Bukit dan lembah mungkin tak pernah saling bertemu, tetapi anak-anak manusia selalu bersua, yang baik maupun yang buruk. Demikianlah, seorang penjahit dan seorang tukang sepatu bertemu suatu hari dalam perjalanan mereka.
Sang penjahit adalah lelaki kecil yang tampan, selalu riang dan penuh suka cita. Ia melihat tukang sepatu datang dari arah berlawanan, dan dari tasnya ia langsung tahu pekerjaan apa yang digelutinya. Maka ia pun bernyanyi dengan nada menggoda:
“Jahitkan untukku sambungan,
Tariklah benangnya,
Olesi dengan getah pekat,
Palu paku hingga rata.”
Namun tukang sepatu tidak tahan dengan gurauan itu. Ia memasang wajah masam seolah baru meneguk cuka, dan membuat gerakan seakan hendak mencekik si penjahit. Tetapi lelaki kecil itu hanya tertawa, meraih botolnya, dan berkata, “Tidak ada maksud jahat, ambillah sedikit minum, dan telanlah amarahmu.”
Tukang sepatu pun minum dengan lahap, dan badai di wajahnya mulai mereda. Ia mengembalikan botol itu pada penjahit, lalu berkata, “Aku bicara padamu dengan baik. Orang dapat berkata manis setelah banyak minum, tetapi tidak setelah banyak haus. Bagaimana kalau kita berjalan bersama?”
“Baiklah,” jawab penjahit, “asal engkau rela menuju kota besar, di sana takkan kekurangan pekerjaan.”
“Itulah justru tempat yang kuinginkan,” kata tukang sepatu. “Di sarang kecil tak ada apa-apa untuk dimakan, dan di desa orang lebih suka bertelanjang kaki.”
Maka mereka pun berjalan bersama, menjejakkan kaki bergantian, seperti musang yang meluncur di atas salju.
Keduanya punya banyak waktu, tetapi sedikit yang bisa dimakan. Saat tiba di sebuah kota, mereka berkeliling memperkenalkan diri pada para pengrajin. Karena penjahit begitu lincah, ceria, dan pipinya merah merona, semua orang dengan senang hati memberi pekerjaan padanya. Dan bila keberuntungannya sedang baik, putri sang majikan bahkan memberinya ciuman di bawah beranda.
Ketika ia kembali bertemu dengan tukang sepatu, buntalan penjahit selalu lebih penuh. Tukang sepatu yang berwajah masam itu pun berkerut kecut, sambil berpikir, “Semakin besar penipu, semakin besar pula keberuntungannya.”
Namun penjahit hanya tertawa dan bernyanyi, lalu membagi semua yang ia peroleh dengan sahabatnya. Jika sekeping koin berdenting di sakunya, ia akan memesan minuman enak, menghentakkan meja dengan gembira hingga gelas-gelas menari, dan baginya segala sesuatu datang dan pergi dengan mudah.
Ketika mereka telah melakukan perjalanan beberapa lama, sampailah mereka ke sebuah hutan besar yang dilalui jalan menuju ibu kota. Namun ada dua jalur setapak yang melintas di sana: yang satu membutuhkan waktu tujuh hari perjalanan, sedang yang lainnya hanya dua hari. Akan tetapi, tak seorang pun dari kedua pengembara itu tahu manakah yang lebih singkat.
Mereka pun duduk di bawah sebatang pohon ek, dan berdiskusi bagaimana sebaiknya mereka memperhitungkan perjalanan, serta berapa banyak roti yang harus mereka bawa.
Tukang sepatu berkata, “Orang harus berhati-hati sebelum melangkah, aku akan membawa roti untuk tujuh hari.”
“Apa!” seru penjahit, “memanggul roti untuk tujuh hari di punggung seperti seekor keledai, dan tak bisa menoleh ke sekeliling? Aku akan percaya pada Tuhan, dan tak akan merepotkan diriku dengan segala sesuatu! Uang yang ada di sakuku berguna di musim panas maupun musim dingin, tetapi di musim panas roti akan menjadi kering dan berjamur pula; bahkan mantelku saja tak sanggup melindunginya lama-lama. Lagi pula, mengapa kita tak akan menemukan jalan yang benar? Roti untuk dua hari saja, itu sudah cukup.”
