KHM 192 - Der Meisterdieb (Sang Pencuri Ulung)

 

Sang Pencuri Ulung

Pada suatu hari, di depan sebuah rumah kecil yang amat sederhana, duduklah seorang lelaki tua bersama istrinya. Mereka tengah beristirahat sejenak dari pekerjaan mereka. Tiba-tiba datanglah sebuah kereta indah, ditarik oleh empat ekor kuda hitam gagah. Dari dalamnya turunlah seorang pria berbusana mewah.

 

Sang petani berdiri, mendekat kepadanya, lalu bertanya apa yang ia kehendaki dan bagaimana ia bisa melayaninya. Orang asing itu mengulurkan tangan kepada si tua dan berkata, “Aku tak menginginkan apa pun, hanya ingin sekali saja menikmati hidangan desa yang sederhana. Siapkanlah kentang sebagaimana biasanya kalian memakannya; aku ingin duduk di meja kalian dan menyantapnya dengan penuh sukacita.”

 

Petani itu tersenyum dan menjawab. “Tentu saja, Tuan pastilah seorang Graf, atau Adipati, atau bahkan seorang Pangeran. Para bangsawan kadang-kadang memang memiliki keinginan semacam itu. Tetapi keinginanmu akan dipenuhi.”

 

Istrinya pun masuk ke dapur, mencuci dan mengupas kentang, lalu hendak membuat pangsit sederhana, sebagaimana biasa dimakan orang desa. Sementara sang istri sibuk di dapur, si petani berkata kepada orang asing itu, “Mari, ikutlah denganku ke kebun rumahku, karena masih ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

 

Di kebun, ia telah menggali beberapa lubang dan hendak menanam pohon-pohon muda. Orang asing itu bertanya, “Tidakkah kau punya anak yang dapat membantumu bekerja?”

 

“Tidak,” jawab sang petani, “aku memang pernah punya seorang putra,” tambahnya lirih, “tapi ia sudah lama pergi merantau ke dunia luas. Ia anak yang sulit diatur, pandai namun licik. Ia tak mau belajar apa pun dan hanya membuat ulah. Pada akhirnya ia lari dariku, dan sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabarnya.”

 

Sang petani lalu mengambil sebuah bibit pohon kecil, menaruhnya ke dalam lubang, dan menancapkan sebuah tonggak di sampingnya. Setelah tanah ditimbunkan dan dipadatkan, ia mengikat batang pohon itu pada tonggak dengan tali jerami, di bagian bawah, tengah, dan atas.

 

“Tapi katakan padaku,” ujar sang pria asing, “mengapa kau tidak mengikat pula pohon yang di sana, yang bengkok dan penuh simpul, hampir menyentuh tanah, agar ia bisa tumbuh tegak seperti yang ini?”

 

Orang tua itu tersenyum dan berkata, “Tuan berbicara seperti yang Tuan pahami: jelas Tuan tak pernah bergelut dengan urusan berkebun. Pohon itu sudah tua dan penuh simpul, tak seorang pun bisa meluruskannya lagi. Pohon harus dibimbing sejak masih muda.”

 

“Begitu pula dengan anakmu,” kata orang asing itu, “andai saja ia dibimbing ketika masih muda, tentu ia takkan kabur. Kini ia pun pasti sudah keras dan penuh simpul.”

 

“Benar,” jawab si tua, “sudah lama ia pergi, pasti ia sudah banyak berubah.”

 

“Apakah kau masih akan mengenalinya bila ia berdiri di hadapanmu?” tanya orang asing itu.

 

“Wajahnya mungkin sulit kukenali lagi,” jawab si petani, “tapi ia memiliki tanda lahir: sebuah tahi lalat di bahunya, menyerupai biji kacang.”

 

Begitu kata-kata itu terucap, orang asing itu melepas mantelnya, menyingkap bahunya, dan memperlihatkan tahi lalat itu.

 

“Ya Tuhan!” seru si tua, “engkaulah benar-benar anakku!”

 

Dan seketika rasa cinta seorang ayah kepada putranya kembali bangkit dalam hatinya.

 

“Tapi bagaimana mungkin engkau anakku? Engkau kini seorang pria agung, hidup dalam kekayaan dan kemewahan! Bagaimana engkau meraihnya?”

