KHM 79 - Die Wassernixe (Roh Air)

 

Roh Air

Seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan, pada suatu ketika, sedang bermain di dekat sebuah sumur. Dan sementara mereka asyik bermain demikian, keduanya terjatuh ke dalamnya.

Di dasar sumur itu tinggal seorang roh air, yang berkata, “Sekarang kalian menjadi milikku, dan kalian harus bekerja keras untukku!”

Lalu ia membawa mereka pergi bersamanya. Kepada si gadis, ia memberikan rami kotor dan kusut untuk dipintal, dan ia harus menimba air dengan sebuah ember yang berlubang. Sedangkan si anak lelaki diperintah untuk menebang sebatang pohon dengan kapak yang tumpul. Makanan mereka tak lain hanyalah pangsit yang keras seperti batu.

Akhirnya, anak-anak itu menjadi begitu tidak sabar, sehingga mereka menunggu hingga suatu hari Minggu, saat roh air berada di gereja, lalu mereka pun melarikan diri. Namun ketika kebaktian usai, roh air melihat bahwa burung-burungnya telah terbang, dan ia pun menyusul mereka dengan langkah yang besar dan panjang.

Anak-anak itu melihatnya dari kejauhan, dan si gadis melemparkan sebuah sikat di belakangnya, yang seketika menjelma menjadi sebuah gunung sikat raksasa penuh dengan ribuan duri, yang harus dipanjat roh air dengan susah payah. Namun akhirnya, ia berhasil melewatinya.

Melihat hal itu, si anak lelaki melemparkan sebuah sisir di belakangnya, yang menjelma menjadi sebuah gunung sisir besar yang permukaannya dipenuhi seribu baris gundukan terjal. Tetapi roh air berhasil menjaga keseimbangan di atasnya, dan pada akhirnya menyeberanginya juga.

Lalu si gadis melemparkan sebuah cermin di belakangnya, yang seketika menjelma menjadi sebuah gunung kaca, dan begitu licin hingga mustahil bagi roh air untuk menyeberanginya.

Maka ia berpikir, “Aku akan cepat pulang mengambil kapakku, lalu membelah gunung kaca ini menjadi dua.”

Namun jauh sebelum ia kembali, dan sebelum ia sempat membelah kaca itu, anak-anak sudah melarikan diri sangat jauh, dan roh air pun terpaksa kembali ke sumurnya.

Komentar