Maka masing-masing membeli rotinya sendiri, lalu mereka pun mencoba peruntungan di dalam hutan.
Di sana sunyinya laksana di dalam gereja. Tak ada angin berhembus, tak ada sungai yang bergemercik, tak seekor burung pun bernyanyi, dan dari celah dedaunan yang rimbun tak seberkas cahaya matahari pun menembus.
Tukang sepatu tak sepatah kata pun terucap, beban roti yang berat menekan punggungnya hingga peluh mengalir di wajahnya yang muram dan suram. Namun penjahit tetap riang gembira, ia melompat-lompat, bersiul dengan sehelai daun, atau menyanyi sebuah lagu, dan ia berkata dalam hatinya, “Tuhan di surga pasti senang melihat aku begitu bahagia.”
Hal itu berlangsung selama dua hari, namun pada hari ketiga hutan itu seakan tak kunjung berakhir, dan penjahit telah menghabiskan semua rotinya, sehingga hatinya pun akhirnya jatuh sedalam-dalamnya. Namun meskipun begitu ia tidak kehilangan keberanian, melainkan tetap bersandar pada Tuhan dan pada keberuntungannya.
Pada hari ketiga ia berbaring di bawah sebatang pohon pada waktu senja dengan perut lapar, dan keesokan paginya ia bangun masih dalam keadaan lapar; demikian pula yang terjadi di hari keempat. Dan ketika tukang sepatu duduk di atas batang pohon tumbang dan menyantap makan siangnya, penjahit hanya dapat menatapnya.
Bila ia meminta sepotong kecil roti, yang lain itu tertawa mencemooh, dan berkata, “Kau selalu begitu riang gembira, sekarang coba sekali saja rasakan apa artinya bersedih: burung-burung yang bernyanyi terlalu pagi di pagi hari akan disambar rajawali di sore hari.” Singkatnya, ia sama sekali tak berbelas kasih.
Namun pada pagi kelima penjahit yang malang tak lagi sanggup berdiri, dan hampir-hampir tak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena lemah; pipinya pucat, dan matanya memerah. Maka tukang sepatu berkata kepadanya, “Hari ini akan kuberikan sepotong roti, tetapi sebagai gantinya, aku akan mencungkil mata kananmu.”
Penjahit malang, yang masih ingin mempertahankan hidupnya, tak punya cara lain; ia menangis sekali lagi dengan kedua matanya, lalu menyerahkannya, dan tukang sepatu, yang berhati batu, mencungkil mata kanannya dengan sebilah pisau tajam.
Penjahit teringat akan apa yang dahulu dikatakan ibunya kepadanya, ketika ia ketahuan makan sembunyi-sembunyi di dapur: “Makanlah apa yang bisa dimakan, dan tanggunglah apa yang harus ditanggung.”
Setelah ia memakan roti yang dibelinya dengan harga begitu mahal itu, ia kembali berdiri, melupakan sedikit penderitaannya, dan menghibur diri dengan pikiran bahwa dengan satu mata ia masih cukup untuk melihat.
Namun pada hari keenam, rasa lapar kembali menyiksanya, menggerogoti hampir hingga ke jantungnya. Pada malam harinya ia jatuh tersungkur di bawah sebuah pohon, dan pada pagi ketujuh ia tak sanggup bangun lagi karena lemah, dan maut terasa begitu dekat.
Maka tukang sepatu berkata, “Aku akan menunjukkan belas kasihan, dan memberimu roti sekali lagi, tetapi kau tak akan mendapatkannya dengan cuma-cuma, aku akan mencungkil mata yang satu lagi.”
Dan kini penjahit merasakan betapa cerobohnya hidup yang telah dijalaninya, ia berdoa kepada Tuhan memohon ampun, lalu berkata, “Lakukanlah apa yang kau mau, aku akan menanggung apa yang harus kutanggung, namun ingatlah bahwa Tuhan kita tidak selamanya berpangku tangan, dan akan tiba waktunya perbuatan jahat yang telah kau lakukan padaku, yang sama sekali tak pantas aku terima darimu akan dibalaskan.
