KHM 127 - Der Eisenofen (Tungku Besi)

 

Tungku Besi

Pada zaman dahulu, ketika harapan masih bisa terkabul, seorang putra Raja terkena kutukan seorang penyihir tua, dan ia dikurung dalam sebuah tungku besi di dalam hutan. Di sanalah ia menjalani tahun demi tahun, tanpa seorang pun yang mampu membebaskannya.

Suatu hari, seorang putri Raja tersesat di dalam hutan dan tak sanggup lagi menemukan jalan pulang menuju kerajaannya. Setelah sembilan hari lamanya ia berkelana tanpa arah, akhirnya ia tiba di hadapan tungku besi itu.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dalam tungku yang bertanya, “Dari mana engkau datang, dan hendak ke mana kau pergi?”

Ia menjawab, “Aku kehilangan jalan menuju kerajaan ayahku, dan tak dapat pulang kembali.”

Maka suara itu berkata, “Aku akan menolongmu kembali pulang, bahkan dengan segera, asal engkau berjanji memenuhi keinginanku. Aku adalah putra seorang Raja yang jauh lebih agung daripada ayahmu, dan aku akan menikah denganmu.”

Putri itu pun gentar, dan berpikir, “Ya Tuhan! Apa yang dapat kulakukan dengan sebuah tungku besi?” Namun, karena ia sangat merindukan ayahandanya dan ingin pulang, ia berjanji memenuhi permintaan itu.

Tetapi sang putra Raja berkata, “Engkau harus kembali kemari, membawa sebilah pisau, dan mengikis lubang pada besi ini.”

Lalu ia memberinya seorang pengiring yang berjalan di sisinya tanpa berkata apa-apa, dan hanya dalam dua jam ia sudah sampai di istana. Betapa besar sukacita di sana ketika sang putri kembali! Raja tua bergegas memeluknya, menitikkan air mata, dan mencium putrinya dengan kasih.

Namun hati sang putri dirundung gelisah. Ia berkata, “Wahai ayahanda, betapa besar penderitaanku! Aku takkan pernah bisa pulang dari hutan liar yang luas itu, andai aku tidak bertemu dengan sebuah tungku besi. Tetapi aku telah terpaksa memberikan janji: aku harus kembali ke sana, membebaskannya, dan menikah dengannya.”

Mendengar itu, Raja tua begitu terkejut hingga hampir jatuh pingsan, sebab dialah satu-satunya putri yang dimilikinya..

Maka mereka pun memutuskan untuk mengirim seseorang, sebagai gantinya, putri seorang tukang giling, yang rupanya sangat cantik. Mereka membawanya ke sana, memberinya sebuah pisau, dan berkata bahwa ia harus mengikis tungku besi itu. Maka ia mengikisnya selama dua puluh empat jam penuh, namun tidak berhasil melepaskan sepotong pun darinya.

Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara dari dalam tungku, “Sepertinya hari sudah terang di luar.”

Maka gadis itu menjawab, “Menurutku begitu juga; rasanya aku mendengar deru gilingan ayahku.”

“Jadi engkau putri seorang tukang giling! Pergilah segera, dan biarkan putri raja datang ke sini.”

Maka pergilah gadis itu dengan segera, dan ia pun memberitahu sang raja tua bahwa pria yang berada di dalam sana tidak menginginkannya, ia hanya menghendaki putri raja.

Namun mereka masih memiliki putri seorang penggembala babi, yang bahkan lebih cantik daripada putri tukang giling. Mereka pun memutuskan untuk memberinya sepotong emas agar ia mau pergi ke tungku besi menggantikan sang putri raja. Maka ia pun dibawa ke sana, dan ia juga harus mengikis selama dua puluh empat jam. Namun, sama saja, ia tak berhasil sedikit pun.

Ketika fajar menyingsing, suara dari dalam tungku kembali berseru, “Sepertinya hari sudah terang di luar!”

Maka jawab gadis itu, “Begitu pula rasanya menurutku; sepertinya aku mendengar suara terompet ayahku.”

