KHM 84 - Hans heiratet (Hans Menikah)

 

Hans Menikah

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda petani bernama Hans. Sepupunya ingin mencarikan dia seorang istri yang kaya. Maka ia mendudukkan Hans di belakang tungku, dan dibuatnya tungku itu sangat panas.

Lalu ia mengambil sebuah periuk berisi susu dan banyak roti putih, memberinya sekeping uang logam baru yang berkilau di tangannya, dan berkata, “Hans, genggam uang itu erat-erat, remukkan roti putih ke dalam susu, dan tetaplah duduk di sini, jangan bergeser dari tempatmu sampai aku kembali.”

“Baik,” jawab Hans, “aku akan melakukan semuanya.”

Lalu sang pelamar mengenakan celana tua yang penuh tambalan, pergi kepada putri seorang petani kaya di desa sebelah, dan berkata, “Maukah kau menikah dengan keponakanku Hans? Kau akan mendapatkan seorang pria yang jujur dan bijaksana, yang akan cocok denganmu.”

Ayah yang tamak itu bertanya, “Bagaimana dengan keadaan hartanya? Apakah ia punya roti untuk dipatahkan?”

“Sahabatku yang baik,” jawab sang pelamar, “keponakanku yang muda ini memiliki tempat yang hangat, sedikit uang di tangan, dan banyak roti untuk dipatahkan. Selain itu, ia memiliki tambalan sebanyak yang kupunya juga.”
(Sambil berkata demikian, ia menepuk-nepuk tambalan di celananya; sebab di daerah itu, sebidang tanah kecil pun disebut tambalan).

“Jika engkau berkenan bersusah payah pulang bersamaku, engkau akan segera melihat bahwa semuanya benar adanya,” katanya lagi.

Maka si kikir itu tidak ingin melewatkan kesempatan baik ini, dan berkata, “Kalau begitu, aku tidak punya alasan lagi untuk menolak pernikahan ini.”

Maka pernikahan pun dirayakan pada hari yang telah ditentukan. Dan ketika sang istri muda pergi keluar rumah untuk melihat harta milik mempelai pria, Hans menanggalkan pakaian terbaiknya dan mengenakan baju kerja penuh tambalan, seraya berkata, “Aku bisa saja merusak pakaian bagusku.”

Lalu mereka berjalan bersama, dan setiap kali tampak batas tanah, atau ladang dan padang rumput yang terbagi satu sama lain, Hans menunjuk dengan jarinya, kemudian menepuk sebuah tambalan besar ataupun kecil pada bajunya, dan berkata, “Tambalan itu milikku, dan yang itu juga, kekasihku, lihatlah baik-baik.”

Maksudnya agar istrinya jangan menatap luasnya tanah di depan mata, melainkan memandang pakaiannya, yang memang miliknya sendiri.

“Apakah kau benar-benar hadir di pesta pernikahan?”

“Ya, sungguh aku ada di sana, dan dalam busana lengkap. Penutup kepalaku terbuat dari salju; lalu matahari muncul, dan itu pun mencair. Mantelku terbuat dari jaring laba-laba, dan aku harus melewati semak berduri yang merobeknya dariku. Sepatuku terbuat dari kaca, dan aku menubruk sebuah batu hingga terdengar bunyi klink, lalu pecah menjadi dua.”

Catatan Penerjemah
1. Tambalan / Placken
Dalam bahasa Jerman, Placken bisa berarti “tambalan di baju” sekaligus “tanah kecil.” Jadi ketika Hans bilang “tambalan itu milikku,” sebenarnya dia menunjuk kain tambalan di bajunya, bukan lahan pertanian. Permainan kata ini yang bikin cerita terasa kocak sekaligus menyindir.

2. Roti dan Susu / einzubrock(en)
Ungkapan Jerman einzubrock(en) artinya “mencuil roti ke dalam susu/kuah.” Tapi juga dipakai sebagai kiasan: punya cukup makanan. Jadi ayah si gadis sebenarnya menanyakan apakah Hans cukup kaya untuk hidup. Aku terjemahkan sebagai “punya roti untuk dipatahkan” supaya tetap terdengar wajar, tapi tetap mengingatkan kita pada adegan roti dan susu tadi.

3. Penutup Dongeng (Narator)
Bagian akhir yang absurd, hiasan kepala dari salju, mantel dari jaring laba-laba, sepatu dari kaca yang pecah adalah gaya khas dongeng Grimm. Seolah-olah si pencerita juga hadir di pesta. Lucu, aneh, dan memang sengaja dibuat begitu untuk menutup cerita dengan nada jenaka.

Komentar