KHM 110 - Der Jude im Dorn (Yahudi Di Dalam Semak Berduri)

 

Yahudi Di Dalam Semak Berduri

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki kaya yang memiliki seorang pelayan yang mengabdi kepadanya dengan rajin dan jujur. Setiap pagi, ia selalu yang pertama bangun dari tempat tidur, dan setiap malam yang terakhir pergi beristirahat. Bila ada pekerjaan sulit yang tak seorang pun mau melakukannya, dialah yang pertama bersedia mengerjakannya. Lebih dari itu, ia tak pernah mengeluh, selalu menerima segala sesuatu dengan lapang hati, dan senantiasa ceria.

Ketika genap setahun, tuannya tidak memberinya upah. Sebab dalam hati ia berkata, “Itulah cara paling cerdik; aku akan menghemat sesuatu, dan ia tak akan pergi, melainkan tetap tinggal tenang dalam pekerjaanku.” Sang pelayan tidak berkata apa-apa, melainkan bekerja pada tahun kedua sama seperti pada tahun pertama; dan ketika pada akhir tahun itu pun ia tak menerima upah, ia tetap merasa bahagia, dan terus bertahan.

Ketika tahun ketiga pun telah berlalu, sang majikan berpikir sejenak, memasukkan tangannya ke saku, namun tak mengeluarkan apa-apa. Barulah akhirnya sang pelayan berkata, “Tuan, selama tiga tahun aku telah melayani tuan dengan jujur. Mohon berbaik hati memberiku apa yang semestinya menjadi hakku, sebab aku ingin pergi dan melihat-lihat dunia ini lebih luas lagi.”

“Baiklah, sahabatku yang baik,” jawab si kikir tua, “engkau telah bekerja dengan rajin, maka karena itu engkau akan diberi ganjaran dengan sukacita.” Lalu ia memasukkan tangannya ke dalam saku, namun hanya menghitung tiga keping farthing, sambil berkata, “Nah, ini farthing untuk setiap tahun; itu upah yang besar dan murah hati, yang tak akan kaudapatkan dari banyak majikan.”

Pelayan yang jujur itu, yang tak begitu mengerti soal uang, memasukkan ‘harta’nya ke dalam saku dan berpikir, “Ah! Sekarang kantongku penuh, untuk apa lagi aku bersusah payah memeras keringat?” Maka pergilah ia, naik bukit dan turun lembah, bernyanyi dan melompat dengan hati riang.

Tak lama kemudian, saat ia sedang berjalan melewati semak belukar, muncullah seorang lelaki kecil dari baliknya dan memanggilnya, “Hendak ke mana, saudaraku yang riang? Kulihat engkau tak membawa banyak beban pikiran.”

“Mengapa aku harus bersedih?” jawab sang pelayan. “Aku punya cukup bekal; upah tiga tahun sedang begemerincing di dalam sakuku.”

“Berapa banyak hartamu itu?” tanya si kurcaci.

“Berapa? Tiga keping farthing, semua jadi satu.”

“Lihatlah,” kata si kurcaci, “aku ini orang miskin yang kekurangan. Berikanlah kepadaku tiga farthing itu; aku tak lagi mampu bekerja, sedangkan engkau masih muda dan dapat dengan mudah mencari nafkah.”

Dan karena pelayan itu berhati baik dan merasa iba pada si tua, ia pun memberinya ketiga farthing itu sambil berkata, “Ambillah, demi nama Surga, aku takkan rugi karenanya.”

Maka berkatalah si lelaki kecil itu, “Karena kulihat hatimu baik, akan kuberikan padamu tiga permintaan, satu untuk setiap farthing; semuanya akan terkabul.”

“Ah begitu?” kata si pelayan, “rupanya engkau salah satu dari mereka yang bisa membuat keajaiban! Baiklah, jika memang begitu, pertama-tama aku menginginkan sebuah senapan yang akan mengenai sasaran apa pun yang kuarahkan; kedua, sebuah biola yang bila kumainkan akan memaksa siapa pun yang mendengarnya untuk menari; dan ketiga, agar bila aku meminta sesuatu dari seseorang, ia takkan sanggup menolak.”

“Semua itu akan kauperoleh,” kata si kurcaci; lalu ia mengulurkan tangannya ke dalam semak, dan  bayangkan saja! Di sana sudah tergeletak sebuah biola dan sebuah senapan, siap seolah-olah memang dipesan untuknya. Semuanya ia berikan kepada sang pelayan, lalu berkata, “Apa pun yang kau minta suatu hari nanti, tak seorang pun di dunia ini akan mampu menolakmu.”