“Jadi engkau putri seorang penggembala babi! Pergilah segera, dan suruh putri raja datang. Katakan padanya bahwa semua harus dilakukan sebagaimana telah dijanjikan, dan jika ia tidak datang, segala sesuatu di dalam kerajaan ini akan hancur dan binasa, tak akan ada satu batu pun yang tersisa di atas batu lainnya.”

Ketika putri raja mendengar hal itu, ia pun mulai menangis. Namun kini tiada lagi jalan keluar, ia harus menepati janjinya. Maka ia berpamitan pada ayahandanya, menyelipkan sebilah pisau ke dalam sakunya, lalu berangkat menuju tungku besi di dalam hutan.

Ketika ia tiba di sana, ia mulai mengikis, dan besi itu perlahan-lahan terkelupas. Setelah dua jam berlalu, ia telah berhasil membuat sebuah lubang kecil. Lalu ia mengintip ke dalam, dan tampaklah seorang pemuda yang begitu tampan, berkilauan dengan emas dan batu permata mulia, hingga jiwanya sendiri terasa terpesona.

Maka ia pun melanjutkan mengikis, hingga lubang itu cukup besar untuk membebaskannya keluar.

Kemudian berkatalah sang pemuda, “Engkaulah milikku, dan akulah milikmu; engkau adalah pengantinku, dan engkau telah membebaskanku.”

Ia ingin segera membawanya pergi ke kerajaannya. Namun sang putri memohon agar diperkenankan pulang sekali lagi menemui ayahandanya. Maka pangeran itu pun mengizinkannya, tetapi ia hanya boleh mengucapkan tiga kata saja kepada ayahnya, tidak lebih. Setelah itu, ia harus kembali lagi.

Maka pergilah ia pulang. Tetapi begitu sampai, ia berkata lebih dari tiga kata, dan seketika itu juga tungku besi lenyap, terseret jauh melintasi gunung-gunung kaca dan pedang-pedang yang terhunus tajam. Tetapi pangeran itu kini telah bebas, tak lagi terkurung di dalamnya.

Setelah itu, ia pun berpamitan pada ayahandanya, membawa sedikit uang, lalu kembali memasuki hutan lebat yang luas, mencari tungku besi itu. Tetapi tungku itu tak terlihat di mana pun.

Selama sembilan hari lamanya ia mencarinya, hingga akhirnya rasa lapar yang mendera menjadi begitu hebat, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, sebab ia hampir tak sanggup bertahan hidup.

Ketika malam menjelang, ia memanjat sebatang pohon kecil, dan berniat bermalam di sana, karena ia takut akan binatang-binatang buas.

Tatkala tengah malam mendekat, ia melihat dari kejauhan cahaya kecil berkelip, dan ia berpikir, “Ah, di sanalah aku pasti akan selamat!” Maka ia turun dari pohon itu, dan berjalan menuju cahaya tersebut, sambil berdoa di sepanjang jalan.

Akhirnya tibalah ia di sebuah rumah kecil yang nampak sudah tua, dikelilingi rerumputan yang tumbuh lebat, dan di depannya tergeletak setumpuk kecil kayu. Ia berpikir, “Ah, ke manakah aku telah tiba?” dan mengintip lewat jendela.

Namun di dalam ia tak melihat apa pun selain katak-katak, besar maupun kecil, kecuali sebuah meja yang penuh terhidang anggur dan daging panggang, dengan piring dan gelas yang terbuat dari perak.

Maka ia memberanikan diri, lalu mengetuk pintu.

Seekor katak gendut berseru:
“Pelayan kecil hijau,
Pelayan kecil yang pincang kakinya,
Anjing kecil yang pincang kakinya,
Melompat ke sana dan ke mari,
Cepat lihat siapa di luar sana.”

Maka seekor katak kecil berjalan mendekat, lalu membukakan pintu baginya.

Ketika ia masuk, semuanya menyambutnya dengan ramah, dan ia pun dipersilakan duduk.

Mereka bertanya, “Dari manakah engkau datang, dan hendak ke manakah engkau pergi?”

Lalu ia menceritakan semua yang menimpanya, dan bagaimana karena melanggar perintah untuk tidak mengucapkan lebih dari tiga kata, maka tungku besi, juga sang putra raja, lenyap, dan kini ia sedang mencarinya melintasi bukit dan lembah hingga dapat menemukannya kembali.

