KHM 72 - Der Wolf und der Mensch (Serigala dan Manusia)

Serigala dan Manusia

Dahulu kala, rubah sedang berbicara kepada serigala tentang kekuatan manusia: betapa tak ada binatang yang sanggup melawannya, dan betapa semua hewan terpaksa harus memakai kelicikan agar dapat menyelamatkan diri darinya.

Maka serigala menjawab, “Seandainya aku hanya sekali saja diberi kesempatan melihat manusia, aku pasti akan menyerangnya, apa pun yang terjadi.”

“Aku bisa menolongmu untuk itu,” kata rubah.

“Datanglah kepadaku besok pagi-pagi buta, dan aku akan memperlihatkan seorang manusia kepadamu.”

Maka keesokan harinya, serigala pun datang tepat waktu. Rubah lalu membawanya ke jalan tempat para pemburu biasa lewat setiap hari.

Mula-mula lewatlah seorang prajurit tua yang telah lama diberhentikan dari tugasnya.
“Itukah manusia?” tanya serigala.
“Bukan,” jawab rubah, “itu dulu manusia.”

Kemudian lewatlah seorang anak kecil yang sedang pergi ke sekolah.
“Itukah manusia?” tanya serigala lagi.
“Bukan, itu akan menjadi manusia,” jawab rubah.

Akhirnya muncullah seorang pemburu, dengan senapan bermata dua tersandang di punggungnya, dan sebilah pedang tergantung di sisinya.

Kata rubah kepada serigala, “Lihatlah, itulah manusia. Engkau harus menyerangnya, tetapi aku sendiri akan lari bersembunyi ke dalam liangku.”
Maka serigala pun segera menerjang manusia itu.

Ketika sang pemburu melihatnya, ia berkata, “Sayang sekali aku tidak memuat peluru di senapanku,” lalu ia mengangkat senjata itu, dan menembakkan butiran timah kecil ke wajah serigala.

Serigala meringis kesakitan, namun ia tidak gentar, dan kembali menyerang. Maka pemburu pun melepaskan tembakan kedua. Serigala menelan perihnya, lalu kembali menerjang sang pemburu. Tetapi pemburu itu mencabut pedang bercahaya dari sisinya, dan memberinya beberapa sabetan ke kanan dan ke kiri, hingga serigala, berlumuran darah di sekujur tubuh, melolong kesakitan dan lari kembali kepada rubah.

“Bagaimana, saudaraku serigala,” kata rubah, “apa kabar perjumpaanmu dengan manusia?”

“Ah!” jawab serigala, “tak pernah kubayangkan kekuatan manusia begitu dahsyat! Mula-mula ia mengambil tongkat dari pundaknya, meniupnya, dan sesuatu pun melesat ke wajahku yang membuatku perih bukan kepalang. Lalu ia meniup lagi ke dalam tongkat itu, dan benda itu meluncur ke hidungku bagaikan kilat dan hujan es. Ketika aku sudah begitu dekat dengannya, ia mengeluarkan tulang rusuk putih dari sisinya, dan memukuli aku dengannya, hingga aku nyaris mati terkapar.”

“Lihatlah, betapa pembualnya dirimu!” kata rubah. “Engkau melemparkan kapakmu begitu jauh, hingga tak sanggup kau ambil kembali!”

Komentar