“Ke mana engkau hendak pergi?”
“Ke Walpe.”
“Aku ke Walpe, engkau ke Walpe; bersama, bersama, mari kita berjalan.”
“Apakah engkau juga punya seorang suami? Apa nama suamimu?”
“Cham.”
“Suamiku Cham, suamimu Cham; aku ke Walpe, engkau ke Walpe; bersama, bersama,
mari kita berjalan.”
“Apakah engkau juga punya seorang anak? Apa nama anakmu?”
“Grind.”
“Anakku Grind, anakmu Grind; suamiku Cham, suamimu Cham; aku ke Walpe, engkau
ke Walpe; bersama, bersama, mari kita berjalan.”
“Apakah engkau juga punya sebuah buaian? Apa nama buaimu?”
“Hippodeige.”
“Buaianku Hippodeige, buaimu Hippodeige; anakku Grind, anakmu Grind; suamiku
Cham, suamimu Cham; aku ke Walpe, engkau ke Walpe; bersama, bersama, mari kita
berjalan.”
“Apakah engkau juga punya seorang pelayan? Apa nama
pelayanmu?”
“Machmirsrecht.”
“Pelayanku Machmirsrecht, pelayanmu Machmirsrecht; buaianku Hippodeige, buaimu
Hippodeige; anakku Grind, anakmu Grind; suamiku Cham, suamimu Cham; aku ke
Walpe, engkau ke Walpe; bersama, bersama, mari kita berjalan.”
Catatan penerjemah:
- Dongeng ini bukan
kisah dengan alur atau pesan moral, melainkan lagu permainan rakyat.
- Strukturnya berbentuk dialog
berulang: pertanyaan–jawaban, lalu diulang dengan tambahan elemen baru
(suami → anak → buaian → pelayan).
- Nama-nama yang muncul (Cham, Grind,
Hippodeige, Machmirsrecht) terdengar aneh, jenaka, atau kasar. Inilah
bagian yang membuatnya lucu bagi pendengar.
- Baris penutup yang selalu kembali ke
“Aku ke Walpe, engkau ke Walpe; bersama, bersama, mari kita berjalan”
menunjukkan pola nyanyian ritmis yang cocok untuk dimainkan atau
dinyanyikan berulang kali.
- Fungsinya kemungkinan besar untuk hiburan
rakyat atau permainan anak-anak, bukan untuk menyampaikan moral seperti
banyak dongeng Grimm lainnya.

Komentar
Posting Komentar