Dahulu kala, hiduplah seorang penyihir perempuan yang memiliki tiga orang putra. Ketiganya saling menyayangi seperti saudara sejati, tetapi sang perempuan tua tidak mempercayai mereka. Ia yakin anak-anak itu ingin merebut kekuatannya.
Maka ia mengubah anak sulung menjadi seekor elang. Elang itu terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat melayang berputar tinggi di langit. Anak kedua diubahnya menjadi seekor paus yang hidup di laut dalam; hanya sesekali tampak olehnya bila ia menyemburkan air yang menjulang tinggi ke udara. Keduanya hanya boleh kembali ke wujud manusia selama dua jam setiap hari.
Putra bungsu sangat takut bila dirinya juga akan dijadikan binatang buas yang mengerikan, mungkin beruang, atau serigala. Maka diam-diam ia melarikan diri.
Ia pernah mendengar kabar tentang seorang putri raja yang terkena sihir, terkurung di Istana Matahari Emas, dan sedang menunggu seseorang untuk membebaskannya. Namun siapa pun yang mencoba menolongnya mempertaruhkan nyawanya. Sudah tiga puluh kurang satu pemuda menemui ajal yang menyedihkan, dan kini hanya tersisa satu orang lagi yang boleh mencoba; setelah itu, tak seorang pun diperkenankan.
Karena hatinya tidak mengenal rasa takut, pemuda itu tergerak untuk mencari Istana Matahari Emas. Lama ia mengembara, namun tak juga menemukannya, hingga suatu hari ia tanpa sengaja masuk ke dalam sebuah hutan besar, dan tidak tahu jalan keluar.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat dua raksasa. Mereka melambaikan tangan kepadanya. Ketika ia mendekat, keduanya berkata,
“Kami sedang bertengkar memperebutkan sebuah topi, dan tidak tahu siapa di antara kami yang berhak memilikinya. Karena kekuatan kami sama, tak seorang pun bisa mengalahkan yang lain. Orang kecil lebih cerdik daripada kami, maka biarlah kau yang memutuskan.”
“Bagaimana mungkin kalian bertengkar hanya karena sebuah topi tua?” tanya si pemuda.
“Engkau tidak tahu betapa berharganya benda ini!” jawab mereka. “Topi ini adalah topi pengabul keinginan. Siapa pun yang memakainya dapat berangan-angan berada di tempat mana pun yang ia kehendaki, dan seketika itu juga ia akan sampai di sana.”
“Berikan padaku topi itu,” kata si pemuda. “Aku akan pergi agak menjauh. Saat aku memanggil kalian, kalian harus berlari mendekat. Siapa yang lebih dulu sampai kepadaku, dialah yang berhak memiliki topi ini.”
Ia pun mengenakan topi itu dan melangkah pergi. Tetapi begitu teringat pada putri raja, ia melupakan kedua raksasa dan terus berjalan tanpa henti.
Akhirnya, ia menarik napas panjang dari lubuk hatinya, lalu berseru,
“Ah, seandainya saja aku sudah berada di Istana Matahari Emas!”
Dan nyaris belum selesai ia mengucapkan kata-kata itu, ia telah berdiri di atas sebuah gunung tinggi, tepat di depan gerbang istana.
Ia pun masuk dan berkeliling melewati semua ruangan, hingga di ruangan terakhir ia menemukan sang putri raja. Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika melihatnya. Wajah sang putri pucat kelabu dan penuh keriput, matanya sayu dan rabun, rambutnya merah menyala.
“Apakah engkau putri raja yang kecantikannya dipuji di seluruh dunia?” serunya.
“Ah,” jawab sang putri, “inilah rupa yang tampak di mata manusia; mereka hanya dapat melihatku dalam keadaan buruk seperti ini. Tetapi supaya engkau tahu seperti apakah wujudku yang sesungguhnya, lihatlah ke dalam cermin ini, cermin ini tidak dapat ditipu; ia akan menampakkan gambarku yang sejati.”
