KHM 193 - Der Trommler (Sang Penabuh Genderang)

 

Sang Penabuh Genderang

Suatu senja, seorang penabuh genderang muda berjalan seorang diri di ladang hingga sampai di tepi sebuah danau. Di sana, ia melihat tiga potong kecil kain putih tergeletak di tepi air.

 

“Alangkah indah kain linen ini,” katanya, lalu memasukkan sehelai ke dalam sakunya. Ia pun pulang, tidak terlalu memikirkan temuannya itu, dan segera berbaring untuk tidur.

 

Namun, ketika ia hampir terlelap, terdengar seolah-olah seseorang memanggil namanya. Ia terjaga dan mendengarkan. Maka sayup-sayup terdengar suara halus berseru kepadanya, “Penabuh genderang, penabuh genderang, bangunlah!”

 

Karena malam begitu gelap, ia tak dapat melihat siapa pun. Namun terasa seakan-akan sesosok bayangan melayang di atas ranjangnya, maju mundur di udara.

 

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya.

 

“Kembalikan gaunku,” jawab suara itu, “yang kau ambil dariku kemarin senja di tepi danau.”

 

“Akan kukembalikan padamu,” kata sang penabuh genderang, “asalkan kau memberitahuku siapa dirimu.”

 

“Ah,” sahut suara itu, “aku putri seorang raja perkasa. Namun aku jatuh ke dalam kuasa seorang penyihir dan terkutuk tinggal di Gunung Kaca. Setiap hari aku dan dua saudariku harus mandi di danau itu. Tetapi tanpa bajuku, aku tak bisa terbang kembali. Kedua saudariku telah pulang, dan aku saja yang tertinggal. Maka kumohon padamu, kembalikanlah gaunku.”

 

“Tenanglah, anak malang,” ucap sang penabuh genderang lembut, “akan kukembalikan dengan senang hati.”

 

Ia mengeluarkannya dari sakunya dan menyerahkannya dalam gelap. Gadis itu segera meraihnya dengan cemas dan hendak pergi.

 

“Tunggulah sejenak,” kata sang penabuh genderang. “Mungkin aku bisa menolongmu.”

 

“Hanya bila kau berhasil mendaki Gunung Kaca dan membebaskanku dari kuasa sang penyihir barulah kau bisa menolongku. Tetapi mustahil bagimu sampai ke Gunung Kaca. Bahkan sekalipun kau berada tepat di hadapannya, kau takkan mampu mendakinya.”

 

“Apa yang kuinginkan, pasti bisa kulakukan,” jawab sang penabuh genderang. “Aku kasihan padamu, dan aku tidak takut pada apa pun. Hanya saja aku tak tahu jalan menuju Gunung Kaca.”

 

“Jalannya melewati hutan besar tempat para raksasa pemakan manusia bersemayam,” jawabnya. “Lebih banyak tak dapat kukatakan padamu.”

 

Dan setelah itu, terdengarlah suara kepak, dan ia pun terbang pergi.

 

Ketika fajar menyingsing, Sang Penabuh Genderang berangkat. Ia mengalungkan genderangnya dan tanpa rasa takut melangkah lurus ke dalam hutan.

 

Setelah berjalan agak lama tanpa melihat satu raksasa pun, ia berpikir, “Pasti mereka masih terlelap. Akan ku bangunkan para pemalas itu.”

 

Ia menurunkan genderangnya ke depan dan menabuhnya keras-keras hingga burung-burung berhamburan dari dahan dengan jeritan riuh.

 

Tak lama kemudian, seorang raksasa bangkit dari tempatnya berbaring di rumput. Tingginya menjulang bagaikan sebatang cemara.

 

“Hei, cacing kecil!” hardiknya. “Apa maksudmu menabuh genderang di sini dan membangunkanku dari tidur nyenyak?”

 

“Aku menabuh,” jawab Sang Penabuh Genderang, “supaya ribuan pasukan yang mengikutiku tahu jalan yang harus ditempuh.”

 

“Apa yang mereka cari di hutanku?” tanya sang raksasa.