Ketika nasibku masih baik, aku membagi apa yang kupunya denganmu. Pekerjaanku menuntut agar setiap jahitan selalu sama persis dengan yang lain. Bila aku kehilangan kedua mataku dan tak bisa lagi menjahit, aku pasti akan hidup sebagai pengemis. Namun paling tidak jangan tinggalkan aku di sini sendirian ketika aku buta, atau aku akan mati kelaparan.”
Tukang sepatu, yang sudah mengusir Tuhan dari hatinya, mengambil pisau dan mencungkil mata kirinya. Lalu diberikannya sepotong roti untuk dimakan, disodorkannya sebatang tongkat kepadanya, dan ditariknya ia berjalan mengikuti dari belakang.
Ketika matahari terbenam, keluarlah mereka dari hutan, dan di hadapan mereka, di tanah lapang, berdirilah tiang gantungan. Ke sanalah tukang sepatu menuntun penjahit buta, lalu meninggalkannya seorang diri dan pergi meneruskan jalannya.
Rasa lelah, sakit, dan lapar membuat orang malang itu terlelap, dan ia pun tidur sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing ia terbangun, namun tak tahu di mana ia berada.
Dua orang terhukum bergantung di tiang gantungan, dan seekor gagak bertengger di kepala masing-masing dari mereka. Lalu salah seorang dari pria yang tergantung itu mulai berbicara, dan berkata, “Saudaraku, apakah engkau terjaga?”
“Ya, aku terjaga,” jawab yang kedua.
“Kalau begitu akan kukatakan sesuatu kepadamu,” ujar yang pertama; “embun yang jatuh pada malam ini dari tiang gantungan, memberikan kembali penglihatan kepada siapa saja yang mencuci matanya dengannya. Andai saja orang buta mengetahuinya, betapa banyak yang akan memperoleh kembali penglihatannya, yang selama ini mereka sangka mustahil.”
Ketika penjahit mendengar itu, ia mengeluarkan sapu tangannya, menekannya ke rumput, dan ketika kain itu basah oleh embun, dicucinya rongga matanya dengan itu. Seketika terpenuhilah apa yang dikatakan pria di tiang gantungan, dan sepasang mata baru yang sehat tumbuh mengisi rongganya.
Tak lama kemudian penjahit melihat matahari terbit di balik pegunungan; di hamparan dataran di depannya terbentang kota kerajaan yang agung, dengan gerbang-gerbang megah dan menara-menara ratusan jumlahnya, serta bola-bola emas dan salib-salib di puncaknya yang mulai berkilau. Ia dapat membedakan setiap helai daun di pepohonan, melihat burung-burung yang melintas terbang, dan nyamuk-nyamuk kecil yang menari di udara.
Ia mengeluarkan jarum dari sakunya, dan karena ia dapat memasukkan benang ke dalamnya sama baiknya seperti dulu, hatinya pun melonjak kegirangan. Ia berlutut, mengucap syukur kepada Tuhan atas rahmat yang telah dianugerahkan kepadanya, dan menunaikan doa paginya.
Ia tidak lupa pula berdoa bagi para pendosa malang yang tergantung di sana, berayun-ayun ditiup angin, saling berbenturan satu sama lain seperti bandul jam. Lalu diambilnya buntalan dari punggungnya, dan ia segera melupakan penderitaan yang telah dialaminya, sambil berjalan lagi di jalannya dengan bersiul dan bernyanyi.
Yang pertama kali ditemuinya adalah seekor anak kuda cokelat yang berlarian bebas di padang. Ia menangkapnya pada surainya, dan hendak meloncat ke punggungnya lalu menungganginya masuk ke kota. Anak kuda itu, bagaimanapun, memohon agar dilepaskan. “Aku masih terlalu muda,” katanya, “bahkan seorang penjahit ringan sepertimu akan mematahkan punggungku; biarkan aku pergi sampai aku kuat. Mungkin suatu hari aku akan membalas kebaikanmu.”
