Pada masa silam, ketika Tuhan sendiri masih berjalan di muka bumi, kesuburan
tanah jauh lebih besar daripada sekarang. Saat itu, bulir-bulir gandum tidak
menghasilkan lima puluh atau enam puluh kali lipat, melainkan empat atau lima
ratus kali lipat. Gandum tumbuh dari dasar batang hingga ke puncaknya, dan
sepanjang batang itulah memanjang pula bulirnya.
Namun begitulah tabiat manusia: ketika mereka
hidup terlalu berkelimpahan, mereka tak lagi menghargai anugerah yang datang
dari Tuhan, melainkan menjadi acuh dan lalai.
Suatu hari, seorang perempuan melintas di ladang
gandum. Anaknya yang masih kecil berlari di sisinya, dan tiba-tiba terjatuh ke
dalam genangan air, hingga gaunnya ternoda lumpur. Sang ibu pun merobek
segenggam bulir gandum yang indah, lalu menyeka gaun itu dengan bulir-bulir
tersebut.
Ketika Tuhan, yang pada saat itu lewat di sana, melihat hal itu, Ia murka
dan bersabda,
“Mulai kini batang gandum takkan lagi berbulir; manusia sudah tidak layak
menerima karunia surgawi.”
Orang-orang yang mendengar perkataan itu
terkejut dan jatuh berlutut. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar Ia
berkenan meninggalkan sesuatu pada batang gandum, sekalipun manusia tak pantas
lagi, demi burung-burung kecil yang tak berdosa, yang kelak akan kelaparan bila
tak ada bulir tersisa.
Tuhan, yang telah lebih dahulu melihat
penderitaan mereka, pun berbelas kasih, dan mengabulkan permohonan itu. Maka
bulir-bulir tetap dibiarkan, seperti yang kini tumbuh adanya.
2. Dalam konteks ini, "kali lipat" adalah cara orang zaman dahulu menyebut hasil panen: satu butir yang ditanam bisa menghasilkan sekian butir baru. Jadi "lima puluh atau enam puluh kali lipat" berarti dari satu biji gandum bisa lahir lima puluh hingga enam puluh biji baru; sedangkan di zaman kuno yang digambarkan dalam dongeng, hasilnya jauh lebih melimpah, empat ratus sampai lima ratus biji dari satu bulir.

Komentar
Posting Komentar