Suatu senja, seorang penabuh
genderang muda berjalan seorang diri di ladang hingga sampai di tepi sebuah
danau. Di sana, ia melihat tiga potong kecil kain putih tergeletak di tepi air.
“Alangkah indah kain linen ini,”
katanya, lalu memasukkan sehelai ke dalam sakunya. Ia pun pulang, tidak terlalu
memikirkan temuannya itu, dan segera berbaring untuk tidur.
Namun, ketika ia hampir terlelap,
terdengar seolah-olah seseorang memanggil namanya. Ia terjaga dan mendengarkan.
Maka sayup-sayup terdengar suara halus berseru kepadanya, “Penabuh genderang,
penabuh genderang, bangunlah!”
Karena malam begitu gelap, ia tak
dapat melihat siapa pun. Namun terasa seakan-akan sesosok bayangan melayang di
atas ranjangnya, maju mundur di udara.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya.
“Kembalikan gaunku,” jawab suara
itu, “yang kau ambil dariku kemarin senja di tepi danau.”
“Akan kukembalikan padamu,” kata sang
penabuh genderang, “asalkan kau memberitahuku siapa dirimu.”
“Ah,” sahut suara itu, “aku putri
seorang raja perkasa. Namun aku jatuh ke dalam kuasa seorang penyihir dan
terkutuk tinggal di Gunung Kaca. Setiap hari aku dan dua saudariku harus mandi
di danau itu. Tetapi tanpa bajuku, aku tak bisa terbang kembali. Kedua
saudariku telah pulang, dan aku saja yang tertinggal. Maka kumohon padamu,
kembalikanlah gaunku.”
“Tenanglah, anak malang,” ucap sang
penabuh genderang lembut, “akan kukembalikan dengan senang hati.”
Ia mengeluarkannya dari sakunya dan
menyerahkannya dalam gelap. Gadis itu segera meraihnya dengan cemas dan hendak
pergi.
“Tunggulah sejenak,” kata sang
penabuh genderang. “Mungkin aku bisa menolongmu.”
“Hanya bila kau berhasil mendaki
Gunung Kaca dan membebaskanku dari kuasa sang penyihir barulah kau bisa menolongku.
Tetapi mustahil bagimu sampai ke Gunung Kaca. Bahkan sekalipun kau berada tepat
di hadapannya, kau takkan mampu mendakinya.”
“Apa yang kuinginkan, pasti bisa
kulakukan,” jawab sang penabuh genderang. “Aku kasihan padamu, dan aku tidak
takut pada apa pun. Hanya saja aku tak tahu jalan menuju Gunung Kaca.”
“Jalannya melewati hutan besar
tempat para raksasa pemakan manusia bersemayam,” jawabnya. “Lebih banyak tak
dapat kukatakan padamu.”
Dan setelah itu, terdengarlah suara
kepak, dan ia pun terbang pergi.
Ketika fajar menyingsing, Sang
Penabuh Genderang berangkat. Ia mengalungkan genderangnya dan tanpa rasa takut
melangkah lurus ke dalam hutan.
Setelah berjalan agak lama tanpa
melihat satu raksasa pun, ia berpikir, “Pasti mereka masih terlelap. Akan ku
bangunkan para pemalas itu.”
Ia menurunkan genderangnya ke depan
dan menabuhnya keras-keras hingga burung-burung berhamburan dari dahan dengan
jeritan riuh.
Tak lama kemudian, seorang raksasa
bangkit dari tempatnya berbaring di rumput. Tingginya menjulang bagaikan
sebatang cemara.
“Hei, cacing kecil!” hardiknya. “Apa
maksudmu menabuh genderang di sini dan membangunkanku dari tidur nyenyak?”
“Aku menabuh,” jawab Sang Penabuh
Genderang, “supaya ribuan pasukan yang mengikutiku tahu jalan yang harus
ditempuh.”
“Apa yang mereka cari di hutanku?”
tanya sang raksasa.
“Mereka datang untuk menumpasmu dan
membersihkan hutan ini dari monster sepertimu.”