“Pergilah,” kata penjahit, “kulihat engkau masih terlalu rewel.” Ia menyentuh punggung anak kuda itu dengan sebatang ranting, lalu anak kuda itu menendang kedua kaki belakangnya karena girang, melompati pagar dan parit, dan berlari kencang ke padang terbuka.
Namun penjahit kecil itu tidak makan apa-apa sejak hari sebelumnya. “Sinar matahari memang memenuhi mataku,” katanya, “tetapi roti tidak mengenyangkan mulutku. Apapun yang kutemui sekarang dan sekadar layak dimakan akan jadi korban.” Sementara itu seekor bangau melangkah dengan khidmat di padang menghampirinya.
“Hentikan, hentikan!” seru penjahit, dan ia menangkapnya pada kakinya. “Aku tidak tahu apakah kau enak untuk dimakan atau tidak, tapi rasa laparku tak memberiku banyak pilihan. Aku akan memenggal kepalamu dan memanggangmu.”
“Jangan lakukan itu,” jawab bangau; “aku burung keramat yang banyak memberi manfaat kepada manusia, dan tak seorang pun menyakitiku. Biarkan aku hidup, dan mungkin aku dapat menolongmu dengan cara lain.”
“Pergilah, Sepupu Berkaki-Panjang,” kata penjahit. Bangau itu terbang naik, mengantungkan kakinya yang panjang, dan terbang pergi dengan tenang.
“Apa jadinya semua ini?” gumam penjahit pada dirinya sendiri, “rasa laparku makin menjadi dan perutku semakin kosong. Apa pun yang menghadangku sekarang akan menjadi santapan.” Pada saat itu dua ekor anak bebek yang sedang berenang di kolam datang mendekat. “Kalian datang tepat pada waktunya,” katanya, lalu menangkap salah satunya dan hampir mematahkan lehernya.
Tiba-tiba seekor bebek tua yang bersembunyi di antara alang-alang bersuara keras, berenang menghampiri dengan paruh terkatup, dan mendesak agar anak-anaknya diampuni. “Tidakkah kau dapat membayangkan,” katanya, “betapa ibumu akan berduka jika ada yang hendak membawa anaknya pergi dan mematahkan lehermu?”
“Diamlah,” kata penjahit yang berbaik hati, “anak-anakmu akan tetap bersamamu,” lalu ia mengembalikan yang tertangkap itu ke dalam air.
ketika ia berbalik, ia berdiri di depan sebuah pohon tua yang sebagian berongga, dan melihat lebah-lebah liar masuk dan keluar darinya. “Di sana aku akan segera mendapat ganjaran atas kebaikanku,” kata penjahit, “madu pasti akan menyegarkanku.” Tetapi ratu lebah keluar, mengancam dan berkata, “Jika engkau menyentuh rakyatku dan merusak sarang kami, sengat kami akan menusuk kulitmu seperti sepuluh ribu jarum panas. Tetapi jika engkau membiarkan kami dengan damai dan pergi, kami akan berbuat jasa untukmu di lain waktu.”
Penjahit kecil melihat bahwa di sini pun tak ada yang dapat dilakukan. “Tiga piring kosong dan yang keempat juga kosong adalah hidangan yang buruk!” Karena itu ia merangkak, perutnya keroncongan, ke dalam kota, dan ketika jarum jam baru saja menunjukkan pukul dua belas, segala sesuatunya sudah siap saji untuknya di penginapan, sehingga ia segera dapat duduk untuk makan. Setelah puas ia berkata, “Sekarang aku akan mulai bekerja.” Ia berkeliling kota, mencari seorang tuan, dan tak lama ia mendapat pekerjaan yang baik.
Karena ia telah benar-benar menguasai pekerjaannya, tidak lama kemudian ia menjadi terkenal, dan setiap orang ingin mantel barunya dibuat oleh penjahit itu, yang ketenarannya makin hari makin meningkat. “Kemampuan aku tak dapat bertambah lebih jauh lagi,” katanya, “dan tetap saja keadaan semakin maju setiap hari.”
