KHM 174 - Die Eule (Burung Hantu)

 

Burung Hantu

Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika manusia belumlah sepandai dan secerdik seperti sekarang, terjadi sebuah kisah aneh di sebuah kota kecil.


Tanpa sengaja, seekor burung hantu besar yang disebut Schuhu, pada suatu malam terbang dari hutan di dekatnya dan masuk ke dalam sebuah gudang milik seorang warga kota.

 

Ketika fajar menyingsing, ia tidak berani keluar lagi dari persembunyiannya, sebab takut pada burung-burung lain yang, setiap kali ia menampakkan diri, selalu menimbulkan jeritan dan kegaduhan yang mengerikan.

 

Keesokan paginya, ketika seorang pelayan masuk ke gudang untuk mengambil jerami, ia begitu terperanjat melihat burung hantu itu duduk di sudut, hingga ia lari tunggang langgang, lalu memberitahukan kepada tuannya bahwa ada seekor makhluk mengerikan, yang seumur hidupnya belum pernah ia lihat yang semacam itu sedang bersemayam di dalam gudang.
Katanya, makhluk itu memutar-mutar matanya dengan menyeramkan, dan bisa menelan manusia bulat-bulat tanpa kesulitan sedikit pun.

 

“Aku sudah tahu tabiatmu,” kata sang tuan. “Untuk mengejar seekor burung hitam di ladang, engkau punya keberanian cukup, tetapi bila melihat seekor ayam mati tergeletak, engkau mesti mengambil tongkat lebih dahulu sebelum berani mendekat. Aku sendiri harus melihat, makhluk mengerikan macam apa itu.”

 

Demikianlah ujar sang tuan. Dengan gagah ia melangkah masuk ke gudang dan memandang berkeliling. Namun ketika ia melihat sendiri hewan aneh dan menakutkan itu, ia pun dilanda rasa gentar yang tak kalah dahsyat dari si pelayan.

 

Dengan dua loncatan ia segera melarikan diri, berlari ke rumah tetangganya, dan memohon dengan sangat agar mereka mau membantunya menghadapi binatang asing dan berbahaya itu; sebab seluruh kota bisa terancam bahaya bila makhluk tersebut sampai menerobos keluar dari gudang tempat ia bersembunyi.

 

Maka timbullah hiruk-pikuk dan teriakan di segala penjuru jalan. Warga kota berdatangan, bersenjata tombak, garpu jerami, sabit, dan kapak, seolah hendak pergi berperang melawan musuh.


Akhirnya, para anggota dewan pun muncul, dengan sang walikota berdiri di barisan paling depan.

 

Sesudah mereka berbaris rapi di alun-alun, mereka pun bergerak menuju gudang dan mengepungnya dari segala sisi.

 

Kemudian, muncullah seorang dari mereka yang paling berani, melangkah masuk dengan tombak terhunus. Tetapi tak lama kemudian ia berlari keluar lagi sambil menjerit, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, dan tak sepatah kata pun sanggup ia ucapkan.

 

Dua orang lain memberanikan diri menyusul masuk, namun nasib mereka pun tak lebih baik.

 

Akhirnya tampil seorang pria besar dan perkasa, terkenal karena keberaniannya dalam peperangan. Ia berkata lantang, “Dengan hanya menatap makhluk itu, kalian tidak akan bisa mengusirnya. Di sini kita harus sungguh-sungguh. Tapi kulihat kalian semua sudah berubah menjadi wanita, dan tak seorang pun berani menghadapi makhluk itu.”

 

Ia pun meminta agar dibawakan baju zirah, pedang, dan tombak, lalu bersiap-siaplah ia dengan segala persenjataannya. Semua orang memuji keberaniannya, meski banyak pula yang cemas akan keselamatannya.

 

Kedua pintu gudang pun dibuka, dan tampaklah burung hantu bertengger di tengah, di atas sebuah balok besar yang melintang.

 

Sang pria gagah itu memerintahkan agar dibawakan sebuah tangga. Setelah ia menegakkannya dan bersiap-siap untuk memanjat, semua orang berseru kepadanya agar ia tetap teguh dan berani, dan menyerahkan dirinya kepada Santo Georgius yang pernah membunuh naga.

 

Ketika ia hampir sampai di atas, dan si burung hantu menyadari bahwa ia hendak diserang, serta menjadi bingung oleh hiruk-pikuk teriakan orang banyak, tak tahu ke mana harus lari, ia memutar bola matanya, meremang bulu-bulunya, mengembangkan sayapnya, mengatupkan paruhnya dengan bunyi keras, dan bersuara serak, “Schuhu! Schuhu!”

 

“Tusuk! Tusuk!” teriak orang banyak di luar kepada sang pahlawan gagah.

 

“Siapapun yang berdiri di tempatku berdiri,” jawabnya, “takkan berteriak ‘Tusuk!’ dengan begitu mudahnya.”

 

Ia memang sempat menapakkan kaki satu anak tangga lebih tinggi, namun segera tubuhnya gemetar, dan setengah pingsan ia pun turun kembali.

 

Kini tak ada lagi seorang pun yang bersedia menjerumuskan diri ke dalam bahaya.

 

“Sang monster itu,” kata mereka, “telah meracuni dan melukai parah lelaki terkuat yang ada di antara kita, hanya dengan mengatupkan paruhnya dan menghembuskan napasnya saja. Apakah kita yang lain juga hendak mengorbankan nyawa?”

 

Mereka lalu bermusyawarah, apa yang harus dilakukan agar seluruh kota tidak binasa. Lama segalanya terasa sia-sia belaka, hingga akhirnya sang wali kota menemukan jalan keluar.

 

“Pendapatku,” ucapnya, “ialah kita harus membayar harga gudang ini dari kas bersama beserta segala isinya: gandum, jerami, dan rumput kering, sehingga pemiliknya tak menderita kerugian. Lalu kita bakar seluruh bangunan itu, bersama dengan binatang mengerikan di dalamnya.

 

Dengan begitu, tak seorang pun perlu mempertaruhkan nyawanya. Inilah saatnya untuk tidak berhemat; kikir di sini akan salah tempatnya.”

 

Semua pun menyetujui usulnya. Maka gudang itu dibakar pada keempat sudutnya, dan bersama api itu burung hantu malang itu hangus terbakar.

 

Siapa pun yang tidak percaya, silakan datang ke sana dan tanyakan sendiri.


Komentar