angsa semurah itu? Bayarlah sekarang juga, atau akan kuhajar kalian dengan getah hazel hijau!"

Kedua orang itu berkata, "Kami bukan pencuri, seorang prajurit yang telah diberhentikan memberi kami angsa itu, di luar sana, di padang rumput."

"Jangan coba-coba menabur debu ke mataku seperti itu! Prajurit itu memang ada di sini, tapi ia keluar lewat pintu, seperti seorang yang jujur. Aku sendiri yang melihatnya. Kalianlah pencuri itu, dan kalian harus membayar!"

Namun karena mereka tidak dapat membayar, ia mengambil tongkat, dan mengusir mereka dari rumah itu dengan pukulan.

Saudara Jenaka melanjutkan perjalanannya dan tiba di suatu tempat di mana berdiri sebuah istana yang megah, dan tidak jauh darinya terdapat sebuah penginapan reyot. Ia masuk ke penginapan itu dan meminta tempat bermalam, tetapi pemilik penginapan menolaknya, katanya,

"Tidak ada kamar tersisa di sini, rumah ini sudah penuh oleh tamu-tamu bangsawan."

"Aku heran," jawab Saudara Jenaka, "mengapa mereka datang kepadamu, dan tidak pergi ke istana megah itu?"

"Ah, memang begitu," sahut pemilik penginapan, "tetapi bukan perkara sepele tidur semalam di sana; sejauh ini, tak seorang pun yang mencobanya berhasil keluar hidup-hidup."

"Kalau orang lain sudah mencobanya," kata Saudara Jenaka, "maka aku pun akan mencobanya."

"Tinggalkan saja niat itu," kata pemilik penginapan, "itu bisa mengorbankan nyawamu."

"Tidak akan membunuhku seketika," kata Saudara Jenaka, "beri saja aku kunci itu, juga makanan enak dan anggur."

Maka pemilik penginapan memberikan kunci, juga makanan dan anggur. Dengan itu Saudara Jenaka masuk ke dalam istana, menyantap makan malamnya dengan lahap, lalu akhirnya, karena mengantuk, ia berbaring di lantai, sebab tidak ada ranjang di sana.

Tak lama kemudian ia tertidur, tetapi di tengah malam ia terbangun oleh kegaduhan besar, dan ketika membuka mata, ia melihat sembilan iblis jelek ada di dalam ruangan, membuat lingkaran, dan menari-nari mengelilinginya.

Saudara Jenaka berkata, "Baiklah, menarilah sesuka hati kalian, asal jangan ada yang datang terlalu dekat."

Namun para iblis itu makin lama makin mendesaknya, hampir saja menginjak wajahnya dengan kaki mereka yang mengerikan.

"Berhenti, kalian hantu-hantu iblis," katanya, tetapi mereka malah bertingkah lebih buruk.

Maka marahlah Saudara Jenaka, dan ia berseru, "Hola! Aku akan segera membuat kalian diam!" Lalu ia meraih kaki kursi dan mengayunkannya ke tengah-tengah mereka.

Namun sembilan iblis melawan satu prajurit masih terlalu banyak; ketika ia menghantam yang ada di depannya, yang lain mencengkeram rambutnya dari belakang dan mencabutnya dengan kejam.

"Gerombolan iblis!" serunya, "ini sudah terlalu keterlaluan, tapi tunggu saja. Masuklah kalian semua ke dalam ranselku, kesembilan-kesembilannya!"

Sekejap mata mereka semua masuk, dan ia segera mengikat rapat ranselnya lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Setelah itu, segalanya hening seketika. Saudara Jenaka kembali berbaring, dan tidur hingga fajar menyingsing.

Keesokan paginya datanglah pemilik penginapan bersama bangsawan pemilik istana itu, untuk melihat bagaimana nasibnya. Namun ketika mereka mendapati ia segar dan ceria, mereka terheran-heran, lalu bertanya,

"Apakah roh-roh itu tidak mencelakaimu?"

"Alasan mengapa mereka tidak mencelakakanku," jawab Saudara Jenaka, "adalah karena kesembilan dari mereka kini sudah kuikat dalam ranselku! Kini engkau boleh menempati istanamu dengan tenang, tak satu pun dari mereka akan menghantuinya lagi."

Bangsawan itu pun berterima kasih kepadanya, memberinya hadiah yang berlimpah, dan memohon agar ia mau tinggal dalam pelayanannya, berjanji akan menjaganya seumur hidup.

