KHM 169 - Das Waldhaus (Pondok di Hutan)

 

Pondok di Hutan

Seorang penebang kayu miskin tinggal bersama istrinya dan tiga putrinya di sebuah gubuk kecil di tepi hutan sunyi. Suatu pagi, ketika ia hendak berangkat bekerja, ia berkata kepada istrinya, “Biar makan siangku dibawakan ke hutan oleh putri sulung kita, kalau tidak, aku tak akan pernah bisa menyelesaikan pekerjaanku. Dan supaya ia tidak tersesat,” tambahnya, “aku akan membawa sekarung biji milet, dan menaburkannya di sepanjang jalan.”

Maka ketika matahari tepat berada di atas hutan, anak sulung itu pun berangkat sambil membawa semangkuk sup. Namun burung pipit ladang dan pipit hutan, burung gereja dan pipit, burung hitam dan siskin telah lebih dulu memakan biji-biji milet itu, sehingga si gadis tidak dapat menemukan jejak jalan.

Ia lalu menyerahkan diri pada keberuntungan, berjalan terus dan terus, sampai matahari terbenam dan malam mulai turun. Pepohonan berderak di dalam kegelapan, burung hantu bersuara seram, dan hatinya dipenuhi rasa takut.

Di kejauhan, ia melihat cahaya berkelip di antara pepohonan.

“Pasti ada orang tinggal di sana, mereka bisa memberiku tempat untuk bermalam,” pikirnya, dan ia pun berjalan menuju cahaya itu.

Tak lama kemudian, sampailah ia di sebuah pondok yang jendela-jendelanya menyala terang. Ia mengetuk, dan sebuah suara kasar dari dalam berseru, “Masuklah.”

Gadis itu melangkah ke serambi gelap, lalu mengetuk pintu sebuah ruangan.

“Masuk saja,” terdengar lagi suara itu.

Ketika pintu dibuka, ia melihat seorang lelaki tua berambut kelabu duduk di meja, wajahnya ditopang kedua tangannya, sementara janggut putihnya terjuntai ke bawah, hampir menyentuh lantai. Di dekat tungku terbaring tiga hewan: seekor ayam betina, seekor ayam jantan, dan seekor sapi belang.

Gadis itu menceritakan kisahnya, lalu memohon agar diizinkan bermalam. Lelaki tua itu berkata,
“Ayam betina nan manis,
Ayam jantan nan manis,
Dan sapi belang nan manis,
Apa katamu tentang itu?”

“Duks,” jawab hewan-hewan itu. Dan itu pasti berarti, Kami bersedia, sebab lelaki tua itu lalu berkata, “Di sini engkau akan mendapat tempat tinggal dan makanan, pergilah ke dapur, dan masakkan makan malam untuk kita.”

Gadis itu menemukan segalanya berlimpah di dapur, dan ia pun menyiapkan hidangan yang lezat. Namun sedikit pun ia tidak memikirkan hewan-hewan itu. Ia membawa piring-piring penuh ke meja, duduk di sisi lelaki tua berambut kelabu, makan, dan memuaskan laparnya.

Setelah kenyang, ia berkata, “Tapi sekarang aku lelah. Di mana ada ranjang untukku berbaring dan tidur?”

Hewan-hewan itu menjawab,
“Engkau telah makan bersamanya,
Engkau telah minum bersamanya,
Engkau tak pernah memikirkan kami,
Maka carilah sendiri tempatmu bermalam.”

Lalu lelaki tua itu berkata, “Naiklah ke atas, engkau akan menemukan sebuah kamar dengan dua ranjang. Rapikanlah, dan pasangkan sprei putih di atasnya. Kemudian aku pun akan datang dan tidur.”

Gadis itu naik ke atas, dan setelah merapikan ranjang serta memasang seprai bersih, ia langsung berbaring di salah satunya, tanpa menunggu lelaki tua itu.

Beberapa saat kemudian, lelaki berambut kelabu itu datang membawa lilin, menatap gadis itu, lalu menggelengkan kepala. Ketika dilihatnya si gadis telah tertidur lelap, ia membuka pintu rahasia, dan menjatuhkannya ke ruang bawah tanah.

Larut malam, si penebang kayu pulang ke rumah dan menegur istrinya karena membiarkannya kelaparan seharian.

“Itu bukan salahku,” jawab si wanita, “anak gadis itu sudah berangkat membawa makan siangmu, tapi mungkin ia tersesat. Namun ia pasti akan kembali esok.”