“Hidup ini! Apa lagi yang bisa diinginkan orang?” kata sang pelayan dalam hati, lalu ia pun melangkah riang ke depan.

Tak lama kemudian, ia bertemu seorang Yahudi berjanggut panjang seperti janggut kambing, yang sedang berdiri sambil mendengarkan kicau seekor burung yang bertengger di puncak pohon.

“Ya Tuhan,” serunya, “makhluk sekecil itu memiliki suara yang begitu nyaring! Andai saja itu milikku! Kalau saja ada yang menaburkan sedikit garam di ekornya!”

“Kalau itu saja yang kauinginkan,” kata sang pelayan, “burung itu akan segera turun ke sini.”
Lalu ia membidik, menarik pelatuk, dan burung itu pun jatuh ke dalam semak berduri.
“Pergilah, kau bajingan,” katanya kepada si Yahudi, “ambil sendiri burung itu untukmu!”

“Oh!” kata si Yahudi, “jangan sebut aku bajingan, tuanku, dan aku akan segera melakukannya. Aku akan mengambilnya sendiri, sebab engkau memang telah mengenainya.”
Maka ia pun berbaring di tanah dan mulai merangkak masuk ke dalam semak.

Ketika ia sudah terperangkap di antara duri-duri, selera humor sang pelayan yang baik itu muncul, dan ia pun mengambil biolanya lalu mulai memainkan nada. Seketika, kaki si Yahudi mulai bergerak, melompat ke udara, dan semakin biola itu dimainkan, semakin cepatlah tarian itu. Namun duri-duri itu merobek jubahnya yang lusuh, menyisir janggutnya, serta menusuk dan mencabik-cabiknya di sekujur tubuh.

“Aduh, aduh!” teriak si Yahudi, “apa gunanya bagiku permainan biolamu itu? Berhentilah, tuanku; aku tidak ingin menari!”

Namun sang pelayan tak menghiraukannya, dan berpikir, “Kau sudah cukup sering mencukur orang, sekarang biarlah semak duri yang melakukan hal yang sama padamu.” Lalu ia mulai bermain lagi, sehingga si Yahudi harus melompat lebih tinggi dari sebelumnya, dan potongan-potongan jubahnya tertinggal bergantung di duri.

“Celaka aku!” teriak si Yahudi. “Aku akan memberikan kepada tuan apa pun yang tuan minta asalkan berhenti bermain, sekantong penuh emas!”

“Kalau kau begitu murah hati,” kata sang pelayan, “aku akan berhenti bermain; tapi harus kuakui, kau menari dengan begitu baik hingga menjadi sebuah seni.”

Setelah mengambil kantong itu, ia pun melanjutkan perjalanannya.

Si Yahudi berdiri diam dan memandangi sang pelayan hingga ia berada cukup jauh dan lenyap dari pandangan, lalu ia pun berteriak sekuat tenaga,

“Kau pemusik menyedihkan, penggesek biola kedai bir! Tunggu saja sampai aku menangkapmu sendirian, akan kukejar kau sampai sol sepatumu terlepas! Dasar gelandangan! Masukkan saja lima keping farthing ke dalam mulutmu, barulah kau mungkin pantas dihargai tiga keping setengahpenny!”

Dan ia terus memakinya secepat lidahnya mampu mengucapkan kata-kata.

Setelah puas melampiaskan diri dengan cara itu dan mengatur napas kembali, ia pun berlari menuju kota untuk menghadap hakim.

“Yang mulia hakim,” katanya, “aku datang untuk mengajukan pengaduan. Lihatlah, betapa seorang bajingan telah merampok dan memperlakukanku dengan kejam di jalan umum! Batu di tanah pun akan merasa iba padaku; pakaianku tercabik-cabik, tubuhku penuh luka tusuk dan goresan, dan seluruh milikku, sekantong uang perak, setiap kepingnya lebih berharga dari yang sebelumnya telah lenyap. Demi Tuhan, masukkanlah orang itu ke dalam penjara!”

“Apakah itu seorang prajurit,” tanya sang hakim, “yang menebasmu dengan pedangnya?”

“Bukan sama sekali!” jawab si Yahudi. “Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah senapan di punggungnya dan sebuah biola tergantung di lehernya; si keparat itu mudah dikenali.”

