KHM 206 - Die drei grünen Zweige (Tiga Ranting Hijau)

 

Tiga Ranting Hijau


Pada suatu masa hiduplah seorang pertapa di sebuah hutan di kaki gunung. Ia menghabiskan hari-harinya dalam doa dan perbuatan baik, dan setiap sore, demi kemuliaan Tuhan, ia memanggul sepasang ember berisi air ke atas gunung. Banyak hewan minum dari situ, dan banyak tumbuhan segar karenanya, sebab di puncak selalu bertiup angin kencang yang mengeringkan udara dan tanah. Burung-burung liar yang takut pada manusia pun beterbangan di ketinggian, mengamati dengan mata tajam untuk menemukan seteguk air.

 

Dan karena sang pertapa begitu saleh, malaikat Tuhan, yang tampak nyata oleh matanya, selalu mendampinginya naik, menghitung langkahnya, dan setelah pekerjaan usai, membawakan makanan baginya, seperti dahulu nabi yang diberi makan burung gagak atas perintah Tuhan.

 

Ketika dalam kesalehannya sang pertapa telah berusia lanjut, ia suatu hari melihat dari kejauhan seorang pendosa malang digiring menuju tiang gantungan. Ia bergumam pada dirinya sendiri: “Nah, itulah balasan yang pantas baginya.”

 

Malam itu, ketika ia kembali membawa air ke atas gunung, malaikat yang biasanya menemaninya tak tampak, dan tak ada pula makanan yang dibawakan. Maka ia pun gentar, memeriksa hatinya, merenungkan kesalahannya hingga membuat Tuhan murka, tetapi ia tak tahu. Ia berhenti makan dan minum, lalu merebahkan diri ke tanah, berdoa siang dan malam.

 

Suatu hari, saat ia menangis getir di hutan, terdengarlah burung kecil bernyanyi begitu indah dan merdu. Maka ia semakin sedih dan berseru: “Alangkah riangnya engkau bernyanyi! Tuhan tak murka padamu. Ah, kalau saja engkau dapat berkata apa kesalahanku, agar aku dapat bertobat, dan hatiku pun gembira kembali.”

 

Burung itu pun bersuara: “Engkau telah berbuat salah, karena engkau telah mengutuk seorang pendosa malang yang digiring ke tiang gantungan. Hanya Tuhanlah yang berhak mengadili. Namun, bila engkau mau bertobat dan menyesali dosamu, Ia akan mengampunimu.”

 

Lalu malaikat berdiri di sisinya, memegang sebatang ranting kering, dan berkata: “Engkau harus memanggul ranting kering ini sampai darinya tumbuh tiga ranting hijau. Namun pada malam hari, saat engkau hendak tidur, taruhlah ia di bawah kepalamu. Roti harus kau minta dari pintu ke pintu, dan janganlah engkau bermalam lebih dari satu malam di rumah yang sama. Itulah penitensi yang Tuhan tetapkan bagimu.”

 

Pertapa itu pun mengambil sepotong kayu itu, dan kembali ke dunia yang sudah lama tak dilihatnya. Ia tidak makan atau minum selain apa yang diberi di pintu rumah; tetapi banyak permohonannya yang ditolak, banyak pula pintu yang tertutup rapat, hingga sering kali ia seharian tak mendapat sepotong roti pun.

 

Pernah, dari pagi hingga malam, ia mengetuk pintu demi pintu, tak seorang pun memberinya, tak seorang pun mau menampungnya bermalam. Maka ia pergi ke hutan, dan akhirnya menemukan sebuah gua yang pernah dibuat orang, dan di dalamnya duduk seorang perempuan tua. Ia berkata, “Nyonya  yang baik, biarkan aku bermalam di rumahmu ini.”

 

Tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, aku tak boleh, meski aku mau. Aku punya tiga anak lelaki, mereka jahat dan buas; bila pulang dari merampok dan menemukanmu di sini, mereka akan membunuh kita berdua.”

 

Namun sang pertapa berkata, “Biarkan aku tinggal, mereka takkan menyakiti engkau ataupun aku.” Perempuan itu pun tergerak oleh belas kasihan dan luluh.

 

Maka sang pertapa merebahkan diri di bawah tangga, meletakkan sepotong kayu itu di bawah kepalanya. Ketika perempuan tua itu melihatnya, ia bertanya sebabnya, dan sang pertapa menceritakan bahwa ia membawanya sebagai penitensi, menggunakannya sebagai bantal, karena ia telah menyinggung Tuhan: ketika melihat seorang pendosa digiring menuju hukuman, ia berkata, “Itulah balasan yang pantas baginya.”

 

Perempuan itu pun menangis, “Ah, bila Tuhan menghukum sedemikian atas satu kata saja, bagaimana nasib anak-anakku kelak di hadapan pengadilan-Nya?”

 

Tengah malam, para perampok pulang, gaduh dan ribut. Mereka menyalakan api, dan ketika cahaya menyinari gua dan terlihat seorang lelaki berbaring di bawah tangga, mereka marah besar dan berteriak pada ibu mereka, “Siapa lelaki itu? Bukankah sudah kami larang menerima siapa pun?”

 

Sang ibu berkata, “Biarkanlah dia. Ia seorang pendosa malang yang menebus kesalahannya.”

 

Para perampok bertanya, “Apa dosanya? Orang tua, ceritakanlah dosamu!”

 

Lelaki tua itu bangkit dan menuturkan bagaimana dengan satu kata saja ia telah berdosa hingga Tuhan murka padanya, dan kini ia menebus kesalahan itu.

 

Kisahnya begitu mengguncang hati para perampok, hingga mereka tersadar akan hidup jahat mereka selama ini, menyesal dengan sepenuh hati, dan mulai bertobat.

 

Sang pertapa, setelah menuntun tiga pendosa itu kembali ke jalan lurus, berbaring lagi di bawah tangga. Namun pada pagi hari ia ditemukan telah meninggal, dan dari sepotong kayu kering tempat kepalanya bertumpu, tumbuh tiga ranting hijau menjulang tinggi. Maka Tuhan telah menerimanya kembali dalam kasih karunia-Nya.

Komentar