Namun si penebang kayu sudah bangun sebelum fajar untuk kembali ke hutan, dan ia meminta putrinya yang kedua untuk membawakan makan siangnya hari itu.

“Aku akan membawa sebungkus lentil,” katanya. “Biji itu lebih besar daripada millet, gadis itu akan lebih mudah melihatnya, dan tak mungkin tersesat.”

Maka ketika waktu makan siang tiba, sang gadis berangkat membawa makanan. Namun butiran lentil itu sudah lenyap. Burung-burung hutan telah mematuknya habis, seperti yang mereka lakukan sehari sebelumnya, dan tak meninggalkan sebutir pun.

Gadis itu berkelana di hutan hingga malam menjelang, dan akhirnya ia pun sampai ke pondok si pria tua. Ia dipersilakan masuk, dan memohon makanan serta tempat tidur. Si pria berjanggut putih kembali bertanya kepada hewan-hewan peliharaannya:
“ Ayam betina nan manis,
Ayam jantan nan manis,
Dan sapi belang nan manis,
Bagaimana menurut kalian tentang itu?”

Hewan-hewan itu kembali menjawab, “Duks,” dan segalanya terjadi persis seperti sehari sebelumnya. Gadis itu memasak hidangan lezat, duduk makan dan minum bersama si pria tua, namun sama sekali tidak peduli pada hewan-hewan itu. Dan ketika ia bertanya tentang tempat tidurnya, mereka menjawab:
“Engkau telah makan bersamanya,
Engkau telah minum bersamanya,
Engkau tak pernah memikirkan kami,
Maka carilah sendiri di mana engkau akan bermalam.”

Ketika ia terlelap, si pria tua masuk, memandanginya, menggelengkan kepala, lalu menjatuhkannya ke dalam ruang bawah tanah.

Pada pagi ketiga, si penebang kayu berkata kepada istrinya, “Kirimkanlah anak kita yang bungsu dengan makan siangku hari ini. Ia selalu baik dan patuh, akan tetap berada di jalan yang benar, dan tidak berlari ke sana kemari mengejar setiap kumbang liar seperti kakak-kakaknya.”

Sang ibu enggan melakukannya, dan berkata, “Haruskah aku kehilangan anakku yang paling kusayangi juga?”

“Jangan takut,” jawab si penebang kayu, “gadis itu tidak akan tersesat; ia terlalu bijak dan berhati-hati. Selain itu aku akan membawa kacang polong dan menebarkannya di jalan. Ukurannya lebih besar daripada lentil, dan akan menunjukkan arah dengan jelas.”

Namun, ketika gadis itu berangkat dengan keranjang di lengannya, burung-burung merpati hutan sudah lebih dulu memakan habis semua kacang polong itu, sehingga ia tak tahu harus berbelok ke mana.

Hatinya dipenuhi kesedihan, dan ia tak henti-hentinya memikirkan betapa ayahnya akan kelaparan, dan betapa ibunya yang baik akan bersedih bila ia tak pulang.

Akhirnya, ketika hari semakin gelap, ia melihat cahaya berkilau, dan tibalah ia di pondok di dalam hutan itu. Dengan sopan ia memohon diizinkan bermalam di sana, dan si pria tua berjanggut putih sekali lagi bertanya kepada hewan-hewan peliharaannya:
“ Ayam betina nan manis,
Ayam jantan nan manis,
Dan sapi belang nan manis,
Bagaimana menurut kalian tentang itu?”

“Duks,” jawab mereka.

Maka gadis itu pun pergi ke dekat tungku, tempat hewan-hewan itu berbaring. Ia membelai ayam jantan dan betina, mengusap lembut bulu mereka dengan tangannya, dan mengelus sapi belang itu di antara tanduknya.

Ketika, sesuai perintah si pria tua, ia selesai menyiapkan sup yang harum, dan mangkuknya sudah tersaji di meja, ia berkata, “Apakah aku boleh makan sepuas hatiku, sementara hewan-hewan baik ini tidak mendapat apa-apa? Di luar sana ada banyak makanan, biarlah aku merawat mereka lebih dulu.”

Lalu ia pergi mengambil sedikit Barli dan merebusnya untuk ayam jantan dan betina, serta seikat besar jerami harum untuk si sapi belang. “Kuharap kalian menyukainya, hewan-hewan tersayang,” katanya, “dan kalian pun harus minum sesuatu yang segar kalau merasa haus.”