“Oh!” seru raksasa itu, “akan
kuinjak kalian semua mati seperti semut.”
“Benarkah kau kira bisa melawan
mereka?” ujar Sang Penabuh Genderang. “Kalau kau menunduk hendak meraih satu,
ia segera meloncat kabur. Tetapi ketika kau terlelap, mereka keluar dari balik
semak, memanjat tubuhmu, dan tiap orang dari mereka membawa palu baja di
pinggang. Dengan itu mereka akan memecahkan kepalamu.”
Raksasa itu pun menjadi gusar. Ia
bergumam dalam hati: Jika aku berurusan dengan manusia licik macam itu, bisa
jadi aku yang celaka. Serigala dan beruang mudah kupatahkan lehernya, tapi pada
cacing tanah aku tak berdaya.
“Hai, manusia kecil,” katanya
kemudian, “pergilah dari sini. Aku berjanji takkan mengganggumu maupun para
pengikutmu lagi. Dan bila kau menginginkan sesuatu, katakanlah, mungkin aku
bisa memuaskanmu.”
“Kau memiliki kaki yang panjang,”
kata Sang Penabuh Genderang. “Kau bisa berlari lebih cepat daripada aku. Maka
bawalah aku ke Gunung Kaca. Sesudah itu akan kuberikan tanda bagi pasukanku
supaya mundur, dan untuk kali ini mereka akan membiarkanmu tenang.”
“Naiklah, cacing kecil,” jawab
raksasa. “Duduklah di bahuku, akan kubawa kau ke mana pun kau kehendaki.”
Raksasa itu mengangkatnya, dan Sang
Penabuh Genderang mulai menabuh dengan segenap tenaga di atas bahunya. Raksasa
itu menyangka bunyi genderang itu adalah tanda bagi pasukan manusia agar
kembali.
Tak lama kemudian, mereka berjumpa
raksasa kedua. Ia mengambil Sang Penabuh Genderang dari bahu raksasa pertama
dan menaruhnya di lubang kancing bajunya. Si pemuda berpegangan pada kancing
sebesar piring itu, memandang sekeliling dengan riang.
Lalu tibalah mereka pada raksasa
ketiga. Ia mengambil Sang Penabuh Genderang dari lubang kancing dan
meletakkannya di tepi topinya. Maka si pemuda berjalan ke sana kemari di atas
topi itu, menatap jauh melampaui pepohonan. Dan ketika ia melihat di kejauhan
sebuah gunung berwarna biru, ia berpikir: Itulah pasti Gunung Kaca. Dan
benar, memang itulah Gunung Kaca.
Beberapa langkah lagi, raksasa itu
telah tiba di kaki gunung dan menurunkannya.
Sang Penabuh Genderang meminta agar
ia juga diantar sampai ke puncak, tetapi raksasa hanya menggeleng, menggumamkan
sesuatu dalam janggutnya, lalu kembali masuk ke dalam hutan.
Kini Sang Penabuh Genderang berdiri
di hadapan gunung itu. Gunung tersebut menjulang tinggi seakan tiga gunung
ditumpuk menjadi satu, permukaannya licin berkilap laksana cermin. Ia sama
sekali tak tahu cara mendakinya.
Ia mulai mencoba memanjat, namun
sia-sia saja—setiap kali ia tergelincir kembali ke bawah.
Andai aku seekor burung, pikirnya, maka mudah saja aku bisa terbang
ke puncak.
Namun tiada gunanya berangan-angan, sebab sayap tak tumbuh pada dirinya.
Ketika ia berdiri kebingungan tanpa
daya, ia melihat tidak jauh dari situ ada dua lelaki tengah bertengkar hebat.
Ia pun mendekat dan mendapati bahwa mereka berselisih karena sebuah pelana yang
tergeletak di tanah di hadapan mereka, dan masing-masing ingin memilikinya.
“Betapa tolol kalian ini,” kata Sang
Penabuh Genderang, “bertengkar memperebutkan pelana sementara kalian bahkan tak
punya kuda.”
