KHM 173 - Rohrdommel und Wiedehopf (Bambangan dan Hudhud)

 

Bambangan dan Hudhud

“Di mana engkau paling senang menggembalakan ternakmu?” tanya seorang lelaki kepada seorang penggembala sapi tua.

 

“Di sini, Tuan, di padang rumput yang tidak terlalu subur namun juga tidak terlalu gersang; kalau tidak demikian, tiada gunanya,” jawab sang gembala.

 

“Mengapa begitu?” tanya si lelaki.

 

“Tidakkah Tuan dengar panggilan berat dari arah padang itu?” sahut gembala. “Itu suara burung Bambangan; dahulu ia adalah seorang gembala. Dan burung Hudhud itu pun sama. Izinkanlah aku ceritakan kisahnya.”

 

Burung Bambangan dulu menggembalakan ternaknya di padang-padang rumput yang gemuk dan hijau, tempat bunga tumbuh berlimpah. Karena itu sapinya menjadi liar dan sulit dikendalikan.

 

Burung Hudhud sebaliknya, menggiring sapinya ke bukit-bukit tinggi yang tandus, tempat angin hanya bermain-main dengan pasir. Sapi-sapinya pun menjadi kurus kering dan tak pernah memperoleh kekuatan.

 

Ketika malam tiba dan para gembala hendak menggiring ternak mereka pulang, si Bambangan tak mampu lagi mengumpulkan sapinya; mereka terlalu berani dan nakal, lalu melompat pergi darinya. Ia berseru, “Bunt, herüm, bunt, herüm” (mari, sapi, mari). Namun sia-sia belaka, tak seekor pun menggubris panggilannya.

 

Sedangkan si Hudhud bahkan tak sanggup membuat sapinya berdiri di atas kaki mereka, begitu lemah dan lunglainya hewan-hewan itu. Ia menjerit, “Up, up, up!” (bangun, bangun, bangun), tetapi tak ada gunanya; sapi-sapi itu tetap tergeletak di atas pasir.

 

Begitulah jadinya bila seseorang tidak tahu menjaga keseimbangan. Dan hingga hari ini, meskipun mereka tak lagi menggembalakan ternak, si Bambangan masih berseru, “Bunt, herüm, bunt, herüm” (mari, sapi, mari), dan si Hudhud masih menjerit, “Up, up, up!” (bangun, bangun, bangun).

Komentar