 

“Mereka datang untuk menumpasmu dan membersihkan hutan ini dari monster sepertimu.”

 

“Oh!” seru raksasa itu, “akan kuinjak kalian semua mati seperti semut.”

 

“Benarkah kau kira bisa melawan mereka?” ujar Sang Penabuh Genderang. “Kalau kau menunduk hendak meraih satu, ia segera meloncat kabur. Tetapi ketika kau terlelap, mereka keluar dari balik semak, memanjat tubuhmu, dan tiap orang dari mereka membawa palu baja di pinggang. Dengan itu mereka akan memecahkan kepalamu.”

 

Raksasa itu pun menjadi gusar. Ia bergumam dalam hati: Jika aku berurusan dengan manusia licik macam itu, bisa jadi aku yang celaka. Serigala dan beruang mudah kupatahkan lehernya, tapi pada cacing tanah aku tak berdaya.

 

“Hai, manusia kecil,” katanya kemudian, “pergilah dari sini. Aku berjanji takkan mengganggumu maupun para pengikutmu lagi. Dan bila kau menginginkan sesuatu, katakanlah, mungkin aku bisa memuaskanmu.”

 

“Kau memiliki kaki yang panjang,” kata Sang Penabuh Genderang. “Kau bisa berlari lebih cepat daripada aku. Maka bawalah aku ke Gunung Kaca. Sesudah itu akan kuberikan tanda bagi pasukanku supaya mundur, dan untuk kali ini mereka akan membiarkanmu tenang.”

 

“Naiklah, cacing kecil,” jawab raksasa. “Duduklah di bahuku, akan kubawa kau ke mana pun kau kehendaki.”

 

Raksasa itu mengangkatnya, dan Sang Penabuh Genderang mulai menabuh dengan segenap tenaga di atas bahunya. Raksasa itu menyangka bunyi genderang itu adalah tanda bagi pasukan manusia agar kembali.

 

Tak lama kemudian, mereka berjumpa raksasa kedua. Ia mengambil Sang Penabuh Genderang dari bahu raksasa pertama dan menaruhnya di lubang kancing bajunya. Si pemuda berpegangan pada kancing sebesar piring itu, memandang sekeliling dengan riang.

 

Lalu tibalah mereka pada raksasa ketiga. Ia mengambil Sang Penabuh Genderang dari lubang kancing dan meletakkannya di tepi topinya. Maka si pemuda berjalan ke sana kemari di atas topi itu, menatap jauh melampaui pepohonan. Dan ketika ia melihat di kejauhan sebuah gunung berwarna biru, ia berpikir: Itulah pasti Gunung Kaca. Dan benar, memang itulah Gunung Kaca.

 

Beberapa langkah lagi, raksasa itu telah tiba di kaki gunung dan menurunkannya.

 

Sang Penabuh Genderang meminta agar ia juga diantar sampai ke puncak, tetapi raksasa hanya menggeleng, menggumamkan sesuatu dalam janggutnya, lalu kembali masuk ke dalam hutan.

 

Kini Sang Penabuh Genderang berdiri di hadapan gunung itu. Gunung tersebut menjulang tinggi seakan tiga gunung ditumpuk menjadi satu, permukaannya licin berkilap laksana cermin. Ia sama sekali tak tahu cara mendakinya.

 

Ia mulai mencoba memanjat, namun sia-sia saja—setiap kali ia tergelincir kembali ke bawah.
Andai aku seekor burung, pikirnya, maka mudah saja aku bisa terbang ke puncak.
Namun tiada gunanya berangan-angan, sebab sayap tak tumbuh pada dirinya.

 

Ketika ia berdiri kebingungan tanpa daya, ia melihat tidak jauh dari situ ada dua lelaki tengah bertengkar hebat. Ia pun mendekat dan mendapati bahwa mereka berselisih karena sebuah pelana yang tergeletak di tanah di hadapan mereka, dan masing-masing ingin memilikinya.

 

“Betapa tolol kalian ini,” kata Sang Penabuh Genderang, “bertengkar memperebutkan pelana sementara kalian bahkan tak punya kuda.”