"Tidak," jawab Saudara Jenaka, "aku sudah terbiasa berkelana, aku akan melanjutkan perjalananku."

Maka Saudara Jenaka pergi jauh dan masuk ke sebuah bengkel pandai besi. Ia meletakkan ransel yang berisi sembilan iblis itu di atas landasan, dan meminta si pandai besi serta para muridnya untuk memukulkannya.

Mereka pun mengayunkan palu besar sekuat tenaga, dan terdengarlah jeritan-jeritan iblis yang amat menyedihkan.

Ketika Saudara Jenaka membuka ranselnya setelah itu, delapan iblis telah mati, hanya satu yang masih hidup karena terjepit di lipatan ransel, lalu ia meloloskan diri dan kembali ke neraka.

Sesudah itu Saudara Jenaka berkelana lagi untuk waktu yang lama di seluruh dunia, dan orang-orang yang mengenalnya dapat menceritakan banyak kisah tentang dirinya.

Namun akhirnya ia menjadi tua, dan mulai memikirkan ajalnya. Maka pergilah ia kepada seorang pertapa yang terkenal saleh, dan berkata kepadanya,

"Aku lelah berkelana, dan kini aku ingin hidup dengan cara yang kelak membawaku masuk ke dalam kerajaan Surga."

Sang pertapa menjawab, "Ada dua jalan. Yang satu lebar dan menyenangkan, tetapi menuju ke neraka; yang satu lagi sempit dan terjal, tetapi menuju ke surga."

"Bodohlah aku," pikir Saudara Jenaka, "jika memilih jalan yang sempit dan kasar itu."

Maka ia pun menempuh jalan yang lebar dan menyenangkan, hingga akhirnya sampai pada sebuah pintu besar yang hitam legam, itulah pintu Neraka.

Saudara Jenaka mengetuk, dan penjaga pintu mengintip untuk melihat siapa yang datang. Tetapi ketika melihat Saudara Jenaka, ia ketakutan, sebab dialah iblis kesembilan yang dahulu terkurung dalam ransel, dan lolos dengan mata lebam.

Maka secepatnya ia mengunci pintu, berlari kepada letnan neraka, dan berkata, "Di luar ada seorang laki-laki dengan ransel, yang ingin masuk, tetapi demi nyawa kalian jangan biarkan dia! Kalau ia masuk, pasti ia akan menginginkan seluruh neraka masuk ke dalam ranselnya. Dulu ia sudah pernah menghajarku habis-habisan ketika aku terkurung di dalamnya."

Maka mereka semua berseru kepada Saudara Jenaka bahwa ia harus pergi, sebab ia tak boleh masuk ke sana.

"Kalau begitu, jika mereka tak mau menerimaku di sini," pikir Saudara Jenaka, "aku akan lihat apakah aku bisa mendapat tempat di surga, sebab bagaimanapun aku harus berada di suatu tempat."

Maka ia berbalik dan berjalan terus hingga tiba di pintu Surga, lalu mengetuk.

Santo Petrus sedang duduk di dekat situ sebagai penjaga pintu. Saudara Jenaka segera mengenalnya, dan berpikir, "Di sini aku bertemu seorang sahabat lama; urusanku akan lebih mudah."

Tetapi Santo Petrus berkata, "Aku sungguh percaya, engkau ingin masuk ke Surga."

"Bukalah pintu, saudaraku; aku harus berada di suatu tempat. Kalau saja mereka mau menerimaku di Neraka, aku takkan datang ke sini."

"Tidak," kata Santo Petrus, "engkau tidak boleh masuk."

"Kalau begitu, jika engkau tidak membiarkanku masuk, ambillah kembali ranselmu, sebab aku tak ingin membawa apa pun darimu."

"Berikan ke mari," kata Santo Petrus.

Maka Saudara Jenaka menyerahkan ransel itu ke Surga melalui jeruji pintu, dan Santo Petrus mengambilnya serta menggantungkannya di samping tempat duduknya.

Kemudian berkata Saudara Jenaka, "Dan sekarang aku menginginkan diriku berada di dalam ransel itu."

Sekejap kemudian ia sudah berada di dalamnya, dan berada di Surga, dan Santo Petrus pun terpaksa membiarkannya tinggal di sana.

Komentar