Ia pun menyerahkan sebuah cermin ke tangannya, dan di dalamnya tampaklah bayangan seorang gadis yang paling cantik di muka bumi, dengan air mata yang mengalir jatuh di pipinya karena kesedihan.
Maka berkatalah si pemuda, “Bagaimana engkau dapat terbebas dari sihir ini? Aku tidak gentar menghadapi bahaya apa pun.”
Sang putri menjawab, “Barang siapa mendapatkan bola kristal dan mengangkatnya di hadapan sang penyihir, kuasanya akan musnah, dan aku akan kembali ke wujud asliku. Ah, sudah begitu banyak yang mencoba dan menemui ajalnya, dan engkau masih begitu muda; hatiku sedih memikirkan bahwa engkau harus menghadapi bahaya sebesar itu.”
“Tak ada yang dapat menahan aku untuk melakukannya,” kata si pemuda. “Katakan padaku apa yang harus kuperbuat.”
“Aku akan memberitahumu segalanya,” ujar sang putri raja. “Ketika engkau menuruni gunung tempat istana ini berdiri, engkau akan mendapati seekor banteng liar yang menjaga di dekat sebuah mata air. Kau harus melawannya, dan bila nasib berpihak hingga kau berhasil membunuhnya, maka dari tubuhnya akan muncul seekor burung berapi, yang di dalam tubuhnya tersembunyi sebuah telur bernyala. Di dalam telur itulah bola kristal tersimpan, laksana kuning telurnya. Tetapi burung itu tidak akan melepaskan telur itu kecuali dipaksa. Dan jika telur itu jatuh ke tanah, ia akan menyala membara dan membakar apa pun di sekitarnya, bahkan es pun akan meleleh karenanya, dan bersama itu bola kristal pun akan hancur. Jika itu terjadi, segala usahamu akan sia-sia.”
Maka turunlah si pemuda menuju mata air, dan di sana seekor banteng liar berdiri, menggeram dan mengembuskan napas berat kepadanya. Setelah pertarungan panjang dan sengit, akhirnya ia berhasil menancapkan pedangnya ke tubuh binatang itu, dan banteng pun roboh tak bernyawa. Sekejap kemudian, dari dalam tubuhnya muncul seekor burung berapi, yang segera mengepakkan sayapnya hendak terbang menjauh.
Namun burung berapi itu belum sempat pergi jauh. Dari balik awan, saudara si pemuda, elang yang selalu berkelana di langit menukik turun, mengejarnya hingga ke lautan, dan mematukinya dengan paruh yang tajam.
Burung itu berusaha melawan, tetapi di ambang keputusasaan ia terpaksa melepaskan telur yang dikandungnya.
Akan tetapi, telur itu tidak jatuh ke laut, melainkan menimpa sebuah pondok nelayan yang berdiri di tepi pantai. Seketika pondok itu mengepulkan asap, dan api hampir saja melahapnya.
Namun tiba-tiba gelombang laut bergulung setinggi rumah, menyapu pantai dan merendam api hingga padam. Itu adalah ulah saudara lainnya, si paus yang berenang mendekat dan mendorong air laut agar melindungi pondok dari kobaran api.
Setelah api padam, si pemuda mencari telur itu. Dengan hati-hati ia menemukannya, masih utuh. Cangkangnya memang retak karena dinginnya air yang tiba-tiba menyelubunginya, tetapi bola kristal di dalamnya tidak terluka sedikit pun.
Ketika si pemuda datang menghadap sang penyihir dan mengangkat bola kristal di hadapannya, penyihir itu berkata, “Kekuatanku telah musnah, dan mulai saat ini engkau adalah Raja dari Istana Matahari Emas. Dengan bola ini engkau juga dapat mengembalikan saudara-saudaramu ke wujud manusia mereka.”
Maka si pemuda pun bergegas menemui sang putri raja. Saat ia memasuki kamar, putri itu telah berdiri di sana, memancarkan kecantikan sejatinya yang penuh cahaya. Dengan sukacita mereka bertukar cincin satu sama lain.

Komentar
Posting Komentar