 

“Pelana ini memang pantas diperebutkan,” jawab salah satu dari mereka. “Sebab siapa pun yang duduk di atasnya dan berucap ingin berada di suatu tempat, bahkan di ujung dunia sekalipun seketika itu juga ia akan sampai ke sana. Pelana ini milik kami berdua. Kini giliranku untuk menungganginya, tapi yang satu ini tidak mau mengizinkan.”

 

“Perselisihan kalian akan kuselesaikan dengan mudah,” kata Sang Penabuh Genderang. Ia berjalan agak jauh, lalu menancapkan sebatang tongkat putih ke tanah. Setelah itu ia kembali kepada mereka dan berkata: “Sekarang, larilah menuju tongkat itu. Siapa yang tiba lebih dahulu, dialah yang berhak menunggangi pelana.”

 

Keduanya pun segera berlari. Namun baru beberapa langkah mereka tempuh, Sang Penabuh Genderang sudah melompat ke atas pelana, mengucapkan keinginannya untuk berada di Gunung Kaca dan sebelum sempat orang berkedip, ia pun telah sampai di puncak.

 

Di atas gunung itu terbentang sebuah padang luas, dan di sana berdiri sebuah rumah tua dari batu. Di depan rumah terdapat sebuah kolam ikan yang besar, dan di belakangnya menjulang sebuah hutan gelap. Tak tampak manusia maupun hewan di sekeliling; suasana sunyi sepi, hanya angin berdesir di pepohonan dan awan-awan bergulir rendah di atas kepalanya.

 

Ia melangkah menuju pintu dan mengetuk. Setelah ketukan ketiga, pintu pun terbuka, dan keluarlah seorang perempuan tua dengan wajah cokelat, mata merah, serta kacamata bertengger di hidung panjangnya. Ia menatapnya tajam, lalu bertanya, “Apa yang kau inginkan di sini?”

 

“Tempat berteduh, makan, dan ranjang untuk bermalam,” jawab Sang Penabuh Genderang.

 

“Itu akan kau dapatkan,” kata sang perempuan tua, “asalkan kau sanggup menyelesaikan tiga pekerjaan untukku.”

 

“Mengapa tidak?” jawabnya. “Aku tak gentar menghadapi pekerjaan, seberat apa pun itu.”

 

Maka perempuan tua itu mengizinkannya masuk, memberinya makan, dan di malam hari ranjang yang empuk untuk tidur.

 

Keesokan paginya, setelah Sang Penabuh Genderang terbangun, perempuan tua itu melepas sebuah sebuah bidal kecil dan menyerahkannya kepadanya sambil berkata, “Sekarang pergilah bekerja. Kau harus menimba air kolam di depan rumah itu dengan bidal ini, sampai kering sebelum malam tiba. Semua ikan yang ada di dalamnya pun harus kau sortir, masing-masing dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya, lalu ditata berderet di tanah.”

 

“Betapa aneh pekerjaan ini,” kata Sang Penabuh Genderang. Namun ia tetap pergi menuju kolam, lalu mulai menimba.

 

Sejak pagi hingga siang, ia terus menimba. Tetapi apa yang bisa dicapai dengan sebuah bidal kecil melawan air kolam yang luas? Seribu tahun pun takkan cukup untuk mengeringkannya.

 

Menjelang tengah hari, ia berhenti, lelah dan putus asa. “Tak ada gunanya,” pikirnya. “Sama saja apakah aku bekerja atau tidak.” Ia pun duduk lesu di tepian.

 

Saat itu, seorang gadis keluar dari rumah membawa sebuah keranjang berisi makanan. Ia mendekatinya dan berkata lembut, “Engkau duduk di sini dengan wajah muram. Apa yang membuatmu susah hati?”

 

Ia menatapnya dan terperanjat, sebab gadis itu sungguh jelita.