Kemudian ia mengambil seember penuh air, dan ayam-ayam itu melompat ke pinggir ember, mencelupkan paruh mereka, lalu mendongakkan kepala sebagaimana burung-burung minum, dan sapi belang pun meneguk dengan puas.

Setelah hewan-hewan itu diberi makan, gadis itu duduk di meja bersama si pria tua, dan memakan sisa makanannya.

Tak lama kemudian ayam jantan dan betina mulai menyelipkan kepala mereka di bawah sayap, dan mata si sapi belang pun mulai terpejam.

Lalu gadis itu berkata, “Bukankah sudah saatnya kita pergi tidur?”

“ Ayam betina nan manis,
Ayam jantan nan manis,
Dan sapi belang nan manis,
Bagaimana menurut kalian tentang itu?”

Hewan-hewan itu menjawab, “Duks,”

“Engkau telah makan bersama kami,
Engkau telah minum bersama kami,
Engkau telah memikirkan kami semua,
Maka kami ucapkan selamat malam kepadamu.”

Kemudian si gadis naik ke loteng, mengguncang bantal-bantal bulu, dan memasang seprai bersih di atasnya. Ketika semua sudah siap, si pria tua pun datang, berbaring di salah satu ranjang, dan janggut putihnya menjuntai hingga ke kakinya. Gadis itu berbaring di ranjang yang lain, mengucapkan doa malamnya, dan tertidur lelap.

Ia tidur dengan tenang hingga tengah malam, lalu terdengarlah suara gaduh di dalam pondok yang membangunkannya. Suara retakan dan pecahan terdengar di setiap sudut; pintu-pintu terhempas terbuka dan membentur dinding; balok-balok berderak seolah-olah tercerabut dari sambungannya; tangga seakan runtuh; dan akhirnya terdengar dentuman keras seolah seluruh atap roboh.

Namun, ketika semuanya kembali sunyi, dan gadis itu tidak terluka sedikit pun, ia tetap berbaring tenang di ranjangnya, lalu kembali tertidur.

Keesokan paginya, ketika ia terbangun oleh cahaya matahari yang cemerlang, apakah yang dilihat oleh matanya? Ia terbaring di sebuah aula luas, dan segala sesuatu di sekelilingnya berkilauan dengan kemegahan kerajaan. Pada dinding, bunga-bunga emas bermekaran di atas dasar sutra hijau; ranjangnya terbuat dari gading, dengan kanopi beludru merah; dan di sebuah kursi dekat sana, terletak sepasang sepatu yang disulam dengan mutiara.

Gadis itu mengira ia masih bermimpi, namun tiga pelayan berpakaian mewah masuk, dan menanyakan perintah apa yang hendak ia berikan.

“Jika kalian bersedia pergi,” jawabnya, “aku akan segera bangun dan menyiapkan sup untuk pria tua itu, lalu memberi makan ayam betina nan manis, ayam jantan nan manis, dan sapi belang nan manis.”

Ia menyangka si pria tua telah bangun, dan memandang ke arah ranjangnya. Namun ia tidak lagi berbaring di sana. melainkan seorang asing. Dan saat ia menatapnya, menyadari bahwa lelaki itu muda dan tampan, ia terbangun, duduk di ranjang, dan berkata:
“Aku adalah putra seorang raja, yang dikutuk oleh seorang penyihir jahat, dan dipaksa tinggal di hutan ini dalam wujud pria tua berambut kelabu. Tidak seorang pun diperbolehkan menemaniku selain ketiga pelayanku dalam wujud seekor ayam jantan, seekor ayam betina, dan seekor sapi belang. Mantra itu takkan terhapus hingga datang seorang gadis berhati murni, yang menunjukkan kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada hewan dan engkaulah yang telah melakukannya. Karenamu, tepat tengah malam tadi kami terbebas, dan pondok tua di dalam hutan pun berubah kembali menjadi istana kerajaanku.”

Ketika mereka bangun, sang putra raja memerintahkan ketiga pelayannya pergi menjemput ayah dan ibu si gadis untuk menghadiri pesta pernikahan.

“Tetapi di mana kedua kakakku?” tanya si gadis.

“Mereka telah kukurung di ruang bawah tanah, dan besok mereka akan dibawa ke dalam hutan untuk bekerja sebagai pelayan bagi seorang pembuat arang, sampai mereka belajar menjadi lebih baik hati, dan tidak membiarkan hewan-hewan malang menderita kelaparan.”

Komentar