“Pelana ini memang pantas
diperebutkan,” jawab salah satu dari mereka. “Sebab siapa pun yang duduk di
atasnya dan berucap ingin berada di suatu tempat, bahkan di ujung dunia
sekalipun seketika itu juga ia akan sampai ke sana. Pelana ini milik kami
berdua. Kini giliranku untuk menungganginya, tapi yang satu ini tidak mau
mengizinkan.”
“Perselisihan kalian akan
kuselesaikan dengan mudah,” kata Sang Penabuh Genderang. Ia berjalan agak jauh,
lalu menancapkan sebatang tongkat putih ke tanah. Setelah itu ia kembali kepada
mereka dan berkata: “Sekarang, larilah menuju tongkat itu. Siapa yang tiba
lebih dahulu, dialah yang berhak menunggangi pelana.”
Keduanya pun segera berlari. Namun
baru beberapa langkah mereka tempuh, Sang Penabuh Genderang sudah melompat ke
atas pelana, mengucapkan keinginannya untuk berada di Gunung Kaca dan sebelum
sempat orang berkedip, ia pun telah sampai di puncak.
Di atas gunung itu terbentang sebuah
padang luas, dan di sana berdiri sebuah rumah tua dari batu. Di depan rumah
terdapat sebuah kolam ikan yang besar, dan di belakangnya menjulang sebuah
hutan gelap. Tak tampak manusia maupun hewan di sekeliling; suasana sunyi sepi,
hanya angin berdesir di pepohonan dan awan-awan bergulir rendah di atas
kepalanya.
Ia melangkah menuju pintu dan
mengetuk. Setelah ketukan ketiga, pintu pun terbuka, dan keluarlah seorang perempuan
tua dengan wajah cokelat, mata merah,
serta kacamata bertengger di hidung panjangnya. Ia menatapnya tajam, lalu
bertanya, “Apa yang kau inginkan di sini?”
“Tempat berteduh, makan, dan ranjang
untuk bermalam,” jawab Sang Penabuh Genderang.
“Itu akan kau dapatkan,” kata sang perempuan
tua, “asalkan kau sanggup menyelesaikan tiga pekerjaan untukku.”
“Mengapa tidak?” jawabnya. “Aku tak
gentar menghadapi pekerjaan, seberat apa pun itu.”
Maka perempuan tua itu
mengizinkannya masuk, memberinya makan, dan di malam hari ranjang yang empuk
untuk tidur.
Keesokan paginya, setelah Sang
Penabuh Genderang terbangun, perempuan tua itu melepas sebuah sebuah bidal kecil
dan menyerahkannya kepadanya sambil berkata, “Sekarang pergilah bekerja. Kau
harus menimba air kolam di depan rumah itu dengan bidal ini, sampai kering
sebelum malam tiba. Semua ikan yang ada di dalamnya pun harus kau sortir,
masing-masing dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya, lalu ditata berderet
di tanah.”
“Betapa aneh pekerjaan ini,” kata
Sang Penabuh Genderang. Namun ia tetap pergi menuju kolam, lalu mulai menimba.
Sejak pagi hingga siang, ia terus
menimba. Tetapi apa yang bisa dicapai dengan sebuah bidal kecil melawan air
kolam yang luas? Seribu tahun pun takkan cukup untuk mengeringkannya.
Menjelang tengah hari, ia berhenti,
lelah dan putus asa. “Tak ada gunanya,” pikirnya. “Sama saja apakah aku bekerja
atau tidak.” Ia pun duduk lesu di tepian.
Saat itu, seorang gadis keluar dari
rumah membawa sebuah keranjang berisi makanan. Ia mendekatinya dan berkata
lembut, “Engkau duduk di sini dengan wajah muram. Apa yang membuatmu susah
hati?”
Ia menatapnya dan terperanjat, sebab
gadis itu sungguh jelita.