 

“Ah, Ayah,” jawab sang putra, “pohon muda itu tak pernah diikat pada tonggak, maka ia tumbuh bengkok: sekarang ia sudah terlalu tua, takkan pernah tegak kembali. Bagaimana aku mendapatkan semua ini? Aku menjadi seorang pencuri. Janganlah gentar, Ayah, aku seorang pencuri ulung. Tak ada kunci atau gerendel yang mampu menghalangiku; apa pun yang kuinginkan, menjadi milikku. Tapi jangan kira aku mencuri seperti pencuri hina: aku hanya mengambil dari limpahan harta orang kaya. Orang miskin aman dariku—lebih sering aku memberi pada mereka, ketimbang mengambil. Dan apa pun yang bisa diperoleh tanpa kecerdikan atau keterampilan, itu tak pernah kusentuh.”

 

“Oh, anakku,” kata sang ayah, “tetap saja, pencuri tetaplah pencuri. Itu takkan berakhir baik.”

 

Kemudian ia membawa putranya kepada sang ibu. Ketika si ibu mendengar bahwa itu adalah putranya, ia menangis bahagia; tetapi ketika mendengar pula bahwa ia telah menjadi pencuri ulung, dua aliran air mata kembali membasahi wajahnya. Akhirnya ia berkata, “Sekalipun ia telah menjadi pencuri, ia tetaplah anakku, dan mataku telah kembali melihatnya sekali lagi.”

 

Mereka pun duduk bersama di meja, dan sang putra makan kembali hidangan miskin yang telah lama tak pernah disentuhnya.

 

Sang ayah berkata, “Jika kelak Tuan Adipati di istana mendengar siapa dirimu dan apa yang kau lakukan, ia takkan lagi mengangkatmu dalam pelukannya dan menimangmu seperti dulu saat berdiri di dekat bejana baptis. Ia akan membuatmu bergantung di tiang gantungan.”

 

“Jangan khawatir, Ayah,” jawab sang putra, “ia takkan berbuat apa-apa padaku, sebab aku memahami betul pekerjaanku. Malam ini juga aku sendiri akan pergi menemuinya.”

 

Menjelang petang, sang pencuri ulung naik ke dalam keretanya dan berangkat menuju istana. Adipati menyambutnya dengan ramah, karena mengira ia seorang bangsawan terhormat. Namun ketika orang asing itu menyatakan siapa dirinya sebenarnya, wajah sang Adipati seketika pucat pasi dan ia terdiam lama tanpa sepatah kata.

 

Akhirnya ia berkata, “Engkau adalah anak baptisku, maka kali ini aku akan mengampunimu dan memilih berlaku lembut. Tetapi karena engkau membanggakan dirimu sebagai pencuri ulung, aku hendak menguji keahlianmu. Jika engkau gagal, maka kau harus menikah dengan putri sang algojo, dan pekikan gagak akan menjadi musik pengantarmu.”

 

“Tuan Adipati,” jawab sang pencuri, “tentukanlah tiga tugas sesulit apa pun, dan bila aku tak sanggup menunaikannya, maka lakukanlah sesukamu terhadapku.”

 

Adipati termenung sejenak, lalu berkata, “Baiklah. Pertama, kau harus mencuri kuda kesayanganku dari kandang. Kedua, kau harus mencuri kain sprei dari bawah tubuhku dan tubuh istriku saat kami terlelap, tanpa kami sadari, dan sekaligus mencuri cincin kawin dari jari istriku. Ketiga dan terakhir, kau harus mencuri Pendeta dan Kastor dari gereja. Ingatlah baik-baik, sebab nyawamulah taruhannya.”

 

Sang Pencuri Ulung pun pergi menuju kota terdekat. Di sana ia membeli pakaian seorang perempuan petani tua, lalu mengenakannya. Ia juga menghitamkan wajahnya dengan warna cokelat, menggambar keriput-keriput di sana, sehingga tak seorang pun dapat mengenalinya lagi.

 

Akhirnya ia mengisi sebuah gentong kecil dengan anggur tua dari Hongaria, yang telah dicampur dengan ramuan tidur yang amat kuat. Gentong itu ia letakkan di atas sebuah keranjang kayu, lalu ia pikul di punggungnya. Dengan langkah goyah dan penuh kepura-puraan, ia pun berjalan menuju istana sang Adipati.

 

Hari sudah gelap ketika ia tiba. Ia duduk di halaman, di atas sebuah batu, lalu mulai batuk-batuk seperti seorang perempuan tua pengidap penyakit asma. Sambil menggosok-gosokkan tangannya seakan-akan kedinginan, ia menunggu.

 

Di depan pintu kandang kuda, beberapa prajurit sedang berbaring di sekeliling api unggun. Salah satu dari mereka melihat perempuan itu dan berseru, “Hei, mendekatlah, Nenek! Hangatkan dirimu bersama kami. Engkau pasti tak punya tempat berbaring malam ini, ambillah apa yang ada.”

