KHM 180 - Die ungleichen Kinder Evas (Anak-anak Hawa yang Tak Serupa)

 

Anak-anak Hawa yang Tak Serupa

Ketika Adam dan Hawa diusir dari Firdaus, mereka harus membangun sebuah rumah di tanah yang tandus, dan makan roti dari hasil jerih payah mereka sendiri, dalam keringat wajah mereka. Adam mencangkul ladang, dan Hawa memintal wol.

 

Setiap tahun, Hawa melahirkan seorang anak. Namun anak-anak itu tidaklah serupa; ada yang rupawan, ada pula yang buruk rupa.

 

Setelah waktu yang lama berlalu, Tuhan mengutus seorang malaikat kepada mereka, membawa kabar bahwa Ia akan datang dan melihat keadaan rumah tangga mereka.

 

Hawa pun bersukacita, sebab ia merasa bahagia bahwa Tuhan begitu murah hati. Ia membersihkan rumahnya dengan rajin, menghiasinya dengan bunga, dan menaburkan alang-alan di atas lantai tanah.

 

Lalu ia memanggil anak-anaknya, tetapi hanya yang elok parasnya. Ia mencuci dan memandikan mereka, menyisir rambut mereka, mengenakan baju bersih, lalu menasihati mereka agar berperilaku sopan dan terhormat di hadapan Tuhan. Mereka harus menundukkan diri dengan anggun, menyambut-Nya dengan uluran tangan, dan menjawab pertanyaan-Nya dengan rendah hati serta penuh pengertian.

 

Adapun anak-anak yang buruk rupa tidak boleh menampakkan diri. Yang satu disembunyikannya di bawah tumpukan jerami, yang lain di bawah atap rumah; yang ketiga di antara batang-batang jerami, yang keempat di dalam tungku, yang kelima di dalam gudang bawah tanah, yang keenam di bawah sebuah bak besar, yang ketujuh di bawah tong anggur, yang kedelapan di bawah mantel bulu tuanya, yang kesembilan dan kesepuluh di bawah gulungan kain yang biasa ia gunakan untuk menjahit pakaian mereka, dan yang kesebelas serta kedua belas di bawah kulit yang darinya ia biasa memotong sepatu mereka.

 

Baru saja ia selesai bersiap-siap, terdengarlah ketukan di pintu rumah. Adam mengintip melalui celah kecil dan melihat bahwa itu adalah Tuhan sendiri. Dengan penuh hormat ia membuka pintu, dan Sang Bapa Surgawi pun masuk.

 

Di sana berdirilah anak-anak yang rupawan, berbaris rapi. Mereka menundukkan kepala, menyodorkan tangan mereka, dan berlutut di hadapan-Nya.

 

Maka Tuhan pun mulai memberkati mereka. Ia meletakkan tangan-Nya di atas kepala yang sulung dan bersabda, “Engkau akan menjadi seorang raja yang perkasa.”

 

Kepada yang kedua Ia bersabda, “Engkau seorang pangeran.”

 

Kepada yang ketiga, “Engkau seorang graf.”

 

Kepada yang keempat, “Engkau seorang kesatria.”

 

Kepada yang kelima, “Engkau seorang bangsawan.”

 

Kepada yang keenam, “Engkau seorang borjuis.”

 

Kepada yang ketujuh, “Engkau seorang saudagar.”

 

Dan kepada yang kedelapan, “Engkau seorang cendekiawan.”

 

Demikianlah Ia menganugerahkan kepada mereka semua berkat-Nya yang melimpah.

 

Ketika Hawa melihat bahwa Tuhan begitu lembut dan penuh belas kasih, ia berpikir dalam hati, “Akan kubawa juga anak-anakku yang buruk rupa; mungkin Ia pun berkenan memberi mereka berkat-Nya.”

 

Maka ia bergegas, dan mengeluarkan mereka dari jerami, dari tumpukan rumput kering, dari tungku, dan dari segala tempat persembunyian lainnya. Lalu tampillah seluruh gerombolan itu—kasar, kotor, berkeropeng, dan berjelaga.

 

Tuhan tersenyum, menatap mereka semua, lalu berkata, “Aku juga akan memberkati mereka.”

 

Ia meletakkan tangan-Nya pada anak yang pertama dan bersabda, “Engkau akan menjadi seorang petani.”

 

Kepada yang kedua, “Engkau seorang nelayan.”

 

Kepada yang ketiga, “Engkau seorang pandai besi.”

 

Kepada yang keempat, “Engkau seorang penyamak kulit.”

 

Kepada yang kelima, “Engkau seorang penenun.”

 

Kepada yang keenam, “Engkau seorang pembuat sepatu.”

 

Kepada yang ketujuh, “Engkau seorang penjahit.”

 

Kepada yang kedelapan, “Engkau seorang pembuat tembikar.”

 

Kepada yang kesembilan, “Engkau seorang kusir gerobak.”

 

Kepada yang kesepuluh, “Engkau seorang pelaut.”

 

Kepada yang kesebela, “Engkau seorang utusan.”

 

Dan kepada yang kedua belas, “Engkau seorang pelayan rumah sepanjang hidupmu.”

 

Setelah Hawa mendengar semuanya, ia berkata, “Tuhan, betapa tidak seimbang Engkau membagi berkat-Mu! Bukankah mereka semua adalah anak-anakku yang telah kulahirkan? Kasih karunia-Mu seharusnya turun sama rata kepada mereka semua.”

 

Namun Tuhan menjawab, “Hawa, engkau tidak mengerti. Aku berhak, dan memang perlu, memenuhi seluruh dunia dengan anak-anakmu. Jika mereka semua menjadi pangeran dan tuan, siapa yang akan menanam gandum, menumbuk, menggiling, dan memanggangnya? Siapa yang akan menempa besi, menenun, mendirikan rumah, membangun, menggali, mengukir, dan menuai?

 

Masing-masing harus menempati kedudukannya, agar yang satu menopang yang lain, dan semua mendapat rezeki, seperti anggota-anggota tubuh yang saling memberi hidup.”

 

Maka Hawa pun menjawab, “Ah, Tuhan, ampunilah aku. Aku telah tergesa-gesa berkata pada-Mu. Terjadilah kehendak-Mu yang kudus atas anak-anakku.”

 

Catatan Penerjemah: Graf

Dalam teks Jerman, Graf adalah sebuah gelar bangsawan tinggi di Eropa, setara dengan Count dalam bahasa Inggris, atau Comte dalam bahasa Prancis.

  •          Posisinya berada di bawah Fürst (pangeran), tetapi di atas Ritter (kesatria) dan Edelmann (bangsawan biasa).
  •          Seorang Graf biasanya memimpin sebuah wilayah yang disebut Grafschaft (county).

Karena dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan yang tepat dan kata “count” pun terasa asing bagi telinga kita, aku memilih membiarkan kata “Graf” apa adanya. Ini menjaga nuansa Eropa abad pertengahan dalam dongeng Grimm, sekaligus mengingatkan pembaca bahwa kisah ini berasal dari dunia budaya Jermanik.


Komentar