Akhirnya Raja mengangkat penjahit itu menjadi penjahit istana.
Namun, betapa anehnya jalan hidup! Pada hari yang sama, mantan rekannya, tukang sepatu itu, juga diangkat menjadi tukang sepatu istana. Ketika ia melihat penjahit, dan menyadari bahwa ia telah kembali memiliki sepasang mata yang sehat, nuraninya terguncang.
“Sebelum ia membalas dendam padaku,” pikirnya, “aku harus menggali lubang baginya.” Tetapi siapa pun yang menggali lubang untuk orang lain, dialah yang akan jatuh ke dalamnya.
Pada malam hari, ketika pekerjaan selesai dan senja telah turun, ia menyelinap menghadap Raja dan berkata, “Baginda Raja, penjahit itu orang yang angkuh dan ia telah membual bahwa ia akan mengembalikan mahkota emas yang hilang sejak zaman dahulu kala.”
“Itu akan sangat menyenangkan hatiku,” sabda Raja, dan keesokan paginya penjahit dipanggil menghadap. Ia diperintahkan untuk mengembalikan mahkota itu, atau meninggalkan kota selamanya.
“Oho!” pikir penjahit, “seorang penjahat selalu menjanjikan lebih dari yang dimilikinya. Jika Raja yang muram ini menghendaki aku melakukan sesuatu yang tak mungkin dilakukan siapa pun, aku tidak akan menunggu hingga pagi, melainkan akan meninggalkan kota ini hari ini juga.”
Maka ia pun mengemasi buntalannya. Namun ketika telah keluar gerbang, hatinya terasa berat meninggalkan segala keberuntungan dan membelakangi kota tempat segala sesuatunya berjalan begitu baik baginya.
Ia tiba di kolam tempat ia dahulu berkenalan dengan para bebek; dan tepat saat itu induk bebek, yang anak-anaknya pernah ia ampuni, sedang duduk di tepi merapikan bulu-bulunya dengan paruh. Ia segera mengenalinya kembali, dan bertanya mengapa ia menundukkan kepalanya begitu murung.
“Engkau tak akan terkejut jika mendengar apa yang menimpaku,” jawab penjahit, lalu ia menceritakan nasibnya.
“Kalau hanya itu,” kata induk bebek, “kami dapat menolongmu. Mahkota itu jatuh ke dalam air, dan kini terbaring di dasar kolam; sebentar lagi kami akan membawanya kembali untukmu. Sementara itu, bentangkan saja saputanganmu di tepi.”
Ia pun menyelam bersama kedua belas anaknya, dan dalam lima menit ia muncul kembali, membawa mahkota di atas sayapnya, sementara kedua belas anak bebek berenang di sekeliling, menahan mahkota itu dengan paruh mereka, membantu mengangkatnya. Mereka berenang ke tepi dan meletakkan mahkota itu di atas saputangan.
Tak seorang pun dapat membayangkan betapa agungnya mahkota itu; ketika matahari memantul padanya, ia berkilauan laksana seratus ribu permata merah. Penjahit mengikat saputangan itu di keempat sudutnya, dan membawanya kepada Raja, yang dipenuhi sukacita, lalu menggantungkan rantai emas di leher penjahit.
Ketika tukang sepatu melihat bahwa upaya pertamanya gagal, ia merencanakan yang kedua. Ia kembali menghadap Raja dan berkata, “Baginda Raja, penjahit itu menjadi semakin lancang; ia kini membual bahwa ia akan menyalin seluruh istana kerajaan dalam lilin, dengan segala yang ada di dalamnya maupun di luarnya, baik yang dapat dipindahkan maupun yang melekat tetap.”
Raja pun memanggil penjahit dan memerintahkannya untuk menyalin seluruh istana dalam lilin, dengan segala yang berkaitan dengannya, baik yang bergerak maupun yang tidak, di dalam maupun di luar; dan jika ia gagal melakukannya, atau jika bahkan satu paku di dinding saja hilang, ia akan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah seumur hidup.