 

Si “nenek” pun berjalan tertatih mendekat, memohon agar mereka membantu menurunkan keranjang dari punggungnya, lalu duduk di sisi api unggun.

 

“Apa yang kau bawa dalam gentongmu itu, wahai nenek renta?” tanya seorang prajurit.

 

“Sedikit anggur tua,” jawabnya, “aku mencari nafkah dengan menjualnya. Dengan uang atau sekadar kata-kata manis, aku dengan senang hati menuangkan segelas untuk kalian.”

 

“Kalau begitu tuangkanlah kemari!” kata prajurit itu. Ia meneguk segelas penuh, lalu berseru, “Wah, anggurnya nikmat sekali! Kalau begini, aku ingin minum segelas lagi.” Ia pun meminta dituang kembali, dan yang lain mengikuti jejaknya.

 

“Hei, kawan-kawan di dalam kandang!” seru salah satu dari mereka kepada prajurit yang berjaga di dalam, “di sini ada seorang nenek dengan anggur yang setua dirinya sendiri. Ambillah sedikit, anggur ini lebih menghangatkan perut daripada api unggun kita.”

 

Si “nenek” pun membawa gentongnya ke dalam kandang. Seorang prajurit tengah duduk di atas kuda kesayangan sang Adipati, yang sudah dipasangi pelana. Seorang lain menggenggam kendali, dan seorang ketiga memegang ekornya. Ia menuangkan anggur untuk mereka sebanyak yang diminta, hingga gentongnya hampir kosong.

 

Tak lama, kendali terlepas dari tangan yang memegangnya, prajurit itu pun jatuh terlelap dengan dengkuran keras. Yang lain melepaskan ekor kuda, merebahkan diri, dan mendengkur lebih nyaring lagi. Bahkan prajurit yang duduk di atas pelana pun tak tahan—ia tetap di sana, tapi kepalanya merosot hingga hampir menyentuh leher kuda, mulutnya terbuka, bernafas berat bagaikan alat peniup api pandai besi.

 

Prajurit-prajurit di luar pun sudah lama tidur pulas, tergeletak di tanah tanpa bergerak, seakan-akan berubah menjadi batu.

 

Melihat rencananya berhasil, sang Pencuri Ulung menukar kendali di tangan prajurit yang tertidur dengan seutas tali, dan mengganti ekor yang digenggam prajurit lain dengan seikat jerami. Tapi bagaimana dengan yang masih duduk di atas kuda? Ia tak bisa sekadar melemparnya turun, sebab itu bisa membangunkan yang lain dan menimbulkan keributan.

 

Namun ia segera menemukan akal. Ia membuka ikatan pelana, lalu mengambil beberapa tali yang tergantung pada dinding, mengikatkannya pada pelana, dan menarik si prajurit yang tertidur itu bersama pelananya naik ke udara. Ia membelitkan tali itu pada tiang, lalu mengikatnya erat, sehingga sang prajurit tetap tergantung di sana, terlelap.

 

Kini kuda itu dengan mudah dapat ia lepaskan dari rantainya. Tapi bila ia menuntunnya melewati lantai batu di halaman, suara derapnya pasti akan terdengar sampai ke istana. Maka ia membungkus keempat kuku kuda itu dengan kain-kain lap tua, lalu menuntunnya perlahan keluar, menaikinya, dan segera melarikan diri.

 

Ketika fajar merekah, sang Pencuri Ulung sudah menunggang kuda curian itu kembali menuju istana. Sang Adupati baru saja bangun dari tidurnya dan berdiri di jendela ketika ia melihatnya.

 

“Selamat pagi, Tuan Adipati!” serunya riang. “Inilah kuda yang berhasil kucuri dari kandangmu. Lihatlah, betapa lelap para prajuritmu di sana, dan bila Tuan masuk ke kandang, Tuan akan melihat betapa nyamannya para penjagamu tidur.”

 

Sang Adipati tak kuasa menahan tawa. Namun ia berkata, “Sekali ini kau berhasil, tapi yang kedua tak akan semudah itu. Ingat, bila aku mendapati kau bertindak sebagai pencuri, aku pun akan memperlakukanmu seperti pencuri.”

 

Ketika sang Adipati dan istrinya malam itu hendak beristirahat, sang istri mengatupkan tangannya rapat-rapat, menggenggam cincin kawinnya dengan erat. Dan sang Adipati berkata, “Semua pintu telah terkunci dan terpasang palang. Aku sendiri akan tetap terjaga, menanti sang pencuri; dan jika ia mencoba masuk lewat jendela, akan kutembak ia mati.”

