KHM 182 - Die Geschenke des kleinen Volkes (Hadiah dari Kaum Kecil)

 

Hadiah dari Kaum Kecil

Seorang penjahit dan seorang pandai emas sedang mengembara bersama. Pada suatu senja, ketika matahari telah tenggelam di balik pegunungan, mereka mendengar alunan musik yang datang dari kejauhan, yang makin lama terdengar makin jelas. Bunyi itu terdengar aneh, namun begitu merdu, hingga mereka melupakan segala letih dan melangkah lebih cepat.

 

Bulan sudah naik tinggi ketika mereka tiba di sebuah bukit. Di sana mereka melihat sekumpulan lelaki dan perempuan kecil yang saling bergandengan tangan dan berputar-putar dalam tarian dengan sukacita dan keriangan besar. Mereka bernyanyi dengan begitu indah, dan itulah musik yang didengar oleh kedua pengembara tadi.

 

Di tengah-tengah lingkaran itu duduk seorang lelaki tua, sedikit lebih besar daripada yang lain. Ia mengenakan mantel berwarna-warni, dan janggutnya yang kelabu keperakan menjuntai sampai ke dadanya.

 

Keduanya berdiri terpaku, penuh keheranan, menyaksikan tarian itu. Lalu si lelaki tua memberi isyarat agar mereka ikut masuk, dan kaum kecil itu segera membuka lingkaran mereka dengan ramah.

 

Pandai emas itu, yang bertubuh bungkuk namun berani sebagaimana kebanyakan orang bongkok, melangkah masuk terlebih dahulu. Penjahit itu mula-mula merasa gentar dan menahan diri, tetapi ketika melihat betapa riangnya suasana, ia memberanikan hati dan ikut menyusul.

 

Sekejap kemudian lingkaran menutup kembali, dan kaum kecil itu terus bernyanyi serta menari dengan lompatan-lompatan yang liar dan penuh semangat.

 

Namun si lelaki tua mengambil sebilah pisau besar yang tergantung di sabuknya, lalu mengasahnya. Setelah tajam secukupnya, ia memandang ke arah kedua orang asing itu. Hati mereka diliputi ketakutan, tetapi mereka tak sempat lama berfikir. Lelaki tua itu menangkap pandai emas lebih dulu, dan secepat kilat mencukur habis rambut kepala dan jenggotnya hingga licin. Hal yang sama kemudian dilakukan pada si penjahit.

 

Namun rasa takut mereka lenyap begitu pekerjaan itu selesai, sebab si lelaki tua menepuk bahu mereka berdua dengan ramah, seolah hendak berkata bahwa mereka telah berlaku baik karena membiarkan semuanya terjadi tanpa melawan sedikit pun.

 

Lalu ia menunjuk dengan jarinya pada sebuah tumpukan arang yang terletak di samping, dan melalui gerak tubuhnya menyuruh mereka mengisi kantong dengan arang itu. Kedua pengembara itu pun patuh, meskipun mereka sama sekali tidak tahu apa gunanya arang tersebut, dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat beristirahat malam itu.

 

Ketika mereka telah sampai di lembah, lonceng biara di dekat sana berdentang dua belas kali. Seketika nyanyian pun terhenti, segalanya lenyap, dan bukit itu kembali sunyi dalam cahaya bulan.

 

Kedua pengembara itu menemukan sebuah penginapan dan membaringkan diri di atas jerami, menutupi tubuh mereka dengan mantel. Karena sangat letih, mereka lupa mengeluarkan arang dari kantong sebelum tidur.

 

Sebuah beban berat menindih tubuh mereka, hingga mereka terbangun lebih awal dari biasanya. Mereka merogoh kantong, dan betapa terkejutnya mereka ketika mendapati bahwa kantong itu kini tidak lagi berisi arang, melainkan penuh dengan emas murni. Rambut kepala dan jenggot mereka pun telah tumbuh kembali dengan subur seperti sediakala.

 

Maka jadilah mereka orang-orang kaya. Namun pandai emas, yang sesuai dengan tabiat serakahnya telah mengisi kantong lebih penuh, memiliki kekayaan dua kali lipat dari si penjahit. Tetapi orang tamak, meski telah banyak, selalu menginginkan lebih. Maka pandai emas itu mengusulkan kepada penjahit agar mereka tinggal satu hari lagi, dan pada malam berikutnya pergi kembali ke bukit itu untuk memperoleh harta yang lebih besar dari si lelaki tua.

 

Penjahit tidak mau dan berkata, “Aku sudah cukup dan aku puas. Kini aku akan menjadi seorang tuan penjahit dan membuka usahaku sendiri, menikahi kekasihku (sebab demikianlah ia menyebut gadis pujaannya) dan aku akan menjadi lelaki yang berbahagia.”

 

 

Namun demi menyenangkan sahabatnya, ia pun setuju tinggal sehari lagi.

 

Maka pada malam harinya, si pandai emas menggantungkan dua buah kantong di pundaknya, agar dapat menampung lebih banyak, lalu berangkat menuju bukit itu. Seperti pada malam sebelumnya, ia mendapati kaum kecil tengah bernyanyi dan menari. Lelaki tua itu kembali mencukurnya hingga licin, lalu memberi isyarat agar ia mengambil arang.

 

Tanpa ragu, ia menjejalkan sebanyak mungkin ke dalam kantong-kantongnya, lalu pulang dengan hati berbunga, dan segera membaringkan diri sambil menyelimuti tubuhnya dengan mantel. “Meski emas ini berat,” katanya, “aku rela menanggungnya.” Dan akhirnya ia pun tertidur, dibuai oleh harapan manis bahwa esok pagi ia akan bangun sebagai orang yang teramat kaya raya.

 

Namun ketika ia membuka mata dan segera meraih kantongnya, betapa terkejutnya ia! Sebab dari dalamnya tidak ia tarik apa-apa selain arang hitam, meski ia merogohinya berkali-kali. “Setidaknya emas yang kudapat pada malam sebelumnya masih tersisa,” pikirnya. Maka ia pun mengambilnya, tetapi alangkah ngerinya ia ketika melihat bahwa emas itu pun telah berubah kembali menjadi arang.

 

Dengan tangan penuh dengan jelaga hitam ia menepuk dahinya dan baru saat itu ia sadar bahwa kepalanya kini botak licin, begitu pula dagunya tempat janggutnya dahulu tumbuh. Namun kemalangannya belum berhenti sampai di sana. Ia pun merasakan bahwa pada tubuhnya kini, selain punuk di punggung, telah tumbuh pula satu punuk lain yang sama besarnya di bagian dada.

 

Barulah ia mengerti bahwa inilah hukuman atas kerakusannya, dan ia pun menangis keras. Si penjahit yang terbangun karena tangisan itu berusaha menghibur sahabatnya sebaik mungkin, katanya, “Engkau telah menjadi kawan seperjalananku, maka engkau akan tetap bersamaku, dan engkau akan ikut menikmati hartaku.”

 

Ia menepati janjinya, namun si malang pandai emas harus menanggung dua punuk itu sepanjang hidupnya, dan menutupi kepalanya yang botak dengan sebuah topi.

Komentar