KHM 199 - Der Stiefel von Büffelleder (Sepatu Bot Kulit Kerbau)

 

Sepatu Bot Kulit Kerbau

Seorang prajurit yang tak mengenal takut, tak pernah pula mengkhawatirkan apa pun. Salah seorang semacam ini telah menerima surat bebas tugasnya, dan karena ia tak pernah belajar sebuah keahlian pun serta tak tahu bagaimana mencari nafkah, ia pun berjalan berkeliling dan meminta sedekah dari orang-orang baik hati. Yang masih tersisa padanya hanyalah sebuah mantel tua tahan air di punggungnya, dan sepasang sepatu bot berkuda dari kulit kerbau.

 

Suatu hari, ia berjalan tanpa tahu ke mana arahnya, terus melintasi padang terbuka, hingga akhirnya sampai ke sebuah hutan. Ia tak tahu di mana dirinya berada, namun di sana, di atas tunggul pohon yang telah ditebang, ia melihat seorang lelaki duduk. Lelaki itu berpakaian rapi dan mengenakan mantel hijau pemburu.

 

Sang prajurit menyalaminya, lalu duduk di rumput di sisinya, dan menjulurkan kakinya.
“Aku lihat engkau memakai sepatu yang bagus, yang mengilap disemir,” katanya kepada si pemburu. “Tapi jika engkau harus mengembara seperti aku, tentu takkan lama mereka bertahan. Lihatlah sepatuku ini, terbuat dari kulit kerbau, telah lama kupakai, namun dengan sepatu inilah aku bisa menembus lumpur dan semak juga susah dan senang tanpa gentar.”

 

Tak lama kemudian, prajurit itu bangkit dan berkata, “Aku tak bisa tinggal lebih lama, rasa lapar mendorongku maju. Tetapi, Saudara Sepatu-Semir, ke mana jalan ini menuju?”

 

“Aku sendiri tak tahu,” jawab sang pemburu, “aku pun telah tersesat di hutan ini.”

 

“Kalau begitu, nasibmu sama denganku,” kata sang prajurit. “Burung sejenis akan terbang bersama; mari kita tetap bersama dan mencari jalan keluar.”

 

Sang pemburu hanya tersenyum kecil, dan mereka pun berjalan makin jauh, makin jauh, hingga malam pun tiba.

 

“Kita tidak kunjung keluar dari hutan ini,” kata sang prajurit. “Namun di kejauhan aku melihat cahaya berkelip, semoga itu membawa kita pada sesuatu untuk dimakan.”

 

Mereka pun menemukan sebuah rumah batu, lalu mengetuk pintunya. Seorang perempuan tua membukanya.

 

“Kami mencari tempat untuk bermalam,” kata sang prajurit, “dan juga sedikit pengisi perut, sebab perutku ini sudah kosong bagaikan ransel tua.”

 

“Kalian tak bisa tinggal di sini,” jawab si perempuan tua. “Ini adalah rumah para perampok. Akan lebih bijak bila kalian segera pergi sebelum mereka pulang, atau kalian akan binasa.”

 

“Takkan seburuk itu,” kata sang prajurit. “Aku sudah dua hari tak menyentuh sesuap pun makanan, dan entah aku dibunuh di sini atau mati kelaparan di hutan, bagianku sama saja. Aku akan masuk.”

 

Sang pemburu enggan mengikutinya, tetapi prajurit itu menarik lengannya masuk. “Ayo, Saudara tersayang, akhir kita takkan secepat itu!”

 

Perempuan tua itu tergerak iba pada mereka dan berkata, “Merayaplah ke balik tungku ini, dan bila mereka meninggalkan sisa makanan, akan kuberikan diam-diam kepadamu saat mereka tertidur.”

 

Hampir belum lama mereka bersembunyi di sudut, ketika dua belas perampok mendadak menyerbu masuk. Mereka segera duduk di meja yang telah terhidang, dan dengan lahap menuntut makanan.