Maka sang hakim mengutus orang-orangnya untuk mengejar pelaku, dan mereka pun menemukan sang pelayan yang baik hati itu, yang sedang berjalan perlahan, beserta kantong berisi uang tersebut.

Begitu ia dihadapkan ke hadapan hakim, ia berkata, “Aku tidak menyentuh si Yahudi itu, apalagi mengambil uangnya; ia memberikannya kepadaku dengan sukarela, supaya aku berhenti bermain biola karena ia tak sanggup mendengarkan musikku.”

“Ya Tuhan lindungilah kami!” teriak si Yahudi, “Kebohongannya setebal lalat yang menempel di dinding!”

Namun sang hakim pun tidak mempercayai pembelaan itu, dan berkata, “Itu pembelaan yang buruk, sebab tak ada seorang Yahudi pun yang akan melakukan hal demikian.”

Dan karena ia dianggap telah melakukan perampokan di jalan umum, sang hakim menjatuhkan hukuman gantung bagi sang pelayan.

Ketika ia sedang digiring pergi, si Yahudi kembali menjerit-jerit di belakangnya, “Dasar gelandangan! Anjing pemain biola! Kini kau akan menerima balasan yang memang pantas kau dapatkan!”

Sang pelayan berjalan tenang bersama algojo menaiki tangga gantungan. Namun, pada anak tangga terakhir, ia berpaling dan berkata kepada hakim, “Anugerahkan padaku satu permintaan saja sebelum aku mati.”

“Boleh, asal kau tidak meminta nyawamu,” jawab sang hakim.

“Aku tidak meminta nyawa,” kata si pelayan, “namun, sebagai permintaan terakhir, izinkan aku sekali lagi memainkan biolaku.”

Si Yahudi menjerit sejadi-jadinya, “Pembunuhan! Pembunuhan! Demi kebaikan, jangan izinkan! Jangan izinkan!”

Tetapi sang hakim berkata, “Mengapa tidak kuizinkan ia memperoleh kesenangan singkat ini? Sudah diberi izin, maka ia harus mendapatkannya.”

Selain itu, sang hakim memang tidak akan sanggup menolak karena anugerah yang telah dimiliki sang pelayan.

Maka si Yahudi pun berteriak, “Oh, celakalah aku! Ikat aku, ikat aku erat-erat!”

Sementara itu, sang pelayan yang baik hati menurunkan biola dari lehernya dan bersiap memainkannya.

Begitu gesekan pertama terdengar, semua orang mulai gemetar dan menggigil. Sang hakim, juru tulisnya, algojo, dan para pembantunya hingga tali yang hendak digunakan untuk mengikat si Yahudi terlepas dari tangan orang yang memegangnya.

Pada gesekan kedua, semua kaki terangkat, dan algojo melepaskan pegangan pada si pelayan yang baik hati, lalu bersiap ikut menari.

Pada gesekan ketiga, mereka semua melompat dan mulai berdansa, sang hakim dan si Yahudi justru menjadi yang paling piawai meloncat. Segera seluruh orang yang berkumpul di alun-alun karena rasa ingin tahu pun ikut menari; tua maupun muda, gemuk maupun kurus, semuanya berbaur. Anjing-anjing yang berlari ke sana pun berdiri di atas kaki belakang dan ikut berjingkrak.

Dan semakin lama ia bermain, semakin tinggi para penari itu melompat, hingga kepala mereka saling terbentur, dan teriakan-teriakan kesakitan pun terdengar di mana-mana.

Akhirnya sang hakim, terengah-engah, berseru, “Aku akan memberimu nyawamu, asal kau berhenti memainkan biola itu!”

Maka si pelayan yang baik hati merasa iba. Ia mengambil biolanya, mengalungkannya kembali di lehernya, lalu menuruni tangga gantungan.

Kemudian ia mendekati si Yahudi, yang tergeletak di tanah terengah-engah, dan berkata, “Hai penjahat, sekarang akuilah dari mana kau mendapatkan uang itu, atau aku akan mengambil biolaku dan mulai bermain lagi.”

“Aku mencurinya! Aku mencurinya!” teriaknya. “Tapi kau telah mendapatkannya dengan jujur.”

Maka sang hakim memerintahkan agar si Yahudi dibawa ke tiang gantungan dan digantung sebagai seorang pencuri.

Komentar