 

Namun Sang Pencuri Ulung telah lebih dahulu menyiapkan siasat. Ia berjalan ke arah tiang gantungan di luar kota, memotong jenazah seorang malang yang tergantung di sana, dan memanggulnya di punggung. Lalu ia membawanya menuju istana Adipati.

 

Di sana, ia menyandarkan sebuah tangga panjang ke dinding kamar tidur sang Adipati, mengangkat mayat itu ke pundaknya, dan mulai memanjat. Ketika kepala si malang itu tampak muncul di jendela, Adipati yang bersembunyi di tempat tidurnya segera melepaskan tembakan pistol ke arahnya.

 

Sekejap Sang Pencuri Ulung melepaskan jenazah itu, menjatuhkannya ke bawah, lalu melompat turun dari tangga dan bersembunyi di sebuah sudut gelap.

 

Malam diterangi cahaya bulan, dan dari persembunyiannya ia dapat melihat jelas bagaimana sang Adipati turun lewat jendela, memanggul jenazah itu, dan membawanya ke kebun. Di sana, sang Adipati mulai menggali sebuah lubang untuk menguburkannya.

 

“Sekaranglah saatnya,” pikir si Pencuri, dan dengan cepat ia berlari dari tempat persembunyiannya, memanjat tangga, dan masuk langsung ke kamar tidur sang Adipati.

 

“Sayangku,” ucapnya dengan suara menirukan Adipati, “sang pencuri telah mati. Tetapi ia adalah anak baptisku, dan lebih seorang penipu licik daripada orang jahat sungguhan. Aku tidak tega menyerahkannya pada aib di depan umum. Aku pun turut berbelas kasih kepada kedua orangtuanya yang miskin. Karena itu, sebelum fajar menyingsing, aku sendiri akan menguburkannya diam-diam di kebun, agar tak ada yang tahu. Berikanlah aku sprei tempat tidur, supaya dapat kupakai untuk membungkus tubuhnya, dan kuletakkan ia di tanah seperti seekor anjing.”

 

Sang istri, percaya penuh, menyerahkan sprei itu kepadanya.

 

“Tahukah kau,” lanjut Sang Pencuri, masih dengan suara Adipati, “aku merasa tersentuh oleh kemurahan hati. Berikan pula cincinmu kepadaku. Biar si malang itu membawanya bersamanya ke dalam kubur, sebagai bekal terakhir.”

 

Sang istri enggan, namun tak ingin menentang suaminya. Dengan berat hati ia melepaskan cincin kawinnya dari jari, dan menyerahkannya.

 

Sang Pencuri segera bergegas pergi, membawa serta sprei dan cincin itu, dan ia tiba di rumahnya dengan selamat, bahkan sebelum Adipati selesai menutup lubang di kebun.

 

Keesokan paginya, Sang Pencuri datang dengan wajah penuh kemenangan, mempersembahkan sprei dan cincin itu kepada Adipati.

 

“Apakah kau seorang penyihir?” seru Adipati terperanjat. “Siapa yang membangkitkanmu dari kubur tempat aku sendiri telah membaringkanmu, dan menghidupkanmu kembali?”

 

“Bukan aku yang Tuan kuburkan,” jawab Sang Pencuri tenang, “melainkan seorang malang yang tergantung di tiang gantungan.” Dan ia menceritakan panjang lebar bagaimana semua itu terjadi.

 

Adipati pun tak dapat berbuat lain kecuali mengakui bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pencuri yang benar-benar cerdas dan penuh tipu daya.

 

Namun ia berkata, “Sekalipun demikian, tugasmu belum selesai. Masih ada tugas ketiga yang harus kau jalani. Jika kali ini kau gagal, maka segalanya tak akan menolongmu lagi.”

 

Sang Pencuri hanya tersenyum, tanpa sepatah kata.

 

Ketika malam tiba, Sang Pencuri Ulung datang membawa sebuah karung panjang di punggungnya, sebuah buntalan di bawah lengannya, dan sebuah lentera di tangannya, menuju gereja desa.

 

Dalam karung itu ada kepiting-kepiting, sementara di buntalan kecil itu tersimpan lilin-lilin pendek dari lilin lebah.

 

Ia duduk di pemakaman, mengeluarkan seekor kepiting dari karung, menempelkan lilin kecil pada punggungnya, lalu menyalakan nyalanya, dan melepaskannya merayap di tanah. Setelah itu ia mengeluarkan kepiting kedua, melakukan hal yang sama, dan terus begitu hingga semua kepiting dikeluarkannya dari karung.

