KHM 149 - Der Hahnenbalken (Balok Sang Ayam Jantan)

 

Balok Sang Ayam Jantan

Dahulu kala ada seorang penyihir, yang berdiri di tengah kerumunan orang banyak dan mempertontonkan keajaiban-keajaibannya.

 

Ia pun menyuruh seekor ayam jantan dibawa masuk. Ayam itu mengangkat sebuah balok kayu yang berat, lalu membawanya seakan-akan ia hanya memikul sehelai bulu yang ringan.

 

Namun, di sana ada seorang gadis yang baru saja menemukan sehelai daun semanggi berdaun empat. Dengan itu ia menjadi begitu bijaksana, sehingga tiada tipu daya yang dapat bertahan di hadapannya. Dan ia melihat bahwa balok itu tak lain hanyalah sebatang jerami.

 

Maka ia pun berseru, “Hai kalian semua, tidakkah kalian melihat bahwa itu hanyalah sebatang jerami belaka, dan bukan balok, yang sedang dibawa ayam jantan itu?”

 

Sekonyong-konyong lenyaplah seluruh sihir itu, dan orang-orang melihat segalanya sebagaimana adanya. Maka mereka pun mengusir penyihir itu dengan cemooh dan hinaan.

 

Tetapi ia, penuh dengan kemarahan di dalam hatinya, berkata, “Aku pasti akan membalaskan dendamku.”

 

Beberapa waktu kemudian tibalah hari pernikahan gadis itu. Ia berpakaian anggun, dan berjalan dalam sebuah arak-arakan besar melintasi ladang menuju tempat gereja berdiri.

 

Tiba-tiba mereka sampai pada sebuah sungai kecil yang meluap deras, dan di sana tak ada jembatan maupun titian untuk diseberangi.

 

Maka sang pengantin perempuan, cekatan, mengangkat gaunnya dan hendak menyeberang dengan berjalan menapaki air itu.

 

Ketika ia berdiri demikian di dalam air, seorang laki-laki—dan itu adalah penyihir—berseru mengejek dari sisinya, “Eh! Di manakah matamu, hingga kau mengira itu air?”

 

Seketika terbukalah matanya, dan ia melihat bahwa dirinya, dengan pakaian yang terangkat, justru berdiri di tengah sebidang ladang rami yang berbunga biru.

 

Saat itu juga, semua orang lain pun melihatnya, dan mereka pun mengusirnya dengan cemooh dan gelak tawa.

Komentar