 

Perempuan tua membawa masuk piring-piring besar berisi daging panggang, dan para perampok pun menikmatinya dengan rakus.

 

Tatkala aroma daging itu naik menusuk hidung sang prajurit, ia berbisik kepada pemburu,
“Aku tak sanggup menahan diri lebih lama. Aku akan duduk di meja dan makan bersama mereka.”

 

“Engkau akan menyeret kita pada kehancuran,” kata si pemburu, sambil menahannya erat pada lengan.

 

Namun prajurit itu mulai batuk keras.

 

Mendengar itu, para perampok seketika melemparkan pisau dan garpu mereka, melompat berdiri, dan menemukan kedua orang yang bersembunyi di balik tungku.

 

“Aha, tuan-tuan, jadi kalian di pojok sana?” teriak mereka. “Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian dikirim sebagai mata-mata? Tunggu sebentar, dan kalian akan belajar bagaimana caranya terbang di ranting kering.”

 

“Tetapi bersikaplah sopan,” kata prajurit. “Aku lapar, beri aku sesuatu untuk dimakan, dan setelah itu kalian boleh berbuat apa saja terhadapku.”

 

Para perampok terperanjat, dan kepala mereka berkata, “Kulihat engkau benar-benar tak mengenal takut. Baiklah, engkau akan mendapat makanan, tapi sesudah itu kau harus mati.”

 

“Kita lihat saja nanti,” jawab prajurit, lalu ia duduk di meja dan mulai mengiris daging panggang dengan lahap.

 

“Saudara Sepatu-Semir, kemarilah dan makan,” serunya kepada pemburu. “Engkau pasti lapar seperti aku, dan tak mungkin punya daging panggang sebaik ini di rumahmu.”

 

Namun pemburu itu tetap tak mau menyentuhnya.

 

Para perampok menatap prajurit itu dengan keheranan, lalu berkata, “Orang ini sungguh tak kenal tata krama.”

 

Setelah beberapa saat, prajurit itu berkata, “Sudah cukup makanan bagiku, sekarang bawakanlah aku minuman yang baik.”

 

Kepala perampok kebetulan sedang berbaik hati untuk menuruti keinginannya, maka ia berseru kepada perempuan tua, “Bawa sebotol dari gudang bawah, dan pastikan yang terbaik.”

 

Sang prajurit pun mencabut sumbat botol itu dengan bunyi keras, lalu berjalan dengan botol itu menuju pemburu dan berkata, “Perhatikanlah, saudara, engkau akan melihat sesuatu yang mengherankan. Kini aku akan bersulang untuk kesehatan seluruh gerombolan ini.”

 

Kemudian ia mengayunkan botol itu di atas kepala para perampok, dan berseru, “Hidup panjang untuk kalian semua, tetapi dengan mulut terbuka dan tangan kanan terangkat tinggi!”

 

Lalu ia meneguk dengan rakus.

 

Hampir tak selesai ia mengucapkan kata-kata itu, semua perampok duduk kaku bagaikan batu, dengan mulut terbuka dan tangan kanan terangkat di udara.

 

Sang pemburu pun berkata kepada prajurit, “Kulihat engkau mengenal siasat yang lain pula. Tetapi sekarang, marilah kita pulang.”

 

“Oho, saudaraku tersayang, itu berarti kita berangkat terlalu cepat. Kita telah menaklukkan musuh, maka kita harus mengambil rampasan lebih dulu. Mereka di sana masih duduk terperangah dengan mulut terbuka, dan takkan dapat bergerak sampai aku mengizinkan. Ayo, makan dan minum.”

 

Perempuan tua pun harus membawa sebotol anggur terbaik lagi, dan prajurit itu tak hendak beranjak sebelum ia makan cukup banyak hingga bisa bertahan tiga hari.

 

Akhirnya, ketika fajar menyingsing, ia berkata, “Sekarang waktunya berangkat. Agar perjalanan kita singkat, biarlah perempuan tua ini menunjukkan jalan tercepat menuju kota.”

