KHM 201 - Der heilige Joseph im Walde (Santo Yusuf di Hutan)

 

Santo Yusuf di Hutan

Dahulu kala, ada seorang ibu yang memiliki tiga anak perempuan. Yang sulung kasar dan jahat; yang kedua lebih baik meski masih punya banyak kekurangan; sedangkan yang bungsu adalah anak yang saleh dan baik hati. Aneh sekali, justru si sulunglah yang paling disayangi oleh sang ibu, sementara si bungsu tidak ia sukai.

 

Karena itu, ia sering menyuruh si anak bungsu pergi ke dalam hutan besar, berniat menyingkirkannya. Ia berharap anak itu tersesat dan tak pernah kembali. Namun malaikat pelindung yang dimiliki setiap anak saleh tak pernah meninggalkannya, dan selalu menuntunnya kembali ke jalan yang benar.

 

Suatu ketika, malaikat itu seolah tidak menolongnya, sehingga anak itu benar-benar tak bisa menemukan jalan pulang. Ia berjalan terus sampai malam tiba, dan dari kejauhan ia melihat sebuah cahaya kecil menyala. Ia bergegas menuju cahaya itu dan sampai di depan sebuah gubuk kecil.

 

Ia mengetuk pintu, pintu pertama terbuka, lalu ia sampai di pintu kedua dan mengetuk lagi. Seorang lelaki tua berambut dan berjanggut putih, wajahnya penuh wibawa, membukakan pintu. Itu tak lain adalah Santo Yusuf.

 

Dengan ramah ia berkata, “Masuklah, anak manis. Duduklah di kursi kecil di dekat api, hangatkan tubuhmu. Kalau kau haus, akan kuambilkan air jernih. Tapi di hutan ini aku tak punya makanan lain selain beberapa akar kecil. Itu harus kau kupas dulu, lalu rebus.”

 

Santo Yusuf menyerahkan akar-akar itu. Gadis itu membersihkannya dengan teliti. Ia lalu mengeluarkan sepotong kue dadar dan roti yang dibekalkan ibunya, mencampurnya dengan akar tadi ke dalam panci kecil di perapian, dan memasak bubur kental.

 

Ketika bubur siap, Santo Yusuf berkata, “Aku sangat lapar, berilah aku sebagian dari makananmu.”

 

Dengan rela hati, anak itu memberikan bagiannya, bahkan lebih banyak daripada yang ia sisakan untuk dirinya sendiri. Namun berkat Tuhan turun atasnya, sehingga ia tetap kenyang.

 

Sesudah makan, Santo Yusuf berkata, “Sekarang mari kita tidur. Aku hanya punya satu ranjang, jadi tidurlah kau di sana, aku akan berbaring di jerami di lantai.”

 

“Tidak,” jawab anak itu, “engkau tetaplah di ranjangmu; jerami sudah cukup empuk untukku.”

 

Tetapi Santo Yusuf mengangkat si gadis, membaringkannya di ranjang kecil itu. Gadis itu berdoa, lalu tertidur pulas.

 

Keesokan paginya, saat terbangun, ia hendak mengucapkan selamat pagi pada Santo Yusuf, tetapi ia sudah tak ada. Ia bangkit, mencari ke segala sudut, namun sia-sia. Hingga akhirnya ia melihat sebuah karung uang di balik pintu, begitu berat sampai ia hanya bisa mengangkatnya dengan susah payah. Pada karung itu tertulis: “Untuk anak yang tidur di sini malam tadi.”

 

Ia pun mengangkat karung itu, berlari pulang, dan selamat sampai rumah. Semua uang itu ia serahkan kepada ibunya, sehingga sang ibu tak punya pilihan selain merasa puas padanya.

 

Keesokan harinya, anak kedua juga ingin pergi ke hutan. Ibunya membekali dengan potongan kue dadar dan roti yang lebih besar. Segalanya terjadi sama seperti pada anak pertama. Malamnya ia pun sampai di gubuk Santo Yusuf, yang memberinya akar-akar untuk dimasak menjadi bubur.

 

Ketika bubur siap, Santo Yusuf berkata, “Aku lapar sekali, berilah aku sedikit dari makananmu.”

Anak itu menjawab, “Makanlah bersamaku.”

 

Ketika Santo Yusuf menawarkan ranjangnya dan hendak tidur di jerami, anak itu berkata,
“Tidak, mari kita tidur bersama di ranjang, cukup luas untuk kita berdua.”

 

Santo Yusuf lalu mengangkatnya ke ranjang, dan ia sendiri tidur di jerami.

 

Pagi harinya, Santo Yusuf lenyap. Tetapi di balik pintu, anak itu menemukan sebuah kantung kecil berisi uang, sepanjang tangan ukurannya. Pada kantung itu tertulis: “Untuk anak yang tidur di sini malam tadi.” Ia mengambil kantung itu, berlari pulang, dan memberikannya pada ibunya meskipun ia diam-diam menyimpan beberapa keping untuk dirinya sendiri.

 

Kini si sulung jadi penasaran, dan keesokan paginya ia juga ingin ke hutan. Ibunya membekalinya kue dadar sebanyak yang ia mau, juga roti dan keju. Malamnya ia pun sampai di gubuk Santo Yusuf, sama seperti kedua adiknya.

 

Saat bubur siap dan Santo Yusuf berkata, “Aku sangat lapar, berilah aku sedikit makananmu,”
si sulung menjawab, “Tunggu sampai aku kenyang, apa yang tersisa boleh kau makan.”

 

Ia pun melahap hampir semuanya, dan Santo Yusuf hanya bisa mengais sisa di mangkuk.

 

Setelah itu, lelaki tua yang baik itu menawarkan ranjangnya dan hendak tidur di jerami. Gadis itu langsung menerima tanpa keberatan, merebahkan diri di ranjang kecil, dan membiarkan orang tua berambut putih itu di jerami keras.

 

Keesokan pagi, ia mencari uang di balik pintu. Tampak sesuatu di lantai. Karena tak jelas, ia membungkuk untuk melihat lebih dekat. Tiba-tiba sesuatu menempel di hidungnya. Saat ia tegak kembali, dengan ngeri ia mendapati sebuah hidung kedua melekat pada hidungnya sendiri, menjulur panjang ke depan.

 

Ia menjerit dan meraung, tetapi tak berguna, hidung itu tetap menempel. Ia berlari sambil menjerit, hingga bertemu Santo Yusuf. Ia jatuh di kaki lelaki tua itu, memohon dengan sangat, sampai akhirnya karena iba, Santo Yusuf melepaskan hidung tambahan itu. Bahkan ia masih memberinya dua keping uang receh.

 

Ketika ia pulang, ibunya berdiri di depan pintu dan bertanya, “Apa yang kau dapat?”

 

Ia berbohong, “Sebongkah besar uang, tapi hilang di jalan.”

 

“Hilang?” teriak ibunya. “Kita pasti bisa menemukannya!”

 

Ia pun menggandeng si sulung untuk mencari. Awalnya si anak menangis dan tak mau pergi, tetapi akhirnya terpaksa ikut. Namun di jalan, muncul begitu banyak kadal dan ular yang mengejar mereka hingga tak bisa lari. Binatang-binatang itu menggigit si anak jahat sampai mati, dan menggigit kaki sang ibu karena ia tak mendidik anaknya dengan baik.


Komentar