Penjahit berpikir, “Semakin buruk saja! Siapa yang sanggup menanggung ini?” Lalu ia memanggul buntalannya dan pergi.
Ketika ia tiba di pohon berongga, ia duduk dan menundukkan kepala. Lebah-lebah beterbangan keluar, dan Ratu Lebah bertanya apakah lehernya kaku, karena ia menundukkan kepala begitu rupa.
“Ah, tidak,” jawab penjahit, “ada sesuatu yang jauh lebih berat menekan diriku,” lalu ia menceritakan apa yang dituntut Raja darinya.
Lebah-lebah mulai berdengung dan berdesis sesama mereka, lalu Ratu Lebah berkata, “Pulanglah dulu, tetapi kembalilah besok pada saat yang sama, dan bawalah sehelai kain besar, maka semuanya akan baik.”
Maka ia pun kembali. Namun lebah-lebah itu segera terbang menuju istana kerajaan, masuk lewat jendela-jendela yang terbuka, merayapi setiap sudut, dan memeriksa segalanya dengan cermat. Lalu mereka kembali dan mulai membuat tiruan istana dari lilin dengan begitu cepat, hingga siapa pun yang melihat akan mengira bangunan itu sedang tumbuh di hadapan matanya.
Menjelang malam, segalanya telah selesai, dan ketika penjahit datang keesokan harinya, seluruh bangunan megah itu sudah ada di sana, tanpa satu paku di dinding atau satu genting di atap pun yang terlewat. Dan bangunan itu halus pula, putih laksana salju, serta harum manis seperti madu.
Penjahit membungkusnya hati-hati dengan kain dan membawanya kepada Raja, yang tak hentinya mengagumi, menempatkannya di aula terbesarnya, dan sebagai gantinya menghadiahi penjahit dengan sebuah rumah batu yang besar.
Namun tukang sepatu itu tidak menyerah. Untuk ketiga kalinya ia menghadap Raja dan berkata,
“Baginda Raja, telah sampai ke telinga penjahit itu bahwa tak ada air yang memancar di halaman istana, dan ia telah membual bahwa ia akan membuat air mancur itu muncul di tengah halaman, setinggi seorang laki-laki, sebening kristal.”
Maka Raja memanggil penjahit dan bersabda, “Jika besok air tidak memancar di halaman istanaku sebagaimana engkau janjikan, algojo akan memenggal kepalamu di tempat itu juga.”
Penjahit malang itu tak perlu berpikir lama, ia segera bergegas keluar gerbang, dan karena kali ini taruhannya adalah hidup dan mati, air mata pun mengalir di pipinya.
Ketika ia berjalan penuh duka, anak kuda yang dahulu pernah ia lepaskan, yang kini telah menjadi kuda cokelat indah, melompat ke arahnya.
“Waktunya telah tiba,” katanya kepada penjahit, “kala aku dapat membalas kebaikanmu. Aku sudah tahu apa yang kau butuhkan, dan sebentar lagi kau akan mendapat pertolongan. Naiklah ke punggungku, ia mampu menanggung dua orang sepertimu.”
Keberanian penjahit pun kembali. Ia melompat naik sekali hentak, dan kuda itu melesat secepat kilat menuju kota, hingga ke halaman istana. Ia berpacu tiga kali mengelilinginya, dan pada putaran ketiga kuda itu rebah dengan keras.
Namun pada saat yang sama, terdengarlah gelegar guntur yang dahsyat, segumpal tanah di tengah halaman meledak ke udara bagaikan bola meriam, melesat melewati istana; dan sesaat kemudian memancar sebuah semburan air, setinggi seorang laki-laki berkuda, sebening kristal, dan cahaya matahari pun menari di atasnya.
Ketika Raja menyaksikan itu, ia berdiri takjub, lalu datang dan memeluk penjahit di hadapan semua orang.
Namun, keberuntungan itu tidak bertahan lama. Raja memiliki banyak putri, yang satu lebih cantik dari yang lain, tetapi ia tidak mempunyai seorang putra pun. Maka tukang sepatu yang dengki itu pergi untuk keempat kalinya menghadap Raja, dan berkata, “Baginda Raja, kesombongan penjahit itu belum reda. Kini ia membual bahwa jika ia menghendaki, ia dapat mendatangkan seorang putra bagi Baginda melalui udara.”
