KHM 141 - Das Lämmchen und das Fischchen (Si Domba Kecil dan Si Ikan Kecil)

 

Si Domba Kecil dan Si Ikan Kecil

Dahulu kala, hiduplah seorang saudara dan seorang saudari, yang saling mengasihi dengan segenap hati mereka. Namun ibu kandung mereka telah meninggal dunia, dan kini mereka memiliki seorang ibu tiri, yang tidak ramah kepada mereka, dan diam-diam melakukan segala cara untuk menyakiti mereka.

Pada suatu hari, kedua anak itu bermain bersama anak-anak lain di padang rumput di depan rumah. Di padang itu ada sebuah kolam, yang airnya sampai menempel ke sisi rumah. Anak-anak berlari-larian di sekelilingnya, saling menangkap, dan bermain hitungan.

Mereka berdiri dalam sebuah lingkaran ketika bermain, dan menyanyikan:
“Eneke Beneke, biarkan aku hidup,
Dan akan kuberikan padamu burungku.
Burung kecil itu akan mencari jerami,
Jerami itu kuberikan pada sapi untuk dimakan.
Sapi yang elok itu akan memberiku susu,
Susu itu akan kubawa pada tukang roti.
Tukang roti akan memanggang sebuah kue,
Kue itu akan kuberikan pada kucing.
Kucing itu akan menangkap tikus sebagai balasannya,
Tikus-tikus itu akan kugantung di asap,
Dan lalu engkau akan melihat salju.”

Orang yang mendapat kata “salju” harus berlari, dan semua yang lain berlari mengejarnya untuk menangkapnya.

Ketika mereka sedang berlari-larian dengan riang gembira, ibu tiri mengintip dari jendela dan hatinya dipenuhi amarah. Dan karena ia menguasai sihir, ia menyihir keduanya, lalu mengubah sang saudara menjadi seekor ikan, dan sang saudari menjadi seekor anak domba.

Maka si ikan berenang ke sana kemari di kolam, penuh kesedihan; sedangkan si anak domba berjalan hilir-mudik di padang rumput, sengsara adanya, dan tak sanggup memakan sehelai pun rumput.

Maka berlalulah waktu yang panjang, hingga datanglah orang-orang asing berkunjung ke istana. Si ibu tiri palsu berpikir, “Ini kesempatan yang baik,” lalu memanggil juru masak dan berkata kepadanya, “Pergilah ke padang dan bawalah anak domba itu, sembelihlah ia, sebab kita tak punya hidangan lain untuk para tamu.”

Maka juru masak itu pun pergi, mengambil sang anak domba, membawanya masuk ke dapur, dan mengikat kakinya. Semua itu ditanggung oleh si anak domba dengan sabar. Ketika ia telah mengeluarkan pisaunya dan mengasahnya di ambang pintu untuk menyembelih sang anak domba, ia melihat seekor ikan kecil berenang bolak-balik di dalam air, tepat di depan bak cuci dapur, sambil menatap ke arahnya.

Itulah sang saudara, sebab ketika si ikan melihat juru masak membawa pergi sang anak domba, ia pun mengikutinya dan berenang sepanjang kolam hingga sampai ke rumah.

Lalu sang anak domba berseru kepadanya:
“Ah, saudaraku, di kolam nan dalam,
Betapa pilunya hatiku yang malang!
Kini sang juru masak mengasah pisaunya,
Untuk merenggut nyawaku yang rapuh.”

Dan si ikan kecil menjawab:
“Ah, saudariku, di daratan tinggi,
Betapa pilunya hatiku sendiri,
Sementara aku terkurung di kolam ini.”

Ketika juru masak mendengar bahwa anak domba itu bisa berbicara, dan menuturkan kata-kata sedih demikian kepada ikan di bawah sana, ia pun gentar, dan berpikir bahwa ini bukanlah anak domba biasa, melainkan pastilah telah disihir oleh perempuan jahat di dalam rumah itu. Maka ia berkata, “Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu,” lalu mengambil seekor domba lain, menyiapkannya bagi para tamu, dan membawa sang anak domba kepada seorang petani perempuan yang baik hati, sambil menceritakan semua yang telah ia lihat dan dengar.

Namun petani perempuan itu ternyata adalah ibu asuh sang saudari, dan seketika ia menduga siapa sebenarnya anak domba itu. Maka ia pergi bersamanya kepada seorang perempuan bijak. Lalu perempuan bijak itu mengucapkan doa berkat atas sang anak domba dan sang ikan kecil, dan dengan demikian keduanya kembali ke wujud manusia.

Setelah itu ia membawa mereka ke sebuah pondok kecil di tengah hutan yang luas, tempat mereka tinggal berdua, namun puas dan berbahagia.

Komentar