 

Setelah mereka tiba di kota, sang prajurit pergi menemui kawan-kawan lamanya dan berkata, “Di dalam hutan aku menemukan sarang penuh burung-burung gantungan. Mari ikut denganku, dan kita tangkap mereka.”

 

Sang prajurit memimpin mereka, lalu berkata kepada si pemburu, “Engkau harus ikut kembali bersamaku, agar dapat melihat bagaimana mereka menggigil ketika kita menangkap mereka di kakinya.”

 

Ia menempatkan pasukannya mengelilingi para perampok, lalu ia mengambil botol itu, meneguk seteguk, mengayunkannya di atas mereka, dan berseru, “Hiduplah kembali kalian semua!”

 

Sekejap itu juga mereka semua memperoleh kembali daya gerak, namun segera ditumbangkan dan diikat tangan serta kaki mereka dengan tali.

 

Kemudian sang prajurit memerintahkan agar mereka dilemparkan ke dalam sebuah gerobak bagaikan karung-karung, dan berkata, “Sekarang, giring mereka lurus ke penjara.”

 

Namun si pemburu membawa salah satu dari prajurit itu ke samping dan memberinya perintah lain pula.

 

“Saudara Sepatu-Semir,” kata prajurit, “kita telah mengalahkan musuh dengan selamat dan makan dengan kenyang. Sekarang mari kita berjalan pelan di belakang mereka seolah-olah kita hanya pengikut yang tertinggal.”

 

Ketika mereka mendekati gerbang kota, sang prajurit melihat kerumunan orang yang berbondong keluar, bersorak riang, dan melambai-lambaikan ranting hijau di udara.

 

Lalu ia melihat seluruh pasukan pengawal datang menyongsong.

 

“Apa artinya semua ini?” tanyanya kepada si pemburu.

 

“Tidakkah engkau tahu,” jawabnya, “bahwa Sang Raja telah lama pergi dari kerajaannya, dan hari ini ia kembali, sehingga semua orang pergi menyambutnya?”

 

“Lalu di manakah sang Raja?” tanya prajurit. “Aku tak melihatnya.”

 

“Di sinilah dia,” jawab si pemburu. “Akulah Raja, dan kini kuumumkan kedatanganku.”

 

Maka ia membuka mantel pemburu hijaunya, dan tampaklah pakaian kebesaran rajanya.

 

Sang prajurit terperanjat, jatuh berlutut, dan memohon ampun karena dalam ketidaktahuannya ia telah memperlakukannya sebagai seorang yang setara, dan bahkan memanggilnya dengan nama begitu saja.

 

Namun Sang Raja menjabat tangannya dan berkata, “Engkau adalah prajurit yang gagah berani, dan engkau telah menyelamatkan nyawaku. Engkau takkan pernah kekurangan lagi, aku sendiri yang akan menjagamu. Dan bila engkau ingin menyantap sepotong daging panggang, yang lezat seperti di rumah para perampok itu, datanglah ke dapur istana. Tetapi bila engkau ingin bersulang, engkau harus lebih dulu meminta izinku.”

 

Catatan Penerjemah:
1. Istilah “burung-burung gantungan” diterjemahkan dari Jerman Galgenvögel, sebuah ungkapan kiasan untuk para penjahat/perampok, orang yang dianggap pantas digantung pada tiang gantungan.


2. “Tunggu sebentar, dan kalian akan belajar bagaimana caranya terbang di ranting kering.”
Ungkapan asli bahasa Jerman berbunyi „an einem dürren Ast das Fliegen lernen“, secara harfiah “belajar terbang di cabang kering.” Ini adalah kiasan kasar untuk dihukum gantung di dahan pohon, di mana tubuh “melayang” seakan-akan terbang. Jadi, maksud ucapan para perampok adalah ancaman bahwa prajurit dan pemburu akan digantung sampai mati.

Komentar