“Ah,” katanya, “mustahil bagiku
menyelesaikan pekerjaan pertama ini. Bagaimana dengan dua tugas berikutnya? Aku
datang ke sini mencari seorang putri raja, yang katanya tinggal di tempat ini,
namun tak kutemukan. Lebih baik aku pergi saja.”
“Tinggallah di sini,” kata si gadis,
“aku akan menolongmu keluar dari kesulitan. Engkau lelah, letakkan saja
kepalamu di pangkuanku dan tidurlah. Ketika kau terbangun nanti, pekerjaan itu
sudah selesai.”
Sang Penabuh Genderang tidak perlu
dibujuk dua kali. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu dan terlelap.
Saat ia tidur, gadis itu memutar
sebuah cincin ajaib di jarinya dan berbisik, “Air, naiklah; ikan, keluarlah.”
Seketika air dari kolam naik seperti
kabut putih, bergabung dengan awan lain dan melayang pergi. Ikan-ikan pun
berloncatan, mendarat di tepi, lalu berbaris rapi, masing-masing menurut jenis
dan ukurannya.
Ketika Sang Penabuh Genderang
terbangun, ia terperangah melihat pekerjaan yang mustahil itu kini sudah
rampung.
Namun gadis itu berpesan, “Seekor
ikan di situ tidak berada di kelompoknya, melainkan terletak sendirian. Malam
nanti, ketika perempuan tua datang dan melihat semua telah beres, ia pasti akan
bertanya: Mengapa ikan ini sendirian? Saat itu, lemparkan ikan itu ke
wajahnya dan katakan: Ikan ini untukmu, penyihir tua!”
Menjelang malam, perempuan tua itu datang.
Dan benar, ia bertanya, “Mengapa seekor ikan ini sendirian?”
Maka Sang Penabuh Genderang
melemparkan ikan itu ke wajahnya sambil berkata, “Itu untukmu, penyihir tua!”
Ia berpura-pura tidak merasakan
apa-apa dan diam membisu, namun tatapan matanya penuh kebencian menusuk.
Keesokan paginya, sang perempuan tua
berkata, Kemarin kau terlalu mudah, aku harus memberimu pekerjaan yang lebih
berat. Hari ini kau harus menebang seluruh hutan, membelah kayunya menjadi
gelondongan, lalu menumpuknya dalam ikatan, dan semuanya harus selesai sebelum
malam.”
Ia memberinya sebuah kapak, sebuah
pemukul kayu, dan dua pasak. Namun kapak itu terbuat dari timah, pemukul dan
pasaknya pun hanya dari lempengan besi tipis. Begitu ia mulai menebang, mata
kapak itu melengkung bengkok, dan pemukul serta pasak-pasaknya pun penyok. Ia
tidak tahu harus berbuat apa.
Tengah hari, gadis itu kembali
datang membawa makanan, lalu menghiburnya. “Letakkan kepalamu di pangkuanku,”
katanya, “dan tidurlah; ketika kau terbangun, pekerjaanmu akan selesai.”
Ia memutar cincin ajaibnya, dan
seketika seluruh hutan runtuh berderak, kayu-kayu itu membelah dirinya sendiri,
dan tertata rapi dalam ikatan, seakan raksasa-raksasa tak kasatmata yang
mengerjakan semuanya.
Saat ia terbangun, sang gadis
berkata, “Lihatlah, kayu itu sudah terbelah dan tertata; hanya ada satu dahan
yang tersisa. Bila nanti perempuan tua itu datang dan bertanya untuk apa dahan
itu, pukulkan padanya dan katakan: Itulah untukmu, penyihir!”
Sore hari, perempuan tua datang. “Lihatlah,”
katanya, “betapa mudah pekerjaan itu! Tetapi, untuk siapa dahan yang masih
tergeletak itu?”
“Untukmu, penyihir,” jawab sang
Penabuh Genderang, lalu ia memukulnya dengan dahan itu. Namun perempuan tua itu
pura-pura tidak merasakannya, tertawa mencemooh, lalu berkata, “Besok pagi kau
harus menumpuk semua kayu itu menjadi satu tumpukan besar, menyalakannya, dan
membakarnya.”