“Ah,” katanya, “mustahil bagiku menyelesaikan pekerjaan pertama ini. Bagaimana dengan dua tugas berikutnya? Aku datang ke sini mencari seorang putri raja, yang katanya tinggal di tempat ini, namun tak kutemukan. Lebih baik aku pergi saja.”

 

“Tinggallah di sini,” kata si gadis, “aku akan menolongmu keluar dari kesulitan. Engkau lelah, letakkan saja kepalamu di pangkuanku dan tidurlah. Ketika kau terbangun nanti, pekerjaan itu sudah selesai.”

 

Sang Penabuh Genderang tidak perlu dibujuk dua kali. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu dan terlelap.

 

Saat ia tidur, gadis itu memutar sebuah cincin ajaib di jarinya dan berbisik, “Air, naiklah; ikan, keluarlah.”

 

Seketika air dari kolam naik seperti kabut putih, bergabung dengan awan lain dan melayang pergi. Ikan-ikan pun berloncatan, mendarat di tepi, lalu berbaris rapi, masing-masing menurut jenis dan ukurannya.

 

Ketika Sang Penabuh Genderang terbangun, ia terperangah melihat pekerjaan yang mustahil itu kini sudah rampung.

 

Namun gadis itu berpesan, “Seekor ikan di situ tidak berada di kelompoknya, melainkan terletak sendirian. Malam nanti, ketika perempuan tua datang dan melihat semua telah beres, ia pasti akan bertanya: Mengapa ikan ini sendirian? Saat itu, lemparkan ikan itu ke wajahnya dan katakan: Ikan ini untukmu, penyihir tua!

 

Menjelang malam, perempuan tua itu datang. Dan benar, ia bertanya, “Mengapa seekor ikan ini sendirian?”

 

Maka Sang Penabuh Genderang melemparkan ikan itu ke wajahnya sambil berkata, “Itu untukmu, penyihir tua!”

 

Ia berpura-pura tidak merasakan apa-apa dan diam membisu, namun tatapan matanya penuh kebencian menusuk.

 

Keesokan paginya, sang perempuan tua berkata, Kemarin kau terlalu mudah, aku harus memberimu pekerjaan yang lebih berat. Hari ini kau harus menebang seluruh hutan, membelah kayunya menjadi gelondongan, lalu menumpuknya dalam ikatan, dan semuanya harus selesai sebelum malam.”

 

Ia memberinya sebuah kapak, sebuah pemukul kayu, dan dua pasak. Namun kapak itu terbuat dari timah, pemukul dan pasaknya pun hanya dari lempengan besi tipis. Begitu ia mulai menebang, mata kapak itu melengkung bengkok, dan pemukul serta pasak-pasaknya pun penyok. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

 

Tengah hari, gadis itu kembali datang membawa makanan, lalu menghiburnya. “Letakkan kepalamu di pangkuanku,” katanya, “dan tidurlah; ketika kau terbangun, pekerjaanmu akan selesai.”

 

Ia memutar cincin ajaibnya, dan seketika seluruh hutan runtuh berderak, kayu-kayu itu membelah dirinya sendiri, dan tertata rapi dalam ikatan, seakan raksasa-raksasa tak kasatmata yang mengerjakan semuanya.

 

Saat ia terbangun, sang gadis berkata, “Lihatlah, kayu itu sudah terbelah dan tertata; hanya ada satu dahan yang tersisa. Bila nanti perempuan tua itu datang dan bertanya untuk apa dahan itu, pukulkan padanya dan katakan: Itulah untukmu, penyihir!

 

Sore hari, perempuan tua datang. “Lihatlah,” katanya, “betapa mudah pekerjaan itu! Tetapi, untuk siapa dahan yang masih tergeletak itu?”

 

“Untukmu, penyihir,” jawab sang Penabuh Genderang, lalu ia memukulnya dengan dahan itu. Namun perempuan tua itu pura-pura tidak merasakannya, tertawa mencemooh, lalu berkata, “Besok pagi kau harus menumpuk semua kayu itu menjadi satu tumpukan besar, menyalakannya, dan membakarnya.”