Kemudian katak yang tua dan gemuk itu berkata:
“Pelayan kecil hijau,
Pelayan kecil yang pincang kakinya,
Anjing kecil yang pincang kakinya,
Melompat ke sana dan ke mari,
Bawakan padaku kotak besar itu.”

Maka si katak kecil pergi dan membawa kotak itu.

Setelah itu, mereka memberi sang putri makanan dan minuman, lalu membawanya ke sebuah ranjang yang indah, empuk bagaikan sutra dan beludru. Ia pun merebahkan diri di sana, dalam nama Tuhan, dan tertidur lelap.

Keesokan paginya, ketika ia bangun, katak tua itu memberinya tiga jarum yang diambil dari kotak besar itu, dan berkata bahwa ia harus membawanya, sebab akan sangat dibutuhkan kelak. Sebab ia harus menyeberangi sebuah gunung kaca yang tinggi, melintasi tiga pedang yang terhunus tajam, dan melewati sebuah danau besar. Jika ia berhasil melakukan semua itu, barulah ia akan mendapatkan kembali kekasihnya.

Kemudian katak tua itu memberikan tiga benda yang harus ia jaga sebaik-baiknya, yaitu tiga jarum besar, sebuah roda bajak, dan tiga biji kenari.

Dengan itu semua ia pun melanjutkan perjalanannya.

Ketika sampai di gunung kaca yang begitu licin, ia menancapkan ketiga jarum itu terlebih dahulu di belakang kakinya, lalu di depannya, sehingga ia dapat melangkah meniti puncak gunung itu dan menyeberanginya. Sesudah berhasil melewati gunung kaca, ia menyembunyikan jarum-jarum itu di sebuah tempat yang ia tandai dengan hati-hati.

Setelah itu ia tiba di tiga pedang tajam yang terhunus, dan di sana ia duduk di atas roda bajaknya, lalu menggelinding melewati semuanya.

Akhirnya, tibalah ia di tepi sebuah danau besar, dan setelah menyeberanginya, sampailah ia di hadapan sebuah istana besar nan indah.

Ia masuk dan meminta pekerjaan; katanya ia hanyalah seorang gadis miskin, dan ingin dipekerjakan. Namun ia tahu benar bahwa di dalam istana itulah berada sang pangeran, putra raja, yang dahulu telah ia bebaskan dari penjara tungku besi di hutan besar.

Maka ia diterima bekerja di sana sebagai babu dapur dengan upah kecil.

Akan tetapi, sang putra raja kini telah memiliki seorang gadis lain di sisinya, yang ingin ia nikahi, karena ia menyangka putri yang dahulu menyelamatkannya telah lama mati.
Pada malam hari, ketika ia telah selesai mencuci piring dan pekerjaannya beres, ia meraba kantongnya dan menemukan tiga biji kenari yang telah diberikan oleh si kodok tua.

Ia memecahkan satu dengan giginya dan hendak memakan isinya, ketika—lihatlah!—di dalamnya terselip sebuah gaun megah bak busana kerajaan!

Tatkala calon mempelai mendengar kabar tentang gaun itu, ia datang dan memintanya, hendak membelinya, dan berkata, “Itu bukanlah pakaian untuk seorang gadis pelayan.”

Namun sang putri menjawab bahwa ia tidak akan menjualnya, kecuali jika si calon pengantin perempuan mengabulkan satu permintaan: izinkan ia tidur semalam di kamar pengantin laki-laki.

Karena gaun itu begitu indah dan ia belum pernah memiliki yang serupa, sang calon mempelai pun setuju.

Ketika malam tiba, ia berkata kepada calon suaminya, “Gadis tolol itu akan tidur di kamarmu malam ini.”

Sang putra raja menjawab, “Jika engkau bersedia, akupun bersedia.”

Namun si calon mempelai telah menyiapkan segelas anggur yang dituangkan ramuan penidur ke dalamnya, dan diberikannya pada sang pangeran.

Maka ketika pengantin pria dan si pelayan dapur masuk tidur dalam kamar itu, sang pangeran tertidur begitu lelap hingga tiada yang dapat membangunkannya.