Dengan fajar, ia pun bangun dan
mulai mengumpulkan kayu, tetapi bagaimana mungkin seorang diri mampu mengangkut
semua kayu dari hutan menjadi satu tumpukan?
Pekerjaan itu nyaris tak bergerak maju. Namun gadis itu tidak meninggalkannya
dalam kesulitan. Ia membawa makanan di tengah hari, dan setelah ia makan, ia
meletakkan kepalanya di pangkuannya dan tertidur.
Ketika ia terbangun, seluruh
tumpukan kayu telah menyala dalam api raksasa, lidah-lidahnya menjilat hingga
ke langit.
“Dengarkan aku,” kata sang gadis,
“nanti ketika penyihir itu datang, ia akan memerintahkanmu melakukan berbagai
hal; turuti saja tanpa rasa takut, maka ia tak akan mampu mengalahkanmu. Tetapi
bila kau gentar, api ini akan memeluk dan melahapmu. Pada akhirnya, setelah kau
lakukan semua yang ia minta, tangkap dia dengan kedua tanganmu, lalu lemparkan
dia ke tengah kobaran api.”
Sang gadis pun pergi, dan tak lama
kemudian perempuan tua itu menyelinap mendekat. “Aduh, aku kedinginan,”
katanya. “Tapi api ini menyala, menghangatkan tulang-tuaku yang renta,
membuatku segar kembali! Tapi lihat, ada sebatang gelondongan yang tak mau
terbakar, ambilkan untukku. Jika kau lakukan itu, kau bebas, dan boleh pergi ke
mana pun kau suka. Ayo, masuklah dengan niat baik!”
Sang Penabuh Genderang tak berpikir
lama; ia melompat masuk ke dalam api. Namun kobaran itu tak melukainya, bahkan
sehelai rambut pun tak tersentuh. Ia mengangkat kayu gelondongan itu dan
meletakkannya di tanah.
Namun, baru saja kayu itu menyentuh
bumi, ia pun berubah, dan di hadapannya berdirilah gadis cantik yang selama ini
menolongnya di saat sulit. Dari pakaian sutra berkilau emas yang membalut
tubuhnya, ia tahu pasti bahwa dialah putri raja.
Namun perempuan tua itu tertawa getir
dan berkata, “Kau kira sudah memilikinya, tapi sebenarnya belum!”
Ia hendak menerkam sang putri dan
menyeretnya pergi, tetapi pemuda itu segera menangkapnya dengan kedua tangan,
mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkannya ke tengah kobaran api. Api itu
menutup rapat di atasnya, seakan bergembira bisa melahap seorang penyihir tua.
Putri raja kemudian menatap sang
Penabuh Genderang, dan ketika melihat bahwa ia seorang pemuda tampan, dan
teringat bagaimana ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya, ia pun mengulurkan
tangan dan berkata, “Kau telah mempertaruhkan segalanya demi aku, maka aku pun
akan melakukan segalanya demi dirimu. Berjanjilah setia kepadaku, maka engkau
akan menjadi suamiku. Kita tak akan kekurangan harta, cukup sudah dengan semua
yang dikumpulkan penyihir ini.”
Ia membawanya masuk ke dalam rumah,
dan di sana ada peti dan lemari penuh dengan harta. Namun sang putri membiarkan
emas dan perak tetap di tempatnya, hanya membawa batu-batu permata berharga.
Ia tak ingin tinggal lebih lama di
Gunung Kaca, maka sang Penabuh Genderang berkata, “Duduklah bersamaku di atas
pelana ajaibku, maka kita akan terbang turun seperti burung.”
“Aku tak suka pelana tua itu,”
jawabnya. “Aku hanya perlu memutar cincin ajaibku, dan kita akan tiba di
rumah.”
“Baiklah,” kata sang Penabuh
Genderang, “kalau begitu, bawalah kita ke gerbang kota.”