 

Dengan fajar, ia pun bangun dan mulai mengumpulkan kayu, tetapi bagaimana mungkin seorang diri mampu mengangkut semua kayu dari hutan menjadi satu tumpukan? Pekerjaan itu nyaris tak bergerak maju. Namun gadis itu tidak meninggalkannya dalam kesulitan. Ia membawa makanan di tengah hari, dan setelah ia makan, ia meletakkan kepalanya di pangkuannya dan tertidur.

 

Ketika ia terbangun, seluruh tumpukan kayu telah menyala dalam api raksasa, lidah-lidahnya menjilat hingga ke langit.

 

“Dengarkan aku,” kata sang gadis, “nanti ketika penyihir itu datang, ia akan memerintahkanmu melakukan berbagai hal; turuti saja tanpa rasa takut, maka ia tak akan mampu mengalahkanmu. Tetapi bila kau gentar, api ini akan memeluk dan melahapmu. Pada akhirnya, setelah kau lakukan semua yang ia minta, tangkap dia dengan kedua tanganmu, lalu lemparkan dia ke tengah kobaran api.”

 

Sang gadis pun pergi, dan tak lama kemudian perempuan tua itu menyelinap mendekat. “Aduh, aku kedinginan,” katanya. “Tapi api ini menyala, menghangatkan tulang-tuaku yang renta, membuatku segar kembali! Tapi lihat, ada sebatang gelondongan yang tak mau terbakar, ambilkan untukku. Jika kau lakukan itu, kau bebas, dan boleh pergi ke mana pun kau suka. Ayo, masuklah dengan niat baik!”

 

Sang Penabuh Genderang tak berpikir lama; ia melompat masuk ke dalam api. Namun kobaran itu tak melukainya, bahkan sehelai rambut pun tak tersentuh. Ia mengangkat kayu gelondongan itu dan meletakkannya di tanah.

 

Namun, baru saja kayu itu menyentuh bumi, ia pun berubah, dan di hadapannya berdirilah gadis cantik yang selama ini menolongnya di saat sulit. Dari pakaian sutra berkilau emas yang membalut tubuhnya, ia tahu pasti bahwa dialah putri raja.

 

Namun perempuan tua itu tertawa getir dan berkata, “Kau kira sudah memilikinya, tapi sebenarnya belum!”

 

Ia hendak menerkam sang putri dan menyeretnya pergi, tetapi pemuda itu segera menangkapnya dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkannya ke tengah kobaran api. Api itu menutup rapat di atasnya, seakan bergembira bisa melahap seorang penyihir tua.

 

Putri raja kemudian menatap sang Penabuh Genderang, dan ketika melihat bahwa ia seorang pemuda tampan, dan teringat bagaimana ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya, ia pun mengulurkan tangan dan berkata, “Kau telah mempertaruhkan segalanya demi aku, maka aku pun akan melakukan segalanya demi dirimu. Berjanjilah setia kepadaku, maka engkau akan menjadi suamiku. Kita tak akan kekurangan harta, cukup sudah dengan semua yang dikumpulkan penyihir ini.”

 

Ia membawanya masuk ke dalam rumah, dan di sana ada peti dan lemari penuh dengan harta. Namun sang putri membiarkan emas dan perak tetap di tempatnya, hanya membawa batu-batu permata berharga.

 

Ia tak ingin tinggal lebih lama di Gunung Kaca, maka sang Penabuh Genderang berkata, “Duduklah bersamaku di atas pelana ajaibku, maka kita akan terbang turun seperti burung.”

 

“Aku tak suka pelana tua itu,” jawabnya. “Aku hanya perlu memutar cincin ajaibku, dan kita akan tiba di rumah.”

 

“Baiklah,” kata sang Penabuh Genderang, “kalau begitu, bawalah kita ke gerbang kota.”

 

Sekejap mata, mereka sudah berada di sana. Namun sang Penabuh Genderang berkata, “Aku akan pulang sebentar menemui orangtuaku dan membawa kabar ini, tunggulah aku di sini, aku segera kembali.”