 

Kemudian ia mengenakan sebuah jubah hitam panjang yang menyerupai jubah rahib, dan menempelkan janggut abu-abu pada dagunya. Setelah penyamarannya sempurna, ia mengambil karung kosong dan masuk ke dalam gereja, lalu naik ke atas mimbar.

 

Tepat ketika jam menara berdentang dua belas kali, dan bunyi terakhir pun memudar, ia berseru dengan suara lantang dan menusuk telinga, “Dengarlah, kalian manusia penuh dosa! Segala sesuatu akan segera berakhir, hari kiamat telah dekat! Dengarlah! Dengarlah! Siapa yang ingin naik bersamaku ke surga, hendaklah ia masuk ke dalam karung ini. Akulah Petrus, yang membuka dan menutup pintu surga. Lihatlah, di luar sana di halaman gereja, para arwah yang telah mati sedang berjalan, mengumpulkan tulang-tulang mereka. Mari, datanglah, masuklah ke dalam karung, sebab dunia ini akan segera musnah!”

 

Teriakan itu bergema ke seluruh desa.

 

Pendeta dan koster, yang tinggal di dekat gereja, mendengarnya paling dahulu. Ketika mereka melihat cahaya lilin-lilin kecil berkelip dan bergerak di halaman pemakaman, mereka pun sadar ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi, lalu segera masuk ke dalam gereja.

 

Mereka mendengarkan sejenak khotbah di mimbar. Kemudian koster menyenggol pendeta dan berbisik, “Bukankah ini kesempatan baik? Kita bisa memanfaatkan saat ini untuk masuk ke surga dengan mudah, sebelum hari kiamat benar-benar datang.”

 

“Benar juga,” jawab pendeta, “itulah yang juga kupikirkan. Jika engkau berkenan, mari kita bersama-sama mencobanya.”

 

“Tentu saja,” kata koster, “tapi Tuan Pendeta, silakan Tuan yang lebih dahulu. Aku akan mengikut sesudahmu.”

 

Maka sang pendeta melangkah maju lebih dulu, naik ke mimbar, di mana Sang Pencuri Ulung telah membuka mulut karung lebar-lebar. Pendeta itu pun merangkak masuk ke dalamnya, dan koster menyusul di belakang.

 

Sekejap Sang Pencuri mengikat mulut karung erat-erat, mengangkatnya dengan susah payah, lalu menyeretnya menuruni tangga mimbar. Setiap kali kepala kedua orang tolol itu terbentur anak tangga, ia berseru, “Nah, sekarang kita sudah mendaki gunung!”

 

Kemudian ia menyeret mereka melewati jalan desa. Dan setiap kali melewati genangan air, ia berkata, “Sekarang kita sedang melalui awan-awan basah!”

 

Akhirnya, ketika ia menyeret mereka menaiki tangga istana, ia berseru, “Nah, sekarang kita berada di tangga surga, sebentar lagi kita sampai di pelataran!”

 

Sesampainya di atas, ia mendorong karung itu masuk ke dalam rumah merpati. Begitu para merpati berkelepak, ia berkata, “Dengar itu? Para malaikat sedang bersuka ria, mengepakkan sayap mereka!”

 

Setelah itu ia menutup palang pintu dengan rapat, lalu pergi.

 

Keesokan paginya ia pergi menghadap Adipati dan berkata bahwa tugas ketiga pun telah ia selesaikan, dan bahwa ia telah membawa pendeta dan koster keluar dari gereja.

 

“Di mana mereka sekarang?” tanya sang Adipati.

 

“Mereka terbaring di atas sana, di dalam karung di rumah merpati, dan mereka menyangka diri mereka telah berada di surga.”

 

Adipati sendiri naik ke atas, dan meyakinkan dirinya bahwa si Pencuri Ulung berkata benar. Setelah ia melepaskan pendeta dan koster dari kurungan mereka, ia berkata, “Engkau benar-benar seorang pencuri ulung, dan engkau telah memenangkan taruhannya. Untuk kali ini engkau boleh pergi dengan selamat, tetapi pastikan engkau meninggalkan negeriku. Sebab jika suatu saat kau menjejakkan kakimu kembali di sini, maka kau bisa yakin tiang gantunganlah yang menantimu.”

 

Maka Sang Pencuri Ulung pun berpamitan pada kedua orangtuanya, lalu sekali lagi berangkat mengembara ke dunia luas, dan tak seorang pun pernah mendengar kabarnya lagi.

Komentar