Raja pun memanggil penjahit, dan bersabda, “Jika dalam sembilan hari engkau mendatangkan seorang putra kepadaku, engkau akan memperoleh putriku yang sulung sebagai istri.”
“Ganjarannya sungguh besar,” pikir penjahit kecil, “seseorang tentu rela berbuat sesuatu demi itu. Tetapi ceri-ceri itu tumbuh terlalu tinggi bagiku; jika aku mencoba memanjatnya, dahan akan patah di bawahku, dan aku akan jatuh.”
Ia pulang, duduk bersila di atas meja kerjanya, dan merenungkan apa yang harus dilakukan.
“Ini mustahil,” serunya akhirnya, “lebih baik aku pergi; toh aku tak bisa hidup tenang di sini.” Ia pun mengikat buntalannya dan bergegas keluar menuju gerbang.
Ketika sampai di padang rumput, ia melihat sahabat lamanya, bangau, yang berjalan hilir-mudik seperti seorang filsuf. Kadang ia berhenti, memperhatikan seekor katak dengan saksama, lalu menelannya. Bangau itu datang menghampiri dan memberi salam.
“Aku melihat engkau membawa buntalan di punggungmu. Mengapa engkau meninggalkan kota?” tanyanya.
Penjahit menceritakan apa yang dituntut Raja darinya, bagaimana ia tak sanggup melakukannya, dan meratapi nasibnya.
“Jangan biarkan rambutmu memutih karenanya,” kata bangau, “aku akan menolongmu keluar dari kesulitan ini. Sudah lama aku membawa bayi-bayi berselimut kain ke dalam kota, maka untuk sekali ini aku pun dapat menjemput seorang pangeran kecil dari sumur. Pulanglah dengan tenang. Sembilan hari dari sekarang datanglah ke istana kerajaan, dan aku akan datang ke sana.”
Penjahit kecil pun pulang kembali, dan pada waktu yang ditentukan ia sudah berada di istana. Tak lama kemudian bangau datang terbang dan mengetuk jendela. Penjahit membukanya, dan Saudara Kaki-Panjang masuk dengan hati-hati, melangkah anggun di atas lantai marmer yang licin. Di paruhnya ia membawa seorang bayi yang secantik malaikat, yang mengulurkan tangan mungilnya kepada Sang Ratu.
Bangau meletakkan bayi itu di pangkuannya, dan Sang Ratu mengelus serta menciumnya, hatinya dipenuhi kegembiraan.
Sebelum bangau terbang pergi, ia menurunkan kantong perjalanannya dan menyerahkannya kepada Sang Ratu. Di dalamnya ada bungkusan-bungkusan kecil berisi manisan warna-warni, yang dibagikan kepada para putri kecil. Namun putri sulung tidak mendapat bagian, sebab baginya telah disediakan penjahit riang itu sebagai suami.
“Sepertinya,” katanya, “aku telah memenangkan hadiah tertinggi. Ibuku memang benar, ia selalu berkata bahwa siapa pun yang percaya pada Tuhan dan selalu dinaungi keberuntungan, tak akan pernah gagal, tak akan pernah gagal.”
Tukang sepatu pun harus membuat sepatu yang dikenakan penjahit kecil pada pesta pernikahan, setelah itu ia diperintahkan meninggalkan kota selamanya.
Jalan menuju hutan membawanya ke tiang gantungan. Lelah oleh amarah, dendam, dan teriknya hari, ia merebahkan diri. Ketika matanya terpejam dan hampir tertidur, dua burung gagak turun dari kepala orang-orang yang tergantung di sana, dan mematuki kedua matanya hingga buta.
Dalam kegilaannya ia berlari masuk ke dalam hutan, dan pastilah mati kelaparan di sana, sebab tak seorang pun pernah melihatnya lagi atau mendengar kabarnya.

Komentar
Posting Komentar