 

“Ah,” kata sang putri, “kumohon berhati-hatilah. Saat kau tiba, jangan cium kedua orangtuamu di pipi kanan, atau kau akan melupakan segalanya, dan aku akan tertinggal di sini, sendiri dan terlantar.”

 

“Bagaimana mungkin aku melupakanmu?” katanya, lalu berjanji dengan sungguh-sungguh akan segera kembali.

 

Namun begitu ia masuk ke rumah ayahnya, tak seorang pun mengenalnya, sebab tiga hari yang ia habiskan di Gunung Kaca ternyata telah menjadi tiga tahun. Lalu ia pun menyatakan dirinya, dan kedua orangtuanya memeluknya dengan gembira. Hatinya begitu terharu, hingga ia lupa akan kata-kata sang gadis, dan mencium kedua orangtuanya di pipi kiri dan kanan.

 

Tapi begitu ciuman mendarat di pipi kanan, setiap ingatan tentang putri raja itu lenyap dari benaknya.

 

Ia mengeluarkan isi sakunya dan menumpahkan permata-permata besar di atas meja. Kedua orangtua itu tak tahu harus bagaimana dengan harta melimpah itu. Maka sang ayah membangun sebuah istana megah, dikelilingi kebun, hutan, dan padang rumput, seolah seorang pangeran yang akan tinggal di sana.

 

Dan ketika istana itu selesai, sang ibu berkata, “Aku telah menemukan seorang gadis untukmu, dan tiga hari lagi pernikahanmu akan berlangsung.”

 

Anak laki-laki itu menerima segalanya, sesuai kehendak orangtuanya.

 

Sementara itu, sang putri raja malang berdiri lama di luar gerbang kota, menanti dengan sabar kembalinya pemuda itu. Menjelang senja ia berbisik dengan getir, “Pasti ia telah mengecup pipi kanan orang tuanya, dan melupakan diriku.”

 

Hatinya diliputi kesedihan. Ia mengucapkan permohonan pada cincin ajaibnya, dan seketika itu ia berpindah ke sebuah gubuk kecil yang sunyi di tengah hutan. Ia enggan kembali ke istana ayahnya.

 

Namun setiap malam, ia tetap berjalan ke kota dan melewati rumah si pemuda. Ia sering melihatnya di sana, tapi ia tak lagi dikenali.

 

Akhirnya, ia mendengar bisik-bisik orang berkata, “Besok pernikahan itu akan berlangsung.”

 

Maka sang putri bertekad dalam hati, “Aku akan mencoba merebut kembali hatinya.”

 

Pada hari pertama pesta pernikahan, sang putri memutar cincin ajaibnya dan berbisik, “Gaun yang berkilau seterang matahari.”

 

Sekejap saja, gaun itu tergeletak di hadapannya, bersinar bagaikan benar-benar ditenun dari cahaya mentari.

 

Ketika semua tamu telah berkumpul, ia masuk ke dalam aula. Semua orang terpesona oleh keindahan gaun itu, terutama sang calon pengantin perempuan. Sebab tak ada yang lebih ia sukai selain pakaian indah, maka ia mendekati gadis asing itu dan berkata, Maukah kau menjual gaun itu padaku?”

 

“Bukan dengan uang,” jawab sang putri, “tapi bila aku diizinkan melewati malam pertama di depan pintu kamar di mana tunanganmu tidur, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”

 

Keinginan memuaskan hasratnya lebih besar daripada pertimbangan lain, maka gadis itu setuju. Namun sebelum malam tiba, ia menuangkan ramuan tidur ke dalam anggur yang diminum tunangannya. Sehingga ketika ia berbaring, pemuda itu terlelap begitu dalam.

 

Saat semua rumah sunyi, sang putri mendekam di pintu kamar, membukanya sedikit, lalu merintih lirih,

“Penabuh genderang, dengarkanlah seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”

 

Namun semua sia-sia. Sang Penabuh Genderang tidur begitu pulas, tak mendengar sedikit pun. Dan ketika fajar merekah, sang putri dipaksa pergi diam-diam seperti ia datang.