Putri itu pun menangis sepanjang malam dan meratap, “Akulah yang membebaskanmu ketika engkau terpenjara dalam tungku besi di hutan belantara. Akulah yang mencarimu, berjalan menyeberangi gunung kaca, tiga pedang tajam, dan danau yang luas, hingga akhirnya kutemukan engkau kembali, namun kini engkau tak sudi mendengar suaraku!”

Para pelayan yang berjaga di balik pintu kamar mendengar tangisnya semalaman, dan ketika pagi tiba mereka menceritakan semuanya kepada tuan mereka.

Keesokan harinya, ketika ia telah selesai mencuci piring, ia membuka kenari yang kedua, dan di dalamnya terdapat sebuah gaun yang jauh lebih indah daripada yang pertama.

Ketika sang calon mempelai melihatnya, ia pun sangat ingin memilikinya. Namun sang putri tidak mau menerima uang, melainkan kembali memohon agar ia diizinkan tidur sekali lagi di kamar pengantin laki-laki.

Calon mempelai itu pun mengabulkan permintaan itu, tetapi sekali lagi ia menyuguhkan segelas minuman berisi ramuan penidur kepada sang pangeran. Maka ia tidur begitu lelap hingga tak mendengar apapun.

Dan si putri kembali menangis semalam suntuk, meratap, “Akulah yang membebaskanmu ketika engkau terpenjara dalam tungku besi di hutan belantara. Akulah yang mencarimu, berjalan menyeberangi gunung kaca, tiga pedang tajam, dan danau yang luas, hingga akhirnya kutemukan engkau kembali, namun kini engkau tak sudi mendengar suaraku!”

Para pelayan yang berjaga di depan pintu kamar mendengar tangisnya semalaman, dan ketika fajar menyingsing, mereka menceritakan segalanya kepada tuan mereka.

Dan pada malam ketiga, ketika ia telah selesai mencuci piring, ia membuka kenari yang ketiga.

Di dalamnya terdapat sebuah gaun yang lebih indah lagi, berkilauan dengan emas murni.

Ketika sang calon mempelai melihatnya, ia segera ingin memilikinya. Namun gadis itu hanya mau menyerahkannya dengan satu syarat: bahwa ia diperbolehkan tidur sekali lagi di kamar pengantin laki-laki.

Kali ini sang pangeran sudah bersiap, dan ia diam-diam menumpahkan minuman yang diberi ramuan penidur itu.

Maka ketika malam tiba, dan gadis itu mulai menangis serta meratap, “Kekasihku yang terkasih, akulah yang membebaskanmu ketika engkau terpenjara dalam tungku besi di hutan belantara yang mengerikan—” sang pangeran pun segera bangkit dan berkata,

“Kaulah yang sejati, engkaulah milikku, dan akulah milikmu!”

Maka, ketika malam masih gelap, sang pangeran naik kereta bersama gadis itu, dan mereka membawa serta pakaian sang pengantin palsu, sehingga ia tak dapat bangun dari pembaringannya.

Ketika mereka tiba di danau besar, mereka menyeberanginya dengan selamat. Dan saat mereka sampai di hadapan tiga pedang tajam yang membentang, mereka duduk di atas roda bajak dan meluncur melewatinya.

Kemudian mereka datang ke gunung kaca. Mereka menancapkan tiga jarum ke dalamnya, sehingga dapat mendaki sampai ke puncak, dan akhirnya mereka tiba di rumah kecil tua itu.

Namun ketika mereka masuk ke dalam, rumah itu telah berubah menjadi sebuah istana besar, dan semua kodok yang ada di sana kini telah terlepas dari kutukan, tampak sebagai putra-putri raja yang penuh sukacita.

Lalu perayaan pernikahan pun digelar, dan sang pangeran bersama putri tinggal di istana itu, yang jauh lebih megah daripada istana ayah-ibu mereka.

Namun, karena sang raja tua berduka ditinggalkan sendirian, mereka pun menjemputnya dan membawanya untuk tinggal bersama mereka. Maka kini mereka memiliki dua kerajaan, dan hidup dalam perkawinan yang bahagia.

Seekor tikus berlari kencang,
maka tamatlah kisah ini yang panjang.

Komentar