KHM 209 - Die himmlische Hochzeit (Pernikahan Surgawi)

 

Pernikahan Surgawi

Pernah ada seorang anak petani miskin yang suatu hari mendengar imam berkata di gereja:
"Siapa pun yang ingin masuk ke dalam kerajaan surga harus selalu berjalan lurus ke depan."

 

Maka pergilah ia, berjalan terus-menerus, lurus tanpa menyimpang, menyeberangi bukit dan lembah. Akhirnya, jalannya membawanya ke sebuah kota besar, tepat ke dalam sebuah gereja, di mana saat itu sedang berlangsung ibadat kepada Tuhan.

 

Ketika ia melihat segala kemegahan di dalamnya, ia menyangka dirinya telah sampai di surga. Maka ia duduk, dan hatinya pun dipenuhi sukacita.

 

Ketika kebaktian usai dan sang koster menyuruhnya keluar, ia menjawab, “Tidak, aku tidak akan keluar lagi. Aku bersukacita karena akhirnya telah berada di surga."

 

Koster itu pun pergi kepada imam dan berkata kepadanya bahwa ada seorang anak di gereja yang tidak mau keluar, sebab ia percaya dirinya sudah berada di kerajaan surga. Imam pun berkata, "Jika ia percaya demikian, biarkanlah ia tinggal."

 

Lalu ia mendekati anak itu dan bertanya apakah ia juga mau bekerja. "Ya," jawab si kecil, "aku sudah terbiasa bekerja, tetapi aku tidak akan keluar lagi dari surga."

 

Maka tinggallah ia di dalam gereja. Ketika ia melihat orang-orang datang, berlutut, dan berdoa kepada patung Bunda Maria dengan Kanak-kanak Yesus yang terbuat dari kayu, ia berpikir, “Itulah Tuhan yang baik.”

 

Ia berkata, "Duhai Tuhan yang terkasih, betapa kurus Engkau! Tentu saja orang-orang membiarkan-Mu kelaparan. Tetapi mulai sekarang, setiap hari akan kuberikan separuh dari makananku kepadamu."

 

Sejak saat itu, setiap hari ia membawa separuh makanannya kepada patung itu, dan patung tersebut mulai sungguh menerima makanan itu. Beberapa minggu kemudian, orang-orang memperhatikan bahwa patung itu tampak makin gemuk, kuat, dan sehat, dan mereka pun heran. Imam sendiri pun tak dapat memahaminya, lalu ia mengintai anak itu, dan dilihatnya bagaimana si kecil membagi rotinya dengan Bunda Maria dan bagaimana Bunda Maria menerimanya.

 

Beberapa waktu kemudian anak itu jatuh sakit dan selama delapan hari tak dapat bangun dari tempat tidurnya. Tetapi segera setelah ia mampu bangkit, hal pertama yang ia lakukan adalah membawa makanannya kepada Bunda Maria. Imam mengikutinya dan mendengar ia berkata, "Duhai Tuhan yang terkasih, janganlah marah bahwa aku begitu lama tak membawakan-Mu apa pun. Aku sakit dan tak mampu bangun."

 

Maka patung itu menjawab, "Aku telah melihat niat baikmu, dan itu sudah cukup bagiku. Minggu depan engkau akan pergi bersamaku ke pesta pernikahan."

 

Anak itu pun bersukacita dan menceritakannya kepada imam. Imam memintanya untuk bertanya apakah ia juga boleh ikut serta. Tetapi patung itu menjawab, "Tidak, hanya dia seorang."

 

Imam ingin mempersiapkannya lebih dahulu dan memberinya Ekaristi Kudus, dan anak itu setuju. Maka pada hari Minggu berikutnya, ketika hosti diberikan kepadanya, ia rebah dan wafat, dan ia pun berada dalam perjamuan nikah yang kekal.

Komentar