 

Pada malam kedua, ia kembali memutar cincin ajaibnya dan berbisik, “Gaun yang bersinar lembut seperti cahaya bulan.”

 

Sekejap saja, gaun itu terbentang di hadapannya, sehalus dan selembut sinar rembulan.

 

Ketika ia muncul dalam pesta dengan gaun itu, semua mata terpana. Sekali lagi, sang mempelai perempuan dilanda hasrat memilikinya, dan kembali memohon untuk membelinya.

 

“Bukan dengan uang,” jawab sang putri, “tapi bila aku diizinkan melewati malam kedua di depan pintu kamar tunanganmu, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”

 

Dan ia pun setuju. Seperti malam sebelumnya, ia menuangkan ramuan tidur ke dalam anggur pemuda itu. Maka sekali lagi, sang Penabuh Genderang terbaring dalam tidur yang dalam.

 

Dalam kesunyian malam, putri itu merintih lirih di pintu kamar,

“Penabuh genderang, dengarkanlah seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”

 

Namun kali ini pun sia-sia. Pemuda itu tak bergeming. Pagi tiba, dan dengan hati hancur, sang putri kembali ke gubuknya di hutan.

 

Tetapi, orang-orang di rumah itu telah mendengar rintihannya. Mereka menceritakan kepada mempelai pria, dan juga berbisik kepadanya bahwa mustahil ia dapat mendengarnya, sebab calon istrinya sendiri telah menuangkan ramuan tidur ke dalam anggurnya.

 

Pada malam ketiga, sang putri memutar cincin ajaibnya lagi dan berbisik, “Gaun yang berkilauan seperti bintang-bintang di langit.”

 

Sekejap saja, gaun itu terhampar di hadapannya, berkelip-kelip bagai langit malam yang dipenuhi cahaya bintang.

 

Ketika ia tampil di pesta dengan gaun itu, semua mata terpesona. Gaun ini jauh lebih gemilang daripada dua gaun sebelumnya. Sang mempelai perempuan menjadi tak sabar, hampir kehilangan kendali, dan berkata, “Gaun ini harus menjadi milikku, apa pun harganya!”

 

Seperti sebelumnya, sang putri menyerahkan gaun itu dengan syarat:, “Bila aku diizinkan melewati malam ketiga di depan pintu kamar tunanganmu, maka gaun ini akan menjadi milikmu.”

 

Namun kali ini, sang Penabuh Genderang berhati-hati. Anggur yang disodorkan kepadanya ia tuang ke belakang ranjang, tidak diminum.

 

Dan ketika malam menjadi hening, terdengarlah suara merintih lirih dari pintu kamar:

“Penabuh genderang, dengarkanlah seruanku!
Apakah kau sudah lupa, dulu kau begitu menyayangiku?
Apakah kau lupa, berjam-jam kita duduk di Gunung Kaca?
Bahwa hidupmu kuselamatkan dari kuasa penyihir jahat?
Apakah janji setiamu padaku telah kau ingkari?
Penabuh genderang, dengarlah aku di sini!”

 

Tiba-tiba, ingatan kembali memenuhi benaknya. Ia meloncat bangkit dan berseru, “Oh, betapa mungkin aku begitu lalai! Ciuman yang kuberikan pada pipi kanan orang tuaku, itulah yang membuatku lupa segalanya!”

 

Ia bergegas menghampiri pintu, menggenggam tangan sang putri, lalu membawanya masuk ke hadapan ayah dan ibunya.

 

“Inilah tunanganku yang sejati,” katanya dengan tegas. “Bila aku menikahi perempuan lain, maka aku berbuat kesalahan besar.”

 

Orang tuanya mendengar seluruh kisah, dan akhirnya memberikan restu. Maka lampu-lampu di aula dinyalakan kembali, genderang dan terompet dibunyikan, sanak saudara dan sahabat dipanggil datang, dan pesta pernikahan yang sesungguhnya pun dirayakan dengan sukacita.

 

Sang mempelai yang pertama menerima tiga gaun indah itu sebagai penghiburan, dan mengaku puas.

Komentar