KHM 194 - Die Kornähre (Bulir Gandum)

 

Bulir Gandum

Pada masa silam, ketika Tuhan sendiri masih berjalan di muka bumi, kesuburan tanah jauh lebih besar daripada sekarang. Saat itu, bulir-bulir gandum tidak menghasilkan lima puluh atau enam puluh kali lipat, melainkan empat atau lima ratus kali lipat. Gandum tumbuh dari dasar batang hingga ke puncaknya, dan sepanjang batang itulah memanjang pula bulirnya.

 

Namun begitulah tabiat manusia: ketika mereka hidup terlalu berkelimpahan, mereka tak lagi menghargai anugerah yang datang dari Tuhan, melainkan menjadi acuh dan lalai.

 

Suatu hari, seorang perempuan melintas di ladang gandum. Anaknya yang masih kecil berlari di sisinya, dan tiba-tiba terjatuh ke dalam genangan air, hingga gaunnya ternoda lumpur. Sang ibu pun merobek segenggam bulir gandum yang indah, lalu menyeka gaun itu dengan bulir-bulir tersebut.

 

Ketika Tuhan, yang pada saat itu lewat di sana, melihat hal itu, Ia murka dan bersabda,
“Mulai kini batang gandum takkan lagi berbulir; manusia sudah tidak layak menerima karunia surgawi.”

 

Orang-orang yang mendengar perkataan itu terkejut dan jatuh berlutut. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar Ia berkenan meninggalkan sesuatu pada batang gandum, sekalipun manusia tak pantas lagi, demi burung-burung kecil yang tak berdosa, yang kelak akan kelaparan bila tak ada bulir tersisa.

 

Tuhan, yang telah lebih dahulu melihat penderitaan mereka, pun berbelas kasih, dan mengabulkan permohonan itu. Maka bulir-bulir tetap dibiarkan, seperti yang kini tumbuh adanya.

 

Catatan penerjemah: 1.Dalam naskah Jerman asli digunakan kata Korn (biji-bijian) dan Ähre (bulir). Pada masa Grimm, Korn merujuk pada gandum dan sereal sejenis, bukan jagung (maize) seperti arti corn dalam bahasa Inggris modern. Karena itu dalam terjemahan ini dipakai istilah gandum dan bulir gandum.

2. Dalam konteks ini, "kali lipat" adalah cara orang zaman dahulu menyebut hasil panen: satu butir yang ditanam bisa menghasilkan sekian butir baru. Jadi "lima puluh atau enam puluh kali lipat" berarti dari satu biji gandum bisa lahir lima puluh hingga enam puluh biji baru; sedangkan di zaman kuno yang digambarkan dalam dongeng, hasilnya jauh lebih melimpah, empat ratus sampai lima ratus biji dari satu bulir.

Komentar