Sekejap mata, mereka sudah berada di
sana. Namun sang Penabuh Genderang berkata, “Aku akan pulang sebentar menemui
orangtuaku dan membawa kabar ini, tunggulah aku di sini, aku segera kembali.”
“Ah,” kata sang putri, “kumohon
berhati-hatilah. Saat kau tiba, jangan cium kedua orangtuamu di pipi kanan,
atau kau akan melupakan segalanya, dan aku akan tertinggal di sini, sendiri dan
terlantar.”
“Bagaimana mungkin aku melupakanmu?”
katanya, lalu berjanji dengan sungguh-sungguh akan segera kembali.
Namun begitu ia masuk ke rumah
ayahnya, tak seorang pun mengenalnya, sebab tiga hari yang ia habiskan di
Gunung Kaca ternyata telah menjadi tiga tahun. Lalu ia pun menyatakan dirinya,
dan kedua orangtuanya memeluknya dengan gembira. Hatinya begitu terharu, hingga
ia lupa akan kata-kata sang gadis, dan mencium kedua orangtuanya di pipi kiri
dan kanan.
Tapi begitu ciuman mendarat di pipi
kanan, setiap ingatan tentang putri raja itu lenyap dari benaknya.
Ia mengeluarkan isi sakunya dan
menumpahkan permata-permata besar di atas meja. Kedua orangtua itu tak tahu
harus bagaimana dengan harta melimpah itu. Maka sang ayah membangun sebuah
istana megah, dikelilingi kebun, hutan, dan padang rumput, seolah seorang
pangeran yang akan tinggal di sana.
Dan ketika istana itu selesai, sang
ibu berkata, “Aku telah menemukan seorang gadis untukmu, dan tiga hari lagi
pernikahanmu akan berlangsung.”
Anak laki-laki itu menerima
segalanya, sesuai kehendak orangtuanya.
Sementara itu, sang putri raja
malang berdiri lama di luar gerbang kota, menanti dengan sabar kembalinya
pemuda itu. Menjelang senja ia berbisik dengan getir, “Pasti ia telah mengecup
pipi kanan orang tuanya, dan melupakan diriku.”
Hatinya diliputi kesedihan. Ia
mengucapkan permohonan pada cincin ajaibnya, dan seketika itu ia berpindah ke
sebuah gubuk kecil yang sunyi di tengah hutan. Ia enggan kembali ke istana
ayahnya.
Namun setiap malam, ia tetap
berjalan ke kota dan melewati rumah si pemuda. Ia sering melihatnya di sana,
tapi ia tak lagi dikenali.
Akhirnya, ia mendengar bisik-bisik
orang berkata, “Besok pernikahan itu akan berlangsung.”
Maka sang putri bertekad dalam hati,
“Aku akan mencoba merebut kembali hatinya.”
Pada hari pertama pesta pernikahan,
sang putri memutar cincin ajaibnya dan berbisik, “Gaun yang berkilau seterang
matahari.”
Sekejap saja, gaun itu tergeletak di
hadapannya, bersinar bagaikan benar-benar ditenun dari cahaya mentari.
Ketika semua tamu telah berkumpul,
ia masuk ke dalam aula. Semua orang terpesona oleh keindahan gaun itu, terutama
sang calon pengantin perempuan. Sebab tak ada yang lebih ia sukai selain
pakaian indah, maka ia mendekati gadis asing itu dan berkata, Maukah kau
menjual gaun itu padaku?”
“Bukan dengan uang,” jawab sang
putri, “tapi bila aku diizinkan melewati malam pertama di depan pintu kamar di
mana tunanganmu tidur, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”
Keinginan memuaskan hasratnya lebih
besar daripada pertimbangan lain, maka gadis itu setuju. Namun sebelum malam
tiba, ia menuangkan ramuan tidur ke dalam anggur yang diminum tunangannya.
Sehingga ketika ia berbaring, pemuda itu terlelap begitu dalam.
Saat semua rumah sunyi, sang putri mendekam
di pintu kamar, membukanya sedikit, lalu merintih lirih,
“Penabuh genderang, dengarkanlah
seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”
Namun semua sia-sia. Sang Penabuh
Genderang tidur begitu pulas, tak mendengar sedikit pun. Dan ketika fajar
merekah, sang putri dipaksa pergi diam-diam seperti ia datang.
Pada malam kedua, ia kembali memutar
cincin ajaibnya dan berbisik, “Gaun yang bersinar lembut seperti cahaya bulan.”
Sekejap saja, gaun itu terbentang di
hadapannya, sehalus dan selembut sinar rembulan.
Ketika ia muncul dalam pesta dengan
gaun itu, semua mata terpana. Sekali lagi, sang mempelai perempuan dilanda
hasrat memilikinya, dan kembali memohon untuk membelinya.
“Bukan dengan uang,” jawab sang
putri, “tapi bila aku diizinkan melewati malam kedua di depan pintu kamar
tunanganmu, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”
Dan ia pun setuju. Seperti malam
sebelumnya, ia menuangkan ramuan tidur ke dalam anggur pemuda itu. Maka sekali
lagi, sang Penabuh Genderang terbaring dalam tidur yang dalam.
Dalam kesunyian malam, putri itu
merintih lirih di pintu kamar,
“Penabuh genderang, dengarkanlah
seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”
Namun kali ini pun sia-sia. Pemuda
itu tak bergeming. Pagi tiba, dan dengan hati hancur, sang putri kembali ke
gubuknya di hutan.
Tetapi, orang-orang di rumah itu
telah mendengar rintihannya. Mereka menceritakan kepada mempelai pria, dan juga
berbisik kepadanya bahwa mustahil ia dapat mendengarnya, sebab calon istrinya
sendiri telah menuangkan ramuan tidur ke dalam anggurnya.
Pada malam ketiga, sang putri
memutar cincin ajaibnya lagi dan berbisik, “Gaun yang berkilauan seperti
bintang-bintang di langit.”
Sekejap saja, gaun itu terhampar di
hadapannya, berkelip-kelip bagai langit malam yang dipenuhi cahaya bintang.
Ketika ia tampil di pesta dengan
gaun itu, semua mata terpesona. Gaun ini jauh lebih gemilang daripada dua gaun
sebelumnya. Sang mempelai perempuan menjadi tak sabar, hampir kehilangan
kendali, dan berkata, “Gaun ini harus menjadi milikku, apa pun harganya!”
Seperti sebelumnya, sang putri menyerahkan
gaun itu dengan syarat:, “Bila aku diizinkan melewati malam ketiga di depan
pintu kamar tunanganmu, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”
Namun kali ini, sang Penabuh
Genderang berhati-hati. Anggur yang disodorkan kepadanya ia tuang ke belakang
ranjang, tidak diminum.
Dan ketika malam menjadi hening,
terdengarlah suara merintih lirih dari pintu kamar:
“Penabuh genderang, dengarkanlah
seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”
Tiba-tiba, ingatan kembali memenuhi
benaknya. Ia meloncat bangkit dan berseru, “Oh, betapa mungkin aku begitu
lalai! Ciuman yang kuberikan pada pipi kanan orang tuaku, itulah yang membuatku
lupa segalanya!”
Ia bergegas menghampiri pintu,
menggenggam tangan sang putri, lalu membawanya masuk ke hadapan ayah dan
ibunya.
“Inilah tunanganku yang sejati,”
katanya dengan tegas. “Bila aku menikahi perempuan lain, maka aku berbuat
kesalahan besar.”
Orang tuanya mendengar seluruh
kisah, dan akhirnya memberikan restu. Maka lampu-lampu di aula dinyalakan
kembali, genderang dan terompet dibunyikan, sanak saudara dan sahabat dipanggil
datang, dan pesta pernikahan yang sesungguhnya pun dirayakan dengan sukacita.
Sang mempelai yang pertama menerima tiga gaun indah itu sebagai penghiburan, dan mengaku